Niat Mandi Junub dan Tata Caranya

Niat Mandi Junub dan Tata Caranya

Assalamu’alaikum wr wb

Pak Ustadz, apakah sahih bila seseorang nan dalam keadaan junub terus mandi besar tapi tak di niatkan buat mandi junub maka mandinya dianggap seperti mandi biasa bukan mandi junub?

Dengan kata lain badannya masih dalam keadan hadast besar sampai dia mandi nan diniati buat mandi junub. Kalau benar, bagaimana dengan amalan orang tersebut seperti sholat, sedangkan dia masih dalam keadaan junub.

Menurut saya, bukankah amalan seseorang dilihat dari niatnya?Kalo dia dalam keadaan junub terus mandi, bukankah di dalam hati sudah berniat buat membersihkan diri dari hadast besar/berniat buat mandi junub?

Yang terakhir, mohon dijelaskan adab nan dicontohkan nabi dalam hal mandi junub ini.

Wassalamualaikum wr wb

Assalamu ‘alaikum warahatullahi wabarakatuh,

Memang sahih bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Sesungguhnya amal-amal itu dengan niat, dan setiap orang mendapatkan pahala sinkron dengan niatnya.

Oleh sebab itulah maka setiap mujtahid selalu menyebutkan bahwa rukun pertama pada suatu ibadah itu ialah niat. Rukun nan pertama dalam ibadah wudhu’ ialah niat. Rukun nan pertama dalam ibadah tayammum ialah niat. Rukun nan pertama dalam ibadah mandi janabah ialah niat. Rukun nan pertama dalam ibadah shalat ialah niat. Pendeknya, semua ibadah punya rukun, dan rukun nan pertama ialah niat.

Tanpa niat, maka suatu ibadah tak akan diterima Allah. Sebab niat ialah rukun, di mana bila salah satu rukun tak terpenuhi dalam suatu ibadah, maka ibadah itu ibarat bangunan nan kehilangan tiang pondasi. Roboh dan rata dengan tanah.

Niat Dalam Hati, Lafadz di Lidah

Namun kalau disebutkan kata ‘niat’, biasanya asosiasi kita langsung tertuju kepada lafadz atau bacaan niat. Padahal seluruh ulama mujtahid sepakat sejak awal bahwa nan namanya niat itu di hati, bukan di lidah.

Yang diucapkan di lidah bukan niat, melainkan lafadz niat. Lafadz niat oleh sebagian ulama dianggap sebagai penguat dari niat. Namun oleh sebagian ulama lain justru tak boleh diucapkan, sebab tak ada contoh dari Rasululah SAW. Memang ada khilaf di kalangan para ulama mazhab tentang hukum melafadzkan niat ini. Tetapi nan pasti, seluruh ulama sepakat bahwa niat itu bukan lafadz nan diucapkan, melainkan apa nan ditetapkan di dalam hati.

Niat Mandi Janabah

Karena itu kalau ingin mandi janabah, niatkan saja di dalam hati bahwa kita akan mandi janabah. Dan hal itu tak membutuhkan apapun, kecuali menyengaja di dalam hati. Tidak perlu melafadzkannya secara lisan. Sebab niat itu memang tempatnya di dalam hati.

Kalau di dalam hati sudah ada niat buat mandi janabah, lalu mandilah sinkron dengan apa nan diajarkan oleh Rasulullah SAW. Maka mandi itu sudah absah sinkron dengan haukum syariah Islam. Sudah dapat mengangkat hadats besar.

Akan tetapi kalau di dalam hati sama sekali tak berniat buat mandi janabah, meski pun diteruskan dengan mandi sinkron dengan tata cara nan diajarkan oleh Rasulullah SAW, tentu tak terhitung sebagai mandi janabah nan sah.

Mengapa?

Ya, sebab kita sendiri tak berniat buat melakukannya sebagai sebuah ritual nan sah. Dan niat ini membedakan antara seorang nan mandi janabah betulan dengan sekedar mempraktekkannya. Seorang guru nan sedang mengajarkan tata cara mandi janabah, lalu mandi betulan, belum tentu mandi janabahnya itu sah. Tergantung niatnya, apakah dia memang betul-betul mau berniat mandi janabah, ataukah niatnya hanya sekedar memberi contoh praktis saja.

Semua kembali kepada niatnya. Dan niat itu di dalam hati, bukan di lidah.

Tata Cara Mandi Janabah

Adapun urutan-urutan tata cara mandi junub, ialah sebagai berikut

  1. Mencuci kedua tangan dengan tanah atau sabun lalu mencucinya sebelum dimasukan ke wajan loka air
  2. Menumpahkan air dari tangan kanan ke tangan kiri
  3. Mencuci kemaluan dan dubur.
  4. Najis-nsjis dibersihkan
  5. Berwudhu sebagaimana buat sholat, dan mnurut jumhur disunnahkan buat mengakhirkan mencuci kedua kaki
  6. Memasukan jari-jari tangan nan basah dengan air ke sela-sela rambut, sampai ia konfiden bahwa kulit kepalanya telah menjadi basah
  7. Menyiram kepala dengan 3 kali siraman
  8. Membersihkan seluruh anggota badan
  9. Mencuci kaki

Semua itu didasarkan pada klarifikasi isteri Rasulullah SAW tentang bagaimana beliau mandi janabah.

Aisyah RA berkata, `Ketika mandi janabah, Nabi SAW memulainya dengan mencuci kedua tangannya, kemudian ia menumpahkan air dari tangan kanannya ke tangan kiri lalu ia mencuci kemaluannya kemudia berwudku seperti wudhu` orang shalat. Kemudian beliau mengambil air lalu memasukan jari-jari tangannya ke sela-sela rambutnya, dan apabila ia konfiden semua kulit kepalanya telah basah beliau menyirami kepalnya 3 kali, kemudia beliau membersihkan seluruh tubhnya dengan air kemudia diakhir beliau mencuci kakinya (HR Bukhari/248 dan Muslim/316)

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Thaharah

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy