Menggunakan Fasilitas Kesehatan Orang Lain

Menggunakan Fasilitas Kesehatan Orang Lain

Assalamu’alaikum Ustadz

Begini, aku menanyakan bagaimana hukumnya bila kita kerja di suatu loka dan kita tak mendapatkan fasilitas kesehatan (karyawan harian), dan pada saat ini aku sangat membutuhannya fasilitas tersebut buat membeli obat. Untuk itu aku meminta izin kepada salah satu karyawan perusahan tersebut nan mempunyai fasiltas kesehatan tersebut dan ternyata diizinkan buat menggunakannya. Tetapi buat menggunakan fasilitas tersebut dan mengajukan klaim kepada perusahan aku menggunakan nama karyawan (kalau memakai nama aku jelas tak bisa) dan nama nan ada dikuitansi itu nama karyawan.

Terus bagaimana pak status obat nan aku minum itu padahal itu sebenarnya hak karyawan tetapi aku pakai dengan izin karyawan tersebut?

Saya mohon petunjuknya?

Wassalam,

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Sebenarnya ada hal-hal nan dapat membolehkan hal itu, namun juga ada hal-hal nan membuat hal itu tak boleh dilakukan.

Hal-hal nan membolehkan ialah adanya izin dari karyawan itu buat menggunakan fasilitas kesehatan nan menjadi miliknya. Logikanya, sebab karyawan itu punya hak atas fasilitas itu dan sudah jadi miliknya, maka sudah menjadi hak dia buat bersedekah atau beramal membantu orang lain. Perusahaan tak berhak melarang seorang karyawan memberikan harta miliknya kepada orang lain. Meski bukan izin langsung dari perusahaan, namun karyawan itu punya hak atas fasilitas kesehatan.

Dengan logika ini, maka apa nan Anda lakukan menjadi halal hukumnya.

Namun ada hal-hal lain nan tetap dapat mengkritisi kebolehan tindakan anda. Yaitu bahwa fasilitas kesehatan itu berbeda dengan uang gaji. Uang gaji memang diberikan secara absolut hingga berpindah kepemilikan. Uang gaji nan telah diterima oleh seorang karyawan, 100% telah menjadi miliknya. Perusahaan tak boleh mengotak-atiknya.

Sedangkan fasilitas kesehatan biasanya hanya berlaku buat karyawan saja, tak beraku buat semua orang nan bukan keluarga. Kecuali misalnya buat isteri dan anak. Itu pun biasanya dibatasi buat satu isteri dan tiga orang anak. Bila anak telah menikah, atau melewati batas usia 25 tahun, fasilitas itu tak berlaku.

Dengan adanya ketentuan seperti ini, dapat dipahami bahwa fasilitas kesehatan itu memang hak karyawan, namun tak diberikan secara mutlak. Tetapi diberikan dengan syarat dan ketentuan tertentu. Bila syarat terpenuhi, haknya diberikan. Tapi bila tak terpenuhi, hak itu tak diberikan.

Dengan logika ini, maka apa nan Anda lakukan menjadi tak dapat dibenarkan. Karena hal itu di luar syarat nan dibolehkan.

Tetapi bila ketentuan nan ditetapkan perusahaan tak seperti nan disebutkan, maka hukumnya beda lagi. Intinya, setiap kita terikat dengan peraturan dan syarat nan telah ditetapkan. Selama tak melanggar, maka hukumnya boleh. Tetapi bila melanggar ketentuan, maka hukumnya tak boleh.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Umum

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy