Merekam Adegan Bercinta

Merekam Adegan Bercinta

Assalaamualaikum wr.wb

Pak Ustadz yg di rahmati Allah,ana ingin bertanya,apakah boleh mengambil gambar bagian aurat pasangan atau merekam adegan bercinta dengan pasangan?

Daripada melihat gambar atau film porno yg tak bolehkan melihat aurat orang lain.

Mohon klarifikasi dari ustadz.

Jazaakalloh

Waalaikumussalam Wr Wb

Diantara kewajiban suami terhadap istrinya atau sebaliknya ialah saling menjaga, memelihara misteri nan mereka berdua lakukan di loka tidur dan tak menceritakannya kepada siapa pun, berdasarkan sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya diantara orang nan jelek posisinya di sisi Allah swt pada hari kiamat ialah seorang laki-laki nan menggauli istrinya dan istrinya menggauli suaminya lalu dia menyebarluaskan rahasianya.” (Muttafaq Alaih)

Imam Nawawi mengatakan bahwa didalam hadits ini terdapat pengharaman menyebarluaskan nan dilakukan seorang lelaki tentang apa nan terjadi antara dirinya dengan istrinya yaitu tentang perkara-perkara kenikmatan antara mereka berdua, mengisahkan tentang rincian nan dilakukan istrinya, seperti : ucapannya, apa nan dilakukannya atau lainnya.

Adapun jika hanya sebatas menyebutkan jima’ (bahwa dirinya telah berjima, pen) maka jika tak ada perlu atau kebutuhan buat mengatakannya maka hal itu makruh sebab bertentangan dengan kesopanan. Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa nan beriman dengan Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata nan baik atau diam.”. Namun jika terdapat kebutuhan atau penyebutannya itu mengandung kegunaan seperti menepis asumsi bahwa dirinya tak mau menggauli istrinya atau asumsi bahwa dirinya tak lagi memiliki kesanggupan buat berjima’ atau sejenisnya maka penyebutan hal ini tidaklah makruh, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya saya melakukannya saya dan dia.” Sabda Rasulullah saw bersabda kepada Abi Thalhah,”Apakah engkau menggaulinya semalam?” Dan ungkapannya kepada Jabir.”Cerdas, cerdas.” (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi Juz X hal 13)

Dengan demikian tak dibolehkan bagi seorang suami mengambil gambar baik dengan foto maupun video terhadap adegan bercinta nan dilakukannya dengan istrinya di loka tidur meskipun hanya sebatas buat konsumsi mereka berdua saja sebab tak menutup kemungkinan bahwa gambar atau film tersebut suatu saat akan dilihat oleh selain mereka berdua atau jatuh ketangan orang lain. Dan jika hal ini terjadi maka apa nan dikhawatirkan oleh Rasulullah saw didalam hadits diatas akan terjadi bahkan lebih berat lagi sebab hal itu bukan hanya sebatas perkataan akan tetapi sudah berupa gambar atau film nan mengisahkan sesuatu nan jelas-jelas dilarang oleh Allah swt :

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ ﴿٣٠﴾
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Artinya : “Katakanlah kepada orang laki-laki nan beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; nan demikian itu ialah lebih kudus bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa nan mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita nan beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali nan (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur : 30 – 31)

Begitu pula dengan mengambil gambar atau foto bagian tubuh istrinya nan termasuk auratnya meskipun hanya buat konsumsi dirinya saja maka tak dibolehkan dikarenakan alasan diatas.

Kedua perbuatan tersebut—mengambil gambar atau film adegan bercinta atau hanya sebatas foto salah aurat istrinya—bisa menjadi pintu-pintu perzinahan atau memberikan wahana buat terjadinya maksiat orang nan melihatnya jika foto atau film itu jatuh atau dilihat oleh mereka, berdasarkan apa nan diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Abu Hurairoh berkata dari Nabi saw,”Sesungguhnya Allah telah menetapkan terhadap anak-anak Adam bagian dari zina nan dapat jadi ia mengalaminya dan hal itu tidaklah mustahil. Zina mata ialah penglihatan, zina lisan ialah perkataan dimana diri ini menginginkan dan menyukai serta kemaluan membenarkan itu semua atau mendustainya.”

Juga firman Allah swt :

Artinya : “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu ialah suatu perbuatan nan keji. dan suatu jalan nan buruk.” (QS. Al Israa : 32)

Artinya : “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maidah : 2)

Jadi perbuatan tersebut tidaklah dibolehkan dikarenakan tindakan preventif dari akan terjadinya sebuah kemaksiatan lebih diutamakan, sebagaiman disebutkan didalam sebuah kaidah ushul “Menutup Jalan Terjadinya Kemaksiatan”. (Baca : )

Wallahu A’lam

Ustadz Sigit Pranowo

Bila ingin memiliki  karya beliau dari  kumpulan jawaban jawaban dari Ustadz Sigit Pranowo LC di Rubrik Ustadz Menjawab , silahkan kunjungi link ini :

Resensi Buku : Fiqh Pada masa ini nan membahas 100 Solusi Masalah Kehidupan…

Ustadz menjawab

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy