Musuh Di Duniamu ialah Diri-Mu Sendiri

Musuh Di Duniamu ialah Diri-Mu Sendiri

Oleh : Echiey Hisaan, Pekanbaru

Pengelola Rumah Tahfidz dan Aktivis

Dalam berkehidupan, beberapa orang coba mencari tahu kenapa dan bagaimana semua hal nan tak di inginkannya selalu saja terjadi. Katakanlah tak sinkron dengan apa-apa nan di harapkannya. Tak sporadis banyak nan menyalahkan keadaan, menyalahkan pihak lain, menyalahkan waktu, bahkan hingga menyalahkan Tuhan.

Sementara ia sendiri mengetahui bahwa pelaku kehidupannya dan pengambil keputusan tentang langkahnya ialah dirinya sendiri. Langsung saja kita bahas fakta di lapangan.

Ketika seseorang telah meniatkan ia mencari nafkah karna memang sebuah kewajiban agar ia berusaha di global ini, namun di perjalanan ia malah menukar niatnya buat memperkaya diri. Walhasil ketika kekayaan tak juga terkumpul, ia menjadi mudah stress, marah dan bosan dengan pekerjaannya. Di sini terlihat bahwa nan mengacaukan kenyamanan hatinya ialah dirinya sendiri, tanpa kontaminasi pihak luar.

Ada kalanya pula, seseorang telah berencana buat istiqomah dalam menabung, namun di kemudian hari ia mengikuti hawa nasfunya buat membeli barang-barang agar sekedar mengikuti trend, nan kadang barang tersebut tak begitu krusial dalam kebutuhan hidupnya. Hingga tabungannya terkuras dan ia mulai kewalahan menutupi setiap lubang kebutuhan nan wajib. Di sini tampak bahwa nan mengacaukan rencananya ialah dirinya sendiri.

Di sisi lain, seseorang telah berniat buat menjalani hayati nan baik, menjadi orang baik, dan memelihara hati nan baik, namun hanya karna gangguan kecil dari dinamika hari-harinya, akhirnya ia berubah menjerumuskan diri melakukan hal-hal negative nan merusak niatnya. Kemudian menerima dampak dari perbuatan negative nan di pilihnya, dan terjauhlah ia dari cita-cita nan telah di rencanakannya. Di sini tampak bahwa nan menghancurkan dirinya ialah sikapnya sendiri.

Banyak orang tak sadar, ketika ia telah memutuskan sebuah planning atau niat nan baik, tentu ia akan menemui berbagai macam keadaan nan menguji komitmennya dalam menjalani nan baik-baik tersebut.

Padahal dalam ajaran agama juga telah di jelaskan, sesuatu nan baik dan sahih niscaya akan selalu menemui cobaan dan rintangan buat memperkokoh dan menambah ilmu si peniat agar lebih kuat buat menemui kejadian demi kejadian nan akan datang.

Begitu pula dalam interaksi sosial, interaksi kemasyarakatan, banyak orang menjerumuskan dirinya dengan cara mengikuti hal-hal nan di luar tujuan nan bermanfaat. Sebut saja beberapa contoh: bicara kemana-mana tapi bicara nan tak mendatangkan manfaat, berjalan dan berkunjung kesana-kemari tapi tak ada manfaat, berlama-lama duduk di posko-posko, duduk di kafe-kafe tapi tak ada nan di kerjakan bermanfaat. Acara-acara, rapat-rapat, lomba-lomba, tapi tak mendatangkan hasil nan bermanfaat. Meski sekedar bermanfaat buat dirinya sendiri.

Keinginan-keinginan dirinya nan majemuk terus di ikutinya tanpa tahu tujuan dari keinginannya tersebut. Waktu nan tersia-sia habis namun keinginannya tak juga habis. Dampak dari melaksanakan hal-hal di luar tujuan nan baik akhirnya ia merasa lelah dengan hidupnya, merasa jemu dengan kondisinya, dan berkepanjangan mengeluhkan keadaannya.

Jika saat seperti itu melanda, segeralah tarik kembali diri. Ingat lagi apa nan menjadi tujuan dan nan di cita-citakan. Hendaknya kegiatan nan di lakukan tak jauh dari tujuan nan baik dan bermanfaat dan tak melenceng dari niat baik nan telah direncanakan.

Tidak melayani jika keinginan lain dari tujuan datang mengganggu, sebab watak keinginan jika sekali di layani maka ia akan minta terus di layani. Dan pada akhirnya akan sulit di hentikan dengan cepat.

Jika seseorang bisa terus menjaga komitmennya tetap berada dalam tujuan nan telah ia niatkan, maka ia tak akan terjerumus oleh keinginan-keinginan nan di luar niatnya. Karena pihak luar tak bisa menghancurkan dirinya selain dari pada ia izinkan pihak tersebut mempengaruhinya. Maka di sinilah dikatakan nan menghancurkan pondasi dirimu, ialah sikapmu sendiri.

Mestinya dalam segala keadaan dan dalam setiap masalah, seseorang telah teguh niatnya  agar tak mudah terkontaminasi oleh perasaannya dan tak mudah terhasut oleh gaya lingkungan. Dengan demikian ia lah nan menguasai dunianya sendiri.

Hikmah

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy