Open Your Heart

Open Your Heart

Seorang teman: Dhodie, Ketua Blogger Depok (deBlogger) menulis di Twitter “Kadang kita gak sangka kapan dan dari mana pertolongan itu datang”. Entah apa nan sedang dirasakannya, entah apa nan sedang terpikirkannya. Yang niscaya saya, dan kita semua pastilah sependapat dengan kata-kata ini.

Kata-kata ini, semacam air nan membasahi tenggorakan saat buka puasa tiba. Menyegarkan. Dan, ketika mendapatinya di pagi manis ini, rasa-rasanya semakin menumbuhkan gairah buat bekerja, buat berkarya. Demi mewujudkan cita-cita nan diam-diam selalu kita simpan kedap di hati. Mungkin, buat sebuah rumah mewah, mobil berkelas, mengunjungi kota-kota nan aduhai, mendapat banyak uang. Atau sekedar buat mendapat selembar rupiah agar dapat membeli novel mengharukan buat bacaan di akhir pekan.

“Open Your Heart” Katanya lagi.

Ya, membuka hati. Kata ini sederhana saja. Hanya saja, bagi aku mempraktekkannya sulit nian. Derajat religiusitas aku mungkin pas-pasan sekali. Saya kadang begitu susah buat membuka hati. Begitu susah menerima keadaan nan sama sekali tak aku inginkan. Tak tahulah aku kenapa dapat begini. Kalaupun bisa, lama sekali waktunya.

Kau bagaimana, apakah merasakan hal nan sama? Semoga tidak.

Jujur, aku pernah kecewa dengan keadaan. Dulu Saya kecewa dilempar dari kursi kampus sebab talat bayar SPP padahal aku kampiun karya tulis akademis nomer dua dan kampiun pertama karya tulis apesiasi seni. Saya kecewa ditipu rekan bisnis teman sendiri, aku kecewa motor satu-satunya buat aktivitas kerja digondol maling, aku kecewa mbak penerbit menghilang ketika aku sukses menulis sebuah buku buat mereka, aku kecewa orang nan aku cintai pergi begitu saja, aku kecewa ibu aku harus meninggal di usia muda terkena kanker sebelum aku sempat membalas kebaikan-kebaikannya dll

Sulit sekali membuka hati atas semua itu
Bisa dan rela menerima keadaan. Tapi lama.

Lalu, aku menyadari kayaknya memang ada nan salah dalam diri dan hati saya. Selain religiusitas nan perlu ditingkatkan sepertinya manajemen hati memang persoalan nan mesti aku selesaikan lebih dini. Menyadari mungkin dengan begitulah global akan terbuka. Menyadari bahwa kadang hayati memang tidak sinkron dengan nan kita harapkan dan kita mesti harus berjalan.

Menyadari bahwa itu hanyalah cobaan kecil saja. Meyakini bahwa orang lain mungkin malah pernah menghadapi persoalan nan lebih parah, lebih rumit dari semua kekecewaan-kekecewaan di atas. Sayangnya pencerahan dan keyakinan semacam ini lama sekali aku peroleh. Mungkin sahih kata seorang itu, aku begitu lemah. Dan seorang nan lemah tidak mungkin menjadi imam nan baik dan dapat diandalkan.

Pagi ini, aku belajar tentang semua itu. Hayati nan rumit penuh masalah justru malah menantang. Dan tentu saja mengasyikkan. Kesempurnaan justru malah membuat bosan. Seperti kisah dalam Eat, Pray and Love. Perempuan itu sudah punya segalanya. Suami nan baik, rumah mewah, fasilitas serba ada. Namun hampa. Ia kemudian melepas semuanya, termasuk menceraikan suaminya tanpa karena nan jelas. Begitulah. Global memang aneh.

Dan, membuka hati. Ah. Rasa-rasanya memang perlu dan senantiasa terasah selalu. Membuka hati, ialah jalan menuju kebahagiaan. Dan kebahagiaan, itulah nan selama ini kita cari dan selalu kita inginkan. Begitu juga, ketika kita benar-benar sudah angkat dengan keadaan, seperti kata teman di atas, tentunya ketika kita konfiden akan Tuhan, yakinlah bahwa pertolongan itu niscaya datang []

*Penulislepas, tinggal di Jakarta

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy