Mengusap Kepala dan Membersihkan Hidung

Mengusap Kepala dan Membersihkan Hidung

Assalamu’alaykum wr wb.

Pak Ustadz, pada saat ber-wudlu ana melihat sebagian jamaah hanya menyipratkan air ke rambut bagian depan (ubun-ubun) bukan mengusap seluruh kepala, juga hanya membasahi hidung dengan air bukan memasukan air kedalamya, sebetulnya manakah nan lebih rojih dari kasus tersebut.

Terima kasih atas penjelasannya.

Wassalamu’alaykum wr wb.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Perintah buat mengusap kepala memang ada di dalam ayat Al-Quran, bunyinya:

وامسحوا برؤسكم

Maka usaplah(dengan air) kepalamu (QS. Al-Maidah: 6)

Kalau melihat contoh dari praktek nabi SAW, beliau melakukan pengusapan dengan beberapa cara nan berbeda. Salah satu di antaranya ialah dengan meletakkan kedua tapak tangan di atas ubun-ubun, lalu menggerakkannya ke arah belakang kepala. Dan beliau lakukan sekali saja, tak tiga kali.

عَنْ عَلِيٍّ-فِي صِفَةِ وُضُوءِ اَلنَّبِيِّ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ: { وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ وَاحِدَةً. } أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد َ

Dari Ali bin Abi Thalib ra tentang sifat wudhu’ Nabi SAW berkata, "Dan beliau menyapu kepalanya sekali saja. (HR Abu Daud)

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ عَاصِمٍ -فِي صِفَةِ اَلْوُضُوءِ- قَالَ: وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ, فَأَقْبَلَ بِيَدَيْهِ وَأَدْبَرَ. } مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ

Dari Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim tentang wudhu’ nabi, berkata, "Dan beliau mengusap kepalanya kemudian meletakkan tangannya di bagian depan kepala lalu menggesernya ke bekalang. (HR Bukhari Muslim)

وَفِي لَفْظٍ: { بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ, حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ, ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى اَلْمَكَانِ اَلَّذِي بَدَأَ مِنْهُ

Dalam lafadz nan lain, "Beliau memulai mengusap dari depan kepalanya lalu membawa kedua tangannya itu ke bagian belakang kepala (qafa), kemudian mengembalikan kedua tangannya ke loka semula.

Yang dimaksud dengan mengusap ialah meraba atau menjalankan tangan ke bagian nan diusap dengan membasahi tangan sebelumnya dengan air. Sedangkan nan disebut kepala ialah mulai dari batas tumbuhnya rambut di bagian depan/ dahi ke arah belakang hingga ke bagian belakang kepala.

Perbedaan Cara Mengusap Kepala di Antara Beberapa Mazhab

Dari sekian banyak dalil, para ulama kemudian berijtihad buat menarik kesimpulan. Memang ada sedikit disparitas dalam konklusi nan dikemukakan oleh masing-masing, namun disparitas itu cukup manusiawi dan wajar, mengingat tiap dalil memberikan keterangan nan sedikit berlainan.

Katakanlah misalnya mazhab Al-Hanafiyah, mazhab inimengatakan bahwa nan wajib buat diusap tak semua bagian kepala, melainkan sekadar bagian dari kepala. Yaitu mulai ubun-ubun dan di atas telinga.

Lain halnya dengan mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah, mereka tetap berpendapat untukmengatakan bahwa nan diwajib diusap ialah seluruh bagian kepala. Bahkan Al-Hanabilah mewajibkan buat membasuh juga kedua telinga baik belakang maupun depannya. Sebab menurut mereka kedua telinga itu bagian dari kepala juga.

Sebagaimana hadits nan diriwayatkan oleh Ibnu Majah: Dua telinga itu bagian dari kepala. Namun nan wajib hanya sekali saja, tak tiga kali.

Lain lagi dengan pendapat dari kalangan mazhab Asy-syafi`iyyah. Mereka mengatakan bahwa nan wajib diusap dengan air hanyalah sebagian dari kepala, meskipun hanya satu rambut saja.

Tentu saja mazhab ini tak asal ngomong, tetapi berangkat dari dalil nan kuat, setidaknya menurut mereka. Dalil itu antara lain ialah hadits Al-Mughirah:

Bahwa Rasulullah SAW ketika berwudhu` mengusap ubun-ubunnya dan imamahnya (sorban nan melingkari kepala).

Maka apa nan Anda lihat itu sesungguh tak menyalahi pendapat-pendapat nan ada di kalangan ulama. Kalau pendapat itu benar, ulama itu akan mendapat 2 pahala, tetapi kalau salah, hanya bisa satu pahala saja. Tetapi kita tak boleh mengatakan bahwa cara itu sesat atau tak sinkron dengan sunnah nabi SAW.

Memasukkan Air Ke Hidung

Yang disunnahkan bukan mencuci ujung hidung, melainkan memasukkan air ke hidung dan kemudian mengeluarkannya. Memasukkan air ke hidung disebut istinsyaq dan mengeluarkannya disebut istintsar. Keduanya bagian dari sunnah wudhu.

Dalilnya ialah sebagai berikut:

وعَنْ حُمْرَانَ أنَّ عُثْمَانَ دَعَا بَوَضُوءٍ فَغَسَل كَفَّيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَق وَاسْتَنْثَرَ (الاستنثار هو إخراجُ ما في الأنف من مخاط وغيره)، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ اليُمْنَى إِلَى المِرْفَقِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ اليُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ اليُمْنَى إِلَى الكَعْبَيْنِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ اليُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِيْ هَذَا، مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari Humran ra bahwa Utsman ra meminta dibawakan seember air, kemudian beliau mencuci kedua tapak tangannya tiga kali, kemudian berkumur-kumur, kemudian memasukkan air ke hidung, kemudian mengeluarkannya. Lalu beliau membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh tangannya nan kanan hingga siku tiga kali, kemudian tangan nan kiri demikian juga, kemudian mengusap kepalanya, kemudian mencuci kaki kanannya hingga mata kaki tiga kali, kemudian kaki kiri sedemikian juga, kemudian beliau berkata, "Aku telah melihat Rasulullah SAW berwudhu sebagaimana wudhu’-ku ini. (HR Muttafaq ‘alaihi)

Sedangkan mencuci ujung hidung atau bagian luar hidung bukan termasuk sunnah dalam berwudhu’. Lagian sudah dibersihkan saat membasuh wajah. Jadi untuk apalagi dibersihkan?

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Thaharah

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy