Munafik Atau "Lebay"?

Munafik Atau "Lebay"?

Seolah belati berkarat nan tajam menghunus tepat di jantungku, seperti golok besi seberat 20 KG jatuh menimpa tepat di kepala kemudian membelahnya, bagai anak panah beracun nan memutuskan urat leher. Aku tidak kuasa menahan perih, kepedihan, ngilu di hati ini.

Air mata bercucur deras bagai tsunami meluluhlantakkan kebanggaan diri. SMS itu benar-benar menyakitkan. Pesan singkat nan dikirim oleh seorang sahabat karib.

Bukan sebuah hujatan atau cacian, tapi merupakan “suara kebenaran” nan membuat hati ini luruh. Tubuh pun tersungkur tidak berdaya.

Bunyi SMS itu terus saja menggema di ruang-ruang kosong fikiranku. Berdetak mengikuti irama denyut nadi. Diri serasa jatuh dari puncak gedung bertingkat sepuluh. Aku pasrah, rasanya sia-sia segala amalan nan ku perbuat selama ini. Aku bersimpuh malu mengangkat kepala di hadapan penguasa jagat raya. SMS itu benar, tak ada satu pun kata bohong terselip di sana.

It’s ME

Ya! Itu memang AKU. Bukan orang lain, dan itu sama sekali bukan fitnah.

Kalimat di SMS itu terus setia mendampingiku bermunajat setiap malam. Aku tidak sanggup menghapusnya. Entah berapa kali sudah saya bolak-balik memencet tombol INBOX berisi SMS itu.

SMS nan membuatku sadar, diri ini sedang terkena penyakit serius, nan sulit terdeteksi oleh alat kedokteran secanggih apapun. Penyakit berbahaya dan sulit terdeteksi ini sangat ditakuti oleh para sahabat Rasulullah SAW. Diriwayatkan oleh Zaid bin Wahb bahwa seseorang dari golongan orang munafik telah wafat, ketika itu Abu Hudzaifah enggan buat menyhalatinya.

Umar RA pun bertanya kepada Abu Hudzaifah: “apakah dia termasuk dari golongan (munafik) itu?” Hudzaifah RA pun menjawab: “ya!” Umar pun impulsif bertanya lagi: “Demi Allah (wahai Hudzaifah) apakah saya juga termasuk dalam golongan mereka?”

Abu Hudzaifah RA pun menjawab: “tentu tidak! Setelah ini saya tak akan memberi tahu siapapun (jika bertanya hal nan sama)” (Kitab al-Mushannif karangan Abu Abi Syaibah)

Abu Hudzaifah RA ialah sahabat kepercayaan Rasulullah SAW, menjadi mata-mata buat kaum munafik. Dialah nan mengetahui secara detail siapa saja orang-orang munafik dikalangan para shahabat waktu itu.

Setelah pertanyaan Umar RA nan disebutkan di atas praktis ia tidak pernah lagi membeberkan kepada siapapun perihal kaum munafik nan diketahuinya dari Rasulullah SAW.

Bayangkan jika Umar RA merupakan seorang sahabat tempaan Rasulullah SAW nan tak diragukan kemurnian imannya, kesucian hatinya, salah seorang nan sudah dijanjikan masuk surga oleh Rasulullah SAW, ia gusar dan gelisah kalau ternyata dirinya terjangkit penyakit berbahaya ini lalu bagaimana pula dengan makhluk durja, kerdil, penuh dosa ini merasa kondusif dan percaya diri bahwa dirinya ialah mukmin sejati?

Kalimat dalam SMS itu masih saja menari-nari dalam benakku, mengikuti irama melodi detak jarum jam malam duka itu. Aku pun teringat dengan kisah Sahabat Rasul nan bernama Hanzhalah RA.

Dalam Kitab Shahih Muslim disebutkan dia berkata: “(suatu kali) Aku berjumpa Abu Bakar. Abu bakar pun mengucapkan: “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah” Tanpa ragu Hanzhalah pun menjawab: “Hanzhalah telah munafik” Abu bakar pun heran sambil berkata: “Apa nan sedang kau katakan, Subhanallah!”.

Hanzhalah pun berkata: “ketika kami berada disamping Rasulullah SAW dan beliaupun mengingatkan kami tentang siksa neraka dan kenikmatan surga, seolah-olah kami melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Namun ketika kami pergi meninggal Rasulullah SAW kami pun disibukkan dengan urusan istri, anak dan kehidupan. Kemudian kami pun jadi banyak lupa (terhadap apa nan diajarkan Rasul)” Abu Bakar RA pun berkata: “Demi Allah! Kami pun juga merasakan hal nan sama” Lantas keduanya mengadukan hal itu kepada Rasulullah saw.

Rasulullah SAW pun bersabda: “Demi jiwaku nan ada di dalam genggaman-Nya, andaikata kamu sekalian tetap seperti keadaan kalian di sisiku dan di dalam dzikir, tentu para malaikat akan menyalami kalian di atas kasur-kasur kalian dan tatkala kalian dalam perjalanan. Tetapi, wahai Hanzhalah! Sa’ah wa sa’ah wa sa’ah (setahap demi setahap).

Nafas ini semakin tidak beraturan, SMS itu seolah menyumbat saluran pernafasan, menyekat rongga tenggorokan, membungkam asa.

Sebuah SMS nan berbunyi:

“LEBAY. SOK SUCI. SOK ALIM. PADAHAL FATAMORGANA”

Terima kasih sebab telah menyampaikan kebenaran sobat!
Terima kasih sebab telah menyadarkanku sobat!
Terima kasih sebab telah membuatku kembali bersimpuh tidak berdaya dihadapan tuhanku sobat!
Terima Kasih.

Allahumma taqabbal minna shalatana wa qiyamana wa ruku’ana wa sujudana wa shiyamana wa tammim taqshirana.. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Kairo, 25 Maret 2011
(Terima Kasih Sepanjang Jalan Buat Sahabat Sepanjang Zaman)

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy