Nabi Ayub pun Tersenyum

Nabi Ayub pun Tersenyum

Allah mencintai hamba-hamba-Nya dengan cara nan unik dan berbeda-beda. Semakin tinggi ketakwaan seorang hamba, semakin unik cara Dia mencintainya. Salah satunya ialah Nabi Ayub. Lelaki nan diamanahkan Allah buat mengemban misi ketuhanannya itu dicintai Allah dengan penyakit nan sangat parah. Tak tanggung-tanggung, sebab penyakitnya itu, Ayub alaihi salam dijauhi sahabat dan kerabatnya. Mereka tidak tahan berdekatan lantaran aroma tidak sedap dan takut tertular.

Maha kudus Allah nan telah menciptakan manusia semulia Ayub. Ia tidak pernah membenci Allah dengan takdirnya, tidak pula ia merasa bahwa Tuhan nan dicintainya itu tidak adil terhadapnya. Semakin berat sakit nan dirasa, semakin cinta Ayub kepada Allah. Dan mulianya Ayub, semakin parah penyakitnya semakin ia tersenyum. Allah dan para malaikat pun kan tersenyum oleh kesabaran lelaki mengagumkan itu.

Memang takkan sebanding jika sekarang aku mengajukan sebuah nama buat menyandingkannya dengan Nabi Allah itu. Namun teramat banyak aku harus belajar tentang arti kesabaran dan cinta kepada Allah dari sahabat nan satu ini. Hesti, alias Titi nan lima belas tahun menderita radang sendi sehingga ia kini hanya dapat tergolek tidak berdaya di kamar tidurnya. Namun ia tetap terlihat ceria dan bersemangat menjalani hidupnya. “Saya ingin terlihat tetap bersyukur, dan aku ingin tersenyum saat harus menghadap-Nya,” ujar gadis itu.

Kemarin saat bertelepon dengannya, aku bertanya satu hal nan paling tak ingin aku tanyakan kepadanya sebab risi menyinggung perasaannya. “Mbak, tidak inginkah mbak Titi sembuh?”

Saya tidak pernah menyangka jawabannya. “Tidak, sebaiknya aku tetap seperti ini sambil Allah memberikan kehendaknya.”

Titi pun menjawab penasaran aku nan seolah bertanya, “kenapa.” Menurutnya, ia amat bersyukur Allah menimpakan penyakit ini kepadanya, meski sudah sangat lama ia menjalani hari-harinya di kamar tidur. Hayati dengan donasi orang lain, bahkan buat ke kamar kecil sekali pun. Radang sendi nan dideritanya membuat seluruh persendiannya sakit tidak berdaya. Ia membutuhkan donasi orang lain buat seluruh aktivitasnya.

Tapi Titi tetap tersenyum. “Kalau aku sembuh, aku tak konfiden akan tetap sedekat ini dengan Allah. Saya tidak pernah konfiden akan tetap khusuk beribadah, akan menangis di setiap sujud panjang aku jika aku dapat berdiri dan sehat. Boleh jadi aku akan menjauh dari-Nya, hayati dalam kesenangan nan membuat aku lupa akan kematian,” tuturnya.

“Jadi, mbak tak ingin sembuh?” tambah aku nan semakin termangu oleh kata-kata ajaibnya.

“Biarlah aku tetap seperti ini. Saya konfiden Allah sedang mencintai aku dengan takdirnya. Jujur, aku tidak ingin sembuh sebab aku takut Allah tidak lagi mencintai saya.” Duh, Titi rasanya tidak ada alasan Allah tidak mencintaimu. Sungguh aku iri kepada Titi, sebab aku konfiden Nabi Ayub akan pun tersenyum melihat Titi. ***

Oase iman

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy