Pakai Sayyidina dalam Shalawat, Bagaimana Hukumnya?

Pakai Sayyidina dalam Shalawat, Bagaimana Hukumnya?

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pak ustadz, aku mau tanya tentang hukum membaca shalawat kepada nabi di saat kita sedang duduk tahiyat akhir. Apakah shalawat itu hukumnya wajib ataukah sunnah?

Kemudian juga tentang penambahan kata ‘sayyidina’ dalam shalawat itu, boleh ditambahkan atau haram hukumnya. Klarifikasi ustadz sangat aku harapkan

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mazhab As-Syafi`iyyah dan Al-Hanabilah menyatakan bahwa shalawat kepada nabi dalam tasyahhud akhir hukumnya wajib. Sedangkan shalawat kepada keluarga beliau SAW hukumnya sunnah menurut As-Syafi`iyah dan hukumnya wajib menurut Al-Hanabilah.

Untuk itu kita dapat merujuk pada kitab-kitab fiqih, misalnyakitab Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halama 173, atau juga dapat dirunut ke kitab Al-Mughni jilid 1 halaman 541.

Sedangkan menurut Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah, membaca shalawat kepada nabi pada tasyahhud akhir hukumnya sunnah. Demikian juga dengan shalawat kepada keluarga beliau.

Keterangan ini juga dapat kita lihat pada kitab Ad-Dur Al-Mukhtar jilid 1 halaman 478 dan kitab Asy-Syarhu Ash-Shaghir jilid 1 halaman 319.

Adapun lafaz shalawat kepada nabi dalam tasyahud akhir seperti nan diperintahkan oleh Rasulullah SAW adalah:

اللهم صلى على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

Allahumma Shalli `ala Muhammad wa `ala aali Muhammad, kamaa shallaita `ala Ibrahim wa `ala aali Ibrahim. Wa baarik `ala `ala Muhammad wa `ala aali Muhammad, kamaa barakta `ala Ibrahim wa `ala aali Ibrahim. Innaka hamidun majid.(HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarganya, sebagaimana shalawat-Mu kepada Ibrahim dan kepada keluarganya. Berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana barakah-Mu kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkah Maha Terpuji dan Maha Agung.Masalah Penggunaan Lafaz ‘Sayyidina’ Di dalam kitab Ad-Dur Al-Mukhtar jilid 1 halaman 479, kitab Hasyiyah Al-Bajuri jilid 1 halaman 162 dan kitab Syarhu Al-Hadhramiyah halaman 253 disebutkan bahwa Al-Hanafiyah dan As-Syafi`iyah menyunnahkan penggunaan kata [sayyidina] saat mengucapkan shalawat kepada nabi SAW (shalawat Ibrahimiyah). Meski tak ada di dalam hadits nan menyebutkan hal itu.

Landasan nan mereka kemukakanadalah bahwa penambahan kabar atas apa nan sesungguhnya memang ada merupakan bagian dari suluk (adab) kepada Rasulullah SAW. Jadi lebih primer digunakan daripada ditinggalkan.

Sedangkan hadits nan menyebutkan bahwa Rasulullah SAW berkata,`Janganlah kamu memanggilku dengan sebuatan sayyidina di dalam shalat`, ialah hadits maudhu` (palsu) dan dusta. (lihat kitab Asna Al-Mathalib fi Ahaditsi Mukhtalaf Al-Marathib karya Al-Hut Al-Bairuti halaman 253).

Adapun selain mereka, umumnya tak membolehkan penambahan lafadz [sayyidina], khususnya di dalam shalat, karena mereka berpedoman bahwa lafadz bacaan shalat itu harus sinkron dengan petunjuk hadits-hadits nabawi. Bila ada kata [sayyidina] di dalam hadits, harus diikuti. Namun bila tak ada kata tersebut, tak boleh ditambahi sendiri.

Demikianlah, ternyata para ulama di masa lalu telah berbeda pendapat. Padahal dari segi kedalaman ilmu, nyaris hari ini tak ada lagi sosok seperti mereka. Kalau pun kita tak setuju dengan salah satu pendapat mereka, bukan berarti kita harus mencaci maki orang nan mengikuti pendapat itu sekarang ini. Sebab merekahanya mengikuti fatwa para ulama nan mereka yakini kebenarannya. Dan selama fatwa itu lahir dari ijtihad para ulama sekaliber fuqaha mazhab, kita tak mungkin menghinanya begitu saja.

Adab nan baik ialah kita menghargai dan mengormati hasil ijtihad itu. Dan tentunya juga menghargai mereka nan menggunakan fatwa itu di masa sekarang ini. Lagi pula, disparitas ini bukan disparitas dari segi aqidah nan merusak iman, melainkan hanya masalah kecil, atau hanya berupa cabang-cabang agama. Tidak perlu kita sampai meneriakkan pendapat nan berbeda dengan pendapat kita sebagai tukang bid’ah.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuhAhmad Sarwat, Lc.

Umum

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy