Menghias Masjid, Haramkah?

Menghias Masjid, Haramkah?

Ust. ketika aku berceramah di suatu masjid, seorang ibu bertanya kepada saya, apakah memang tak dibolehkan buat memasang kaligrafi di masjid? Ibu ini bilang ia mendengar dari khutbah Jumat, mubalighnya bilang memasang kaligrafi di masjid tak dibolehkan. Sehingga di masjid loka aku menjadi pembicara itu pun tak ada kaligrafinya. Apa emang ada nash nan melarang, ustadz? Terima kasih.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh,

Masalah menghias masjid memang diperselisihkan para ulama di masa lalu. Namun perselisihan mereka berangkat dari fenomena bahwa hiasan itu sangat mahal, sebab terbuat dari ukiran kaligrasi dan aksesorisnya nan terbuat dari emas dan perak. Hiasan seperti itu tentu sangat mahal harganya, bahkan buat ukuran seorang penguasa sekalipun.

Adapun hiasan nan biasa kita lihat di masjid-masjid di sekeliling kita ini, tak lain hanya terbuat dari cat tembok. Latif memang, tetapi hanya imitasi belaka. Bukan emas dan perak seperti di masa lalu. Kalau hanya berupa kaligrafi dengan cat tembok, rasanya tak ada nash nan secara langsung melarangnya. Sebaliknya, bila hiasan itu sampai menghabiskan dana nan teramat mahal, sebab harus menghabiskan emas berton-ton, banyak para ulama di masa lalu nan memakruhkannya, bahkan sampai mengharamkannya.

Apalagi mengingat bahwa masjid nabawi di masa Rasulullah SAW itu sangat sederhana. Hanya sebagiannya nan beratap, itupun hanya berupa daun kurma. Alasnyabukan marmer, tetapi tanah atau pasir. Tiangnya bukan beton tetapi hanya batang-batang kurma. Dan hal itu terjadi hingga masa Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun. Barulah pada masa khilafah Al-Walid bin Abdil Malik, masjid-masijd dihias dengan berlebihan, yaitu dengan ukiran kaligrafi dari emas dan perak.

Realitas ini kemudian disimpulkan oleh sebagian ulama sebagai isyarat tak bolehnya kita menghias masjid dengan hiasan nan mewah. Bahkan oleh sebagiannya dianggap bid’ah, buang harta dan haram. Namun masalah ini memang sejak awal termasuk masalah khilaf pada fuqaha. Bahkan ke-empat imam mazhab primer pun tak seragam pendapatnya.

1. Al-HanafiyahAl-Hanafiyah beranggapan bahwa tak mengapa buat menghias masjid dengan majemuk ukiran dan kaligrafi. Asalkan bukan pada bagian mihrabnya. Alasannya, agar orang nan shalat tak terganggu konsentrasinya. Yang dimaksud ukiran di masjid ialah membuat hiasan dengan tatahan emas atau perak.

Namun bila dana nan digunakan buat hiasan itu berasal dari harta waqaf secara generik nan niatnya buat masjid, menurut beliau hukumnya haram. Jadi nan boleh ialah harta dari seseorang nan niatnya memang buat keperluan perhiasan itu.

2. Al-Malikiyah Al-Malikiyah memakruhkan penghiasan dinding masjid, termasuk atapnya, kayunya dan hijabnya, bila hiasan itu terbuat dari emas atau perak dan bila sampai mengganngu konsentrasi para jamah nan shalat. Namun bila hiasan itu di luar apa nan disebutkan, tak ada kemakruhannya.

3. As-Syafi’iyah Mazhab As-Syafi’iyah sebagaimana nan disebutkan oleh Az-Zarkasyi mengemukakan bahwa mengukir masjid itu hukumnya makruh, terutama bila menggunakan harta waqaf nan diperuntukkan untuk masjid secara umum. Sebab harta waqaf untuk mereka tak boleh diubah pemanfaatannya begitu saja.

4. Al-HanabilahAl-Hanabilah ialah satu-satunya mazhab nan tegas mengharamkan penghiasan masjid. Buat mereka, bila masjid sudah terlanjur dihias dengan emas dan perak, wajib buat dicopot.

Pendapat mereka ini dikuatkan juga dengan hadits berikut:

لا تقوم الساعة حتى يَتَباهَى الناس في المساجد

Tidak akan terjadi hari kiamat kecuali orang-orang berbangga-bangga dengan masjid. (HR. Ahmad dan Ashabussunann kecuali At-Tirmizy)

Para ulama banyak nan memaknai sabda Rasulullah SAW tentang berbangga-bangga dengan masjid ini sebagai bentuk penghiasan masjid dengan ukiran/kaligrafi emas dan perak pada dindingnya. Dan oleh sebagian ulama dijadikan sebagai isyarat tak bolehnya kita menghias masjid dengan hiasan nan mewah.

Jadi barangkali para takmir di masjid loka Anda ceramah itu cenderung kepada pendapat mazhab Hanabilah nan secara tegas mengharamkan penghiasan masjid. Meskipun sesungguhnya konteks di masa lalu ialah hiasan nan terbuat dari emas dan perak.

Sedangkan nan bukan terbuat dari emas dan perak, kelihatannya tak terlalu menjadi masalah, apalagi bila kita perhatikan masjid Al-Haram Makkah dan Madinah, di mana keduanya dihias dengan marmer nan niscaya harganya sangat mahal. Demikian juga Ka’bah al-Musyarrafah nan dihias dengan kalirafi latif terbuat dari benang emas dan kain sutera. Sementara umumnya mufti dan penduduk Saudi Arabia ialah pemeluk mazhab Al-Hanabilah. Belum pasti, apakah mereka diam saja sebab takut atau setuju.

Tapi sekali lagi, masalah ini memang merupakan disparitas pendapat di kalangan para ulama, baik di masa lalu maupun masa sekarang ini. Kita tak perlu terperosok pada perdebatan panjang masalah ini, sebab masing-masing punya dalil nan mereka yakini kebenarannya.

Wallahu a’lam bish-shawabAssalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Umum

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy