Menjadi Kekasih Allah

Menjadi Kekasih Allah

Pernah suatu hari Ali bin Abi Thalib menangis, ketika ditanya karena apa menantu Rasulullah itu menangis, ia menjawab, “Sudah satu minggu tidak ada seorang tamu pun nan datang kepadaku buat meminta sesuatu. Aku risi Allah sedang menghinakan aku”.

Karakter seperti Ali bin Abi Thalib ini memang terbilang langka dan unik. Kebanyakan orang justru menghindar dan bersembunyi kalau ada orang nan datang ke rumahnya hendak meminta bantuan. Misalnya saja mereka nan dari balik pagar rumahnya berteriak, “Maaf, tak ada orangnya” kepada para pengemis nan berdiri mematung di depan pagar. Padahal boleh jadi pengemis tua itu benar-benar memerlukan bantuan.

Memang dipandang dari sisi kita, nampaknya pengemis tua renta itu nan memerlukan pertolongan. Namun dilihat dari sudut nan berbeda, sesungguhnya kitalah nan memerlukan pengemis atau siapapun dari kaum dhuafa itu sebab merekalah kunci surga nan ditebarkan Allah di muka bumi. Seperti ditegaskan Rasulullah dalam satu haditsnya, “Segala sesuatu ada kuncinya, dan kunci surga ialah mencintai orang-orang miskin” (HR Ad Daruqutni dan Ibnu Hiban).

Kepada isterinya, Rasulullah pernah berpesan, “Wahai Aisyah, cintailah orang miskin dan akrablah dengan mereka, supaya Allah pun akrab juga dengan engkau pada hari kiamat” (HR Al Hakim). Dalam hadits lain, Nabi Allah pun berkata, “Allah semakin memperbanyak kenikmatan-Nya kepada seseorang sebab ia banyak dibutuhklan orang lain. Barangsiapa enggan memenuhi kebutuhan-kebutuhan orang lain berarti ia telah merelakan lenyapnya kenikmatan bagi dirinya” (HR Baihaqi).

Banyak hal nan dapat kita perbuat guna membantu dan meringankan beban orang lain di sekeliling kita. Sebanyak orang-orang lemah (dhuafa) nan bertebaran di sekitar kehidupan kita. Coba perhatikan, di sudut-sudut jalan, atau kemana pun paras ini dihadapkan akan mudah terlihat majemuk golongan kaum dhuafa. Jika kita sedikit ‘gerah’ dengan aksi orang nan berpura-pura menjadi pengemis, alihkan pandangan kita ke rumah-rumah yatim piatu. Atau menjenguk ke rumah sakit buat melihat betapa banyaknya orang-orang sakit nan kebingungan membayar biaya perawatan. Sesungguhnya, di luar rumah sakit masih lebih banyak orang nan meregang nyawa tanpa pertolongan sebab tak memiliki biaya sedikitpun buat pergi ke dokter atau rumah sakit.

Jika tak berupa materi sebab kondisi kita pun dalam kesempitan, tetap saja kita tak kehilangan kesempatan buat berbuat sesuatu buat orang lain. Donasi materi tidak melulu harus dari kantong kita, jika tidak mampu. Maka bantulah orang nan mampu buat menemukan kunci-kunci surga itu, dengan cara memberikan informasi tempat-tempat dan orang nan membutuhkan pertolongan. Dengan demikian, kita telah menjadi mediator bagi keduanya, nan menolong dan nan ditolong.

Allah SWT bertanya kepada Nabi Ibrahim alaihi salam, “Tahukah kamu mengapa Aku memberi gelar kepadamu Khalilullah –kekasih Allah? Nabi Ibrahim menjawab; Tidak tahu ya Rabb! Lalu Allah menegaskan, Lantaran kamu suka memberi makan orang-orang miskin dan shalat dikala orang lain sedang tertidur lelap”

Maka sesungguhnya, tak hanya Ibrahim alaihi salam nan mampu merebut gelar itu dari Allah. Setiap hamba memiliki kesempatan nan sama dengan Ibrahim buat menjadi kekasih Allah. Caranya seperti nan dilakukan Nabi Allah itu, suka memberi makan orang miskin dan bangun di waktu malam buat bermunajat kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW dalam hadits lain mengatakan, “Orang nan bekerja keras buat membantu janda dan orang miskin ialah seperti pejuang di jalan Allah atau seperti orang nan terus menerus shalat malam atau terus berpuasa (HR. Muslim). Artinya, memberi sesuatu kepada kaum dhuafa memiliki nilai nan sama dengan berjihad di jalan Allah, sayangnya hal ini seringkali tak kita sadari. Sudahlah kerap lalai qiyamullail, membantu orang miskin pun tak kita lakukan.

Khalifah Umar bin Khattab, salah seorang sahabat nan memberi contoh konkret bagaimana berupaya menjadi kekasih Allah. Pernah suatu malam Auza’iy ‘memergoki’ Khalifah Umar masuk rumah seseorang. Ketika keesokan harinya Auza’iy datang ke rumah itu, ternyata penghuninya seorang janda tua nan buta dan sedang menderita sakit. Janda itu mengatakan, bahwa tiap malam ada orang nan datang ke rumahnya buat mengirim makanan dan obat-obatan. Tetapi janda tua itu tak pernah tahu siapa orang tersebut! Padahal orang nan mengunjunginya tiap malam tersebut tidak lain ialah ialah khalifah nan selama ini sangat ia kagumi.

Pada suatu malam lainnya ketika Khalifah Umar berjalan-jalan di pinggir kota, tiba-tiba ia mendengar rintihan seorang wanita dari dalam sebuah tenda nan lusuh. Ternyata nan merintih itu seorang wanita nan akan melahirkan. Di sampingnya, duduk suaminya nan tengah kebingungan. Maka pulanglah sang Khalifah ke rumahnya buat membawa isterinya, Ummu Kalsum, buat menolong wanita nan akan melahirkan anak itu. Tetapi wanita nan ditolongnya itu pun tak tahu bahwa orang nan menolongnya dirinya ialah Khalifah Umar, Amirul Mukminin nan mereka cintai.

Pada kisah lainnya, Khalifah Umar berjalan di tengah malam berkeliling perkampungan buat mengetahui kondisi rakyatnya. Kemudian ia mendapati sebuah gubuk reot dan terdengar suara tangis anak-anak di dalamnya. Dari celah gubuk reot itu ia melihat seorang ibu nan tengah berusaha menenangkan anaknya nan menangis sebab kelaparan. Rupanya anaknya menangis sebab kelaparan sementara sang ibu tak memiliki apapun buat dimasak malam itu.

Umar mendengar si Ibu berkata kepada anaknya, “Berhentilah menangis, sebentar lagi makanannya matang”. Namun kemudian Umar terperanjat ketika melihat bahwa nan dimasak oleh ibu itu ialah sebuah batu. Sandiwara sang ibu nan berpura-pura memasak itu hanya buat meredam tangis anaknya nan tidak henti sebab rasa lapar. Melihat pemandangan itu Umar sangat sedih dan merasa berdosa. Ditemani pengawalnya, Umar pergi ke gudang penyimpanan makanan negara dan mengangkut sendiri karung gandum itu.

“Ijinkanlah aku nan akan membawa dan memanggul gandum itu,” pinta sang pengawal. “Biarlah saya nan mengangkat dan memanggul gandum ini. Ini ialah tanggung jawabku. Dan saya akan menebus dosa-dosaku nan telah menyengsarakan rakyatku,” kilah Umar bin Khattab.

Di masa sekarang, mungkin terdengar aneh kalau ada kasus orang nan memasak batu sebab kelaparan. Tetapi kita pun tidak dapat menutup mata atas beberapa peristiwa nan pernah terungkap di media massa berkenaan dengan kemiskinan. Tentang seorang anak Sekolah Dasar nan mencoba bunuh diri sebab tak punya buku pelajaran, tentang sekeluarga di Makassar nan meninggal sebab kelaparan, atau jutaan orang nan terjerat hutang dan jatuh dalam rantai baja rentenir.

Insya Allah, banyak kesempatan buat menjadi kekasih Allah di masa kini. Segera ambil kesempatan ini, atau orang lain nan merebutnya dari depan mata kita. (gaw)

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy