Pelajaran dari Konflik Berdarah di Makam Habib Hasan Al-Haddad

Pelajaran dari Konflik Berdarah di Makam Habib Hasan Al-Haddad

Konflik berdarah di makam Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad menyisakan suatu fenomena tersendiri di hati umat Islam. Umat Islam seperti terkesima ketika di era nan disebut reformasi saat ini, ternyata kerangka berpikir orde baru masih bercokol di logika pemegang kekuasaan.

Logika itu seperti menyatakan bahwa umat Islam dan simbol-simbol keislaman tak bernilai apa-apa ketika berhadapan dengan apa nan mereka sebut dengan pembangunan. Ketika itu dianggap menjadi penghalang, lagi-lagi logika orde baru bilang, jalan kekerasan merupakan pilihan efektif. Logika itulah nan menyegarkan kembali bayang-bayang tragedi Tanjung Priok di era delapan puluhan.

Seperti nan diucapkan para pengacara pakar waris makam Habib Hasan Al-Haddad, ada sejumlah kejanggalan dalam konflik berdarah itu. Suhendri Hasan misalnya, menyatakan bahwa instruksi gubernur nomor 132 nan menjadi dasar operasi penertiban itu ditandatangani oleh wakil gubernur.

”Bagaimana mungkin sebuah surat nan bernama instruksi gubernur, kok ditandatangani oleh wakil gubernur,” ucap Suhendri kepada wartawan ketika konflik itu sedang berlangsung, Rabu kemarin.

Anehnya lagi, masih menurut Suhendri, penertiban ditujukan kepada properti milik orang lain. Setidaknya, masih dalam sengketa. Dan bukan sebuah kebetulan, properti nan ditertibkan itu ialah simbol sejarah Islam Jakarta nan nilainya begitu berharga buat pendidikan generasi mendatang.

”Kalau nan bersengketa pakar waris makam dengan Pelindo, kenapa aparat pemda nan main gusur,” tegas Suhendri saat itu.

Kedua, apa nan disampaikan kuasa hukum pakar waris,Yan Juanda, mengejutkan banyak pihak di lembaga obrolan pemda dan ulama kemarin. Menurutnya, janji-janji PT Pelindo terhadap renovasi dan pemeliharaan makam bukan satu dua kali. Tapi sering dan selalu diingkari.

Tidak heran jika janji-janji PT Pelindo di lembaga obrolan itu masih menyisakan tanda tanya tersendiri di ormas Islam nan hadir. Benarkah ada keseriusan dan keberpihakan terhadap properti nan menjadi simbol umat Islam, khususnya warga Jakarta.

Dari konflik nan sempat menoreh luka lama umat Islam terhadap penguasa ini, mengundang sebuah tanda tanya tersendiri buat umat Islam Indonesia. Sudah berubahkah sebenarnya kerangka berpikir kekuasaan di era reformasi saat ini terhadap pemberdayaan umat Islam nan menjadi pewaris absah negeri inI? mnh

**
Redaksi mengucapkan terima kasih atas partisipasi pembaca dalam menyampaikan komentar di edisi Obrolan sebelumnya. Semoga dapat bermanfaat buat kita semua.

Suara kita

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy