Modal Usaha: Jualan Cendol Senilai Rp 400 juta, Siapa Mau?

Modal Usaha: Jualan Cendol Senilai Rp 400 juta, Siapa Mau?

Di Bazaar Madinah ada dua orang nan bekerja sama dalam penjualan es cendol, nan satu sebagai pemodal dan nan lain sebagai penjualnya. Kapital nan ditanamkan buat berjualan cendol ini hanya Rp 400,000,- sebab mereka tak perlu menyewa tempat. Mereka hanya butuh buat membeli bahan-bahan cendol, wadah dan kemasan gelas plastik. Setelah berjalan hampir tiga bulan, aku mencoba menghitung berapa nilai usaha pedagang cendol ini? Anda dapat terkejut dengan hitungan nilai usaha ini –karena nilai usaha mereka dapat mencapai 1.000 kali dari kapital nan ditanamkannya– atau dapat mencapai Rp 400 juta!

Dari mana angka sebesar ini muncul? Begini, buat menilai usaha kita dapat menggunakan pendekatan perhitungan asset nan dimiliki-nya, pendapatan atau potensi pendapatannya, goodwill-nya dlsb. Untuk usaha cendol ini aset tentu sangat kecil nilainya sebab mereka hanya punya beberapa peralatan dari plastik dan stok bahan baku. Goodwill-nya boleh dibilang belum muncul sebagai nilai nan berarti sebab tak ada hal nan bersifat unique, temuan baru, perijinan dan sejenisnya—jadi usaha cendol ini boleh dibilang dapat dilakukan oleh siap saja.

Maka satu-satunya nan cukup seksama buat menghitung nilai usahanya ialah dari (potensi) pendapatannya. Saya lihat dari transaksi di kasir bersama dari account pedagang cendol ini—pendapatan higienis rata-rata mereka sekitar Rp 2,000,000/bulan, atau bila disetahunkan ialah Rp 24,000,000,- !

Dengan mengetahui pendapatan setahunnya kita dapat menghitung nilai suatu usaha nan nyaris tak memiliki tangible asset ini. Bagaimana caranya? salah satu nan gampang ialah dengan membandingkan—kira-kira dibutuhkan setara kapital berapa uang Anda akan memberikan hasil nan sama dengan pendapatan higienis pedagang cendol tersebut, bila diinvestasikan di loka lain.

Karena nan paling generik bila Anda punya uang lebih ialah ditaruh di bank, maka bandingkan misalnya bila Anda sebagai pegawai, memilik insentif tahunan nan banyak,kemudian insentif ini Anda taruh dalam tabungan Rupiah dengan hasil rata-rata 6% per tahun. Maka buat bisa memberikan hasil higienis rata-rata Rp 2,000,000 sebulan atau Rp 24,000,000,- setahun, Anda membutuhkan tabungan Rupiah sebesar Rp 400,000,000,-! Kurang lebih setara inilah nilai usaha jualan cendol tersebut diatas.

Lebih bahagia mana Anda memiliki tabungan di bank sebesar Rp 400 juta dengan bagi hasil higienis rata-rata Rp 2 juta sebulan? atau memiliki usaha nyaris tanpa kapital nan memberikan hasil rata-rata nan kurang lebih sama? Pilihan Anda akan tergantung seberapa kuat jiwa entrepreneurship nan ada pada diri Anda? Kebanyakan orang nan cukup puas dengan bekerja sebagai pegawai , tentu akan memilih punya uang Rp 400 juta di bank —bahkan ketika mereka sudah pensiun-pun akan tetap cukup puas menaruh uang pensiunnya di bank dengan diambil hasilnya setiap bulan— meskipun setiap saat daya beli uangnya di bank kalah cepat tumbuhnya dengan inflasi.

Aset nan besar sekalipun (Rp 400 juta) bila dia berupa —tidak membuat pemiliknya tambah makmur. Hal ini bisa Anda saksikan di sekitar Anda, banyak sekali pensiunan pegawai nan memiliki dana raturan juta atau bahkan milyaran Rupiah —namun ketika mereka tak dapat memutar dananya dengan baik— kemakurannya akan terus merosot.

Sebaliknya bagi para entrepreneur, memiliki satu usaha kecil tetapi berjalan baik—akan jauh lebih menggembirakannya ketimbang memiliki uang banyak di bank tetapi tak dapat diputarnya sendiri. Inilah nan aku sebut wealth producing assets, sebab asset nan semula sangat kecil-pun nilainya (Rp 400,000,-) —ketika diputar menjadi usaha nan berjalan dengan baik nilainya menjadi sangat tinggi— 1.000 kalinya atau bahkan lebih, bila mempertimbangkan potensi pertumbuhannya. Pemiliknya makin lama insyaAllah akan semakin makmur.

Fenomena tumbuhnya kemakmuran bagi para pedagang atau para pengusaha ini seperti nan juga dicontohkan oleh salah satu sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam nan dijamin masuk surga yaitu  r.a, apakah dia berusaha dengan kapital nan besar? tak sama sekali—dia berangkat ke pasar pada hari pertamanya tanpa modal!

Pelajaran apa nan sesungguhnya dapat kita petik dari Abdurrahman bin ‘Auf r.a nan kemudian ditiru oleh salah seorang pedagang cendol di Bazaar Madinah tersebut? bahwa kapital bukanlah segala-galanya. Keberadaannya kadang diperlukan buat memulai usaha, tetapi tanpanya—tidak berarti orang tak dapat berusaha! Wa Allahu A’lam.

Peradaban

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy