Merdeka Tapi Pusing

Merdeka Tapi Pusing

Malam ini hujan tidak jadi turun. Suara guntur nan menggelegar seakan hanya batuk-batuk demi memberi isyarat alam agar orang-orang waspada akan perubahan cuaca. Aku pulang lebih malam sebab jadwal deadline di kantor nan mengharuskan menuntaskan kerjaan demi kejar cetak sinkron jadwal. Begitu turun bis di depan RS Sint Carolus, saya langsung mencari bajaj nan beberapa sedang parkir, menuju rumah di Rawamangun.

Ada bajaj nan bagian belakang body-nya bertuliskan “Merdeka Tapi Pusing” cukup memancing perhatianku. Aku datangi dan setelah sepakat tarifnya, bergeraklah kendaraan roda tiga berwarna oranye itu membawa saya menuju rumah.

Bajaj berjudul Merdeka Tapi Pusing langsung menderu di tengah mobil-mobil mewah Jalan Pramuka. Begitu sampai di persimpangan jalan layang By Pass nan merupakan perbatasan Jalan Pramuka dan Jalan Pemuda, mau tidak mau Abang Bajaj berhenti sebab terhadang lampu merah. Begitu pun kendaraan lain dengan patuh menghentikan geraknya.

Keadaan itu tentu saja langsung dimanfaatkan anak-anak jalanan buat meminta ‘jatah’ rezeki. Bajaj nan kutumpangi pun tidak lepas dari perhatian mereka. Seorang anak sekitar umur tiga tahun menengadahkan tangannya ke arahku lewat pintu bajaj. Di seberang jalan sana, di tepi jalan, nampak beberapa ibu bertubuh fertile dan segar asyik bercengkerama. Boleh jadi salah satu dari ibu itu ialah ibu dari anak nan sedang berada di depanku. Kemudian datang lagi anak laki-laki berumur kira-kira empat tahun. Dia menonjok anak nan lebih dulu mendekat ke bajajku.

Dengan sigap, dari dalam bajaj tanganku melerai mereka agar tak standar tonjok. Namanya anak-anak, egoismenya pastinya tinggi. “Dia nakal tuh sama saya!” sergah nan berumur tiga tahun. Ibu-ibu mereka seakan tidak terganggu dengan kenakalan anak-anaknya di tengah jalan raya nan cukup ramai. Lampu merah berganti hijau, Bang Bajaj siap-siap tancap gas. Kedua anak tadi ternyata meneruskan tonjok-tonjokan di trotoar jalan. Ah, dasar anak-anak. Semoga aja ‘tinju’ mereka di ronde kedua itu cuma bercandaan saja.

Aku jadi ingat ucapan salah seorang pejabat Unicef perwakilan Indonesia nan berkebangsaan Inggris. Suatu hari beberapa tahun lalu saya pernah mewawancarai dia dalam rangka Hari Anak Nasional. Dia menyinggung modus mengemis nan menggunakan anak-anak sebagai umpan. Bahkan beliau juga prihatin begitu banyak gelandangan nan kebanyakan kaum ibu menyewa bayi demi lancarnya aksi mengemis.

Ada juga celetukan teman nan capek liat ulah pengemis anak-anak. “Sudah ah, mereka tuh jangan dikasih ikan terus. Kita harus kasih kailnya. Kalau selalu memberi ikan, kapan mereka mau maju? Kapan bangsa ini mau berhenti miskin? Cuma membuat generasi bermental mengemis. ” Teman aku itu begitu semangat dengan teori ikan dan kailnya.

Tapi kalau kita tanya ke anak-anak tadi, mana mereka mengerti maksudnya ikan dan kail? Boro-boro paham? Baca dan tulis mereka buta. Merasakan sekolah saja merupakan kemewahan bagi mereka.

Wah, jadi ingat tulisan “Merdeka Tapi Pusing” di bajaj nan kutumpangi. Apakah anak-anak jalanan tadi dan ibunya juga pusing di era merdeka ini? Apa ya, kira-kira arti merdeka bagi mereka? Yang jelas, meski hayati di zaman merdeka, mereka belum tentu dapat bersekolah kelak. Biaya pendidikan negeri ini sangat mahal. Hanya golongan eksklusif nan dapat mengenyamnya. Yang namanya sekolah gratis, bukan perdeo sebab masih ada embel-embel pungutan ini-itu atas nama uang gedung, uang buku, uang macam-macam. Bahkan banyak anak jalanan nan pernah aku wawancarai lebih memilih menggelandang di jalan daripada sekolah sebab tidak ada biaya.

Anak-anak di lampu merah tadi memang hayati di negeri merdeka. Tapi, kalau mereka sakit, mereka susah bisa pelayanan rumah sakit. Meski katanya dapat menggunakan surat spesifik buat orang miskin nan katanya gratis, mengurusnya pun harus mengeluarkan rupiah.

Okelah kita sudah merdeka. Tapi bagaimana kehidupan anak-anak tadi? Dan anak-anak jalanan lainnya? Hayati mereka tak jelas. Tanpa agunan keamanan, kenyamanan nan layak. Hak hayati mereka pun terampas. Kita dapat saja bilang, kenapa orangtua mereka malas dan tak mau bekerja? Bukankah sarjana saja banyak nan menganggur? Apalagi orangtua mereka nan rata-rata ialah penjual asongan, buruh bangunan, kuli pasar, dan sebangsanya. Mereka bekerja, tapi penghasilan nan didapan kurang memadai.

Tetapi, jika kita tanyakan arti merdeka ke mereka, dapat jadi kita akan dapatkan jawaban dari sisi nan lain. Hayati mereka sudah merdeka kok. Mereka tidak perlu terbelenggu oleh beratnya kurikulum sekolah nan begitu berat bagi peserta didik pendidikan dasar negeri ini. Palajaran muris kelas 1 SD masa kini mirip dengan pelajaran murid kelas 6 di masa satu dasa warsa nan lalu. Para ibu anak jalanan nan tak bersekolah ini tidak perlu cemas dan pusing, apakah anaknya lulus masuk tes masuk TK, SD, atau SMP. Mungkin perlu diketahui, calon murid TK di beberapa kota di negeri ini harus lulus tes sebelum diterima di sekolahnya. Ketika ia akan masuk SD, ia harus menyelesaikan lima halaman tes tulis, plus dengan wawancara. Hal nan memusingkan bagi para ibu tentunya, apalagi buat para ibu nan tak berpunya secara materi.

Kemerdekaan juga sudah mereka raih, karena mereka boleh seenaknya kapan mau tidur dan bangun. Boleh main-main di udara terbuka sementara anak-anak lainnya banyak terkungkung di ruang AC, baik di sekolah, di rumah, di loka les, di mall.

Boleh jadi, anak-anak itu mungkin juga merasa sudah merdeka. Paling tak mereka bebas mau jadi apa kelak. Sedangkan anak-anak lain sudah diplot oleh orangtuanya buat menjadi dokter, insinyur, model, artis, dan lain-lain tanpa dapat bebas memilih. Buktinya, wajah-wajah mereka tetap ceria tertawa meski huma mainnya hanya seputaran lampu-lampu merah dan trotoar jalan raya. Bahkan ibu mereka juga tidak marah ketika anak-anak itu main tonjok-tonjokan di antara belukar kendaraan bermotor jalan raya. Bayangkan jika ibu-ibu lain? Melihat anaknya memanjat pohon saja mungkin sudah melarang, risi akan jatuh dan terluka.

Kadangkala kita tidak dapat menakar adil, sejahtera, cukup, dan mewah dari kerangka berpikir kita. Kita dapat membeli kasur super empuk, tapi belum tentu dapat mendapatkan tidur nan lelap. Kita punya rumah mewah, tapi buat apa kalau banyak embargo terhadap anak-anak, tak boleh ini, jangan sentuh itu. Kemewahan nan kita punya pastinya beda dengan dosis mereka. Kebebasan nan kita miliki, belum tentu juga sama dengan mereka. Tak terasa bajajku sudah sampai dekat rumah. Tapi saya masih sempat bertanya-tanya dalam hati,

Jadi, apakah mereka merdeka tapi pusing? Belum tentu!

-Sri Haryati-

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy