Mungkinkah Dosa Besar Dihapus Allah Kalau Tidak di-Hudud?

Mungkinkah Dosa Besar Dihapus Allah Kalau Tidak di-Hudud?

Assalamu’alaikum w. w.

Selalu berdoa, pak Ustadz dalam keadaan sehat walafiat. Menyambung klarifikasi pak ustadz tentang taubat. Jika pelaku dosa besar nan wajib di-hudud, tak melaksanakan hudud, tak menyerahkan diri ke mahkamah syariah buat di-hudud, tapi dia sudah menjalankan 3 syarat taubat:- Berhenti total dulu dari perbuatan maksiatnya itu,- Menyesali dengan sungguh hati atas apa nan terlanjur dilakukannya,- Bertekat bulan tak akan pernah lagi terbersit buat melakukannya kembali.

Mungkinkah dosanya dihapus oleh Allah tanpa dihudud? Walaupun di negaranya diberlakukan syariat Islam? (Adakah dalilnya,mohon penjelasannya). Terima kasih atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum w.w.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Hukuman hudud itu wajib dilaksanakan, baik oleh si terhukum maupun oleh pemerintah. Bila seorang pelaku kemungkaran mangkir dari menyerahkan diri kepada mahkamah syar’iyah buat dilaksanakan atasnya hukum hudud, maka dosanya belum lagi diampuni. Sebab Allah SWT telah mewajibkan aplikasi hudud kepada para pelaku dosa nan mewajibkan hudud.

Maka aplikasi hukum hudud itu ialah bagian dari taubat dan penebusan dosa atasnya. Yaitu selama hukum itu terlaksana di suatu pemerintahan.

Lain halnya bila tak ada penegakan syariat Islam di suatu tempat, maka seorang pelaku dosa hudud nan sebenarnya ingin dihukum tapi tak dapat terlaksana lantaran negara itu tak menjalankannya, dia akan diampuni Allah SWT. Sebab dirinya sudah rela dan pasrah kepada apapun ketentuan dari Allah. Seandainya hukum hudud tegak, pastilah dia siap menjalaninya. Namun sebab pemerintahnya tak menegakkanya, lalu hukum hudud tak dilaksanakan pada dirinya, tak berarti taubatnya belum sempurna.

Insya Allah taubatnya sudah sempurna, terbukti dari keinginannya buat menjalani sanksi hudud.

Di negara nan menegakkan syariat Islam, orang nan melakukan dosa hudud tapi mangkir dari menyerahkan diri, maka tetap dihukum asalkan ada saksi. Misalnya, seorang melakukan tindakan zina tapi dia tak mengakuinya di depan mahkamah. Sementara mahkamah mampu menghadirkan saksi nan memenuhi syarat, meski agak sulit pada kenyataannya, maka orang itu tetap dapat dihukum hudud.

Sedangkan bila tak ada saksi, maka hukum hudud hanya boleh dijalankan bila ada pengakuan dan ikrar dari pelaku secara langsung. Tanpa pengakuan, hukum hudud tak memenuhi syarat buat dijalankan.

Pernah di masa nabi SAW, ada seorang nan pada awalnya mengaku telah berzina. Tetapi ketika lemparan batu mulai menimpa tubuhnya, dia kabur. Para shahabat mengejarnya dan menangkapnya kembali buat meneruskan eksekusi, hingga orang itu meninggal. Namun mendengar kejadian itu, Rasulullah SAW menyayangkannya, karena dengan kaburnya orang itu berarti dia mencabut pengakuannya. Seharusnya sanksi itu tak diteruskan, dan urusannya tak antara dia dengan tuhannya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy