Najiskah Sofa nan Terkena Air Kencing Anak Balita

Najiskah Sofa nan Terkena Air Kencing Anak Balita

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ustadz nan terhormat, kami mempunyai anak balita (1,5 tahun), kesukaannya bermain menaiki sofa sambil berlocat-loncat, dan tidak sporadis kadang ia pipis di atas sofa tersebut. Setiap kali habis terkena air kencing sofa tersebut kami bersihkan dengan kain nan nan dibasahi air dan sabun, kemudian dibilas dengan kain nan dibasahi air saja. Namun setelah kering, bau ompolnya masih tercium. Najiskah kita nan duduk di atas sofa tersebut? Terima kasih atas jawabannya ustadz

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Di antara indikator najis itu antara lain ialah warna, aroma dan rasa. Dari segi warna, najis itu punya rona nan khas. Sehingga ketika kita membersihkan najis, maka targetnya agar warnanya menjadi hilang. Dari segi aroma, pensucian najis itu seharusnya tak meninggalkan aroma nan khas berasal dari najis itu. Demikian juga dari segi rasa, seharusnya tak terasa najis. Rasa di sini maksudnya bukan perasaan melainkan sesuatu nan dikecap oleh lidah.

Karena itu ketika membersihkan sofa, selain dengan kita menggunakan media air, tak ada salahnya bila kita juga menggunakan wewangian tertentu. Biasanya sabun nan dijual di pasar sudah mengandung parfum buat menghilangkan bau nan tak sedap. Dengan demikian, baunya akan hilang, selain rona dan rasa.

Jalan keluar seperti ini tentu sangat ideal, sebab kita memang telah sahih menghilangkan najis nan terdapat di sofa.

Tapi selain cara ini juga dapat disiasati dengan cara nan lain nan lebih sederhana. Yaitu dengan memberi alas pada sofa. Di mana alas itu berupa kain nan dapat digonta-ganti setiap hari. Bila kain alas sofa itu terkena najis, dapat langsung dicopot dan diganti dengan nan higienis dan suci. Anda tak harus repot-repot tiap hari mencuci sofa nan tentu biayanya mahal.

Sediakan saja beberapa helai kain alas sofa, sehingga begitu kena najis, sofa itu tetap dapat digunakan buat duduk tanpa harus mengakibatkan mereka nan duduk terkena najis.

Najis Balita

Dalam fiqih kita mengenal najis mukhaffafah, yaitu najis ringan nan cara mensuciannya lebih ringan. Cukup dengan diperciki air saja, maka najis itu telah hilang.

Namun najis ringan ini hanya berlaku pada satu jenis najis saja, yaitu air kencing anak laki-laki nan belum makan apa pun kecuali air susu ibunya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini.

عن أم قيس بنت محصن أنها أتت بابن لها صغير لم يأكل الطعام إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فبال على ثوبه فدعا بماء فنضحه عليه ولم يغسله رواه الجماعة

Dari Ummi Qais ra. bahwa dia datang kepada Rasulullah SAW dengan membawa anak laki-lakinya nan belum dapat makan. Bayi itu lalu kencing lalu Rasulullah SAW meminta diambilkan air dan beliau memercikkannya tanpa mencucinya.` (HR Bukhari 223 dan Muslim 287)

عن علي بن أبي طالب أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: بول الغلام الرضيع ينضح وبول الجارية يغسل قال قتادة: وهذا ما لم يطعما فإذا طعما غسلا جميعا. رواه أحمد والترمذي وقال: حديث حسن

Dari Ali bin Abi Thalib ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Kencing bayi laki-laki itu cukup dengan memercikkanya saja. Sedangkan kencing bayi wanita harus dicuci." Qatadah berkata, "Dan ini bila belum makan apa-apa, tapi bila sudah makan makanan, maka harus dicuci." (HR Tirmizi dan beliau menshahihkannya)

Syarat ini tentu saja tak terpenuhi pada balita Anda nan sudah berusia 1,5 tahun. Sebab balita tersayang Anda itu pastilah sudah banyak makan dan minum selain air susu ibunya.

Air kencing balita Anda itu tak dapat digolongkan sebagai najis ringan, tetapi termasuk najis sedang nan cara membersihkannya harus dengan air hingga hilang warna, rasa dan aroma.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Thaharah

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy