Pembagian Warisan Cucu dan Keponakan

Pembagian Warisan Cucu dan Keponakan

Ass. wr. wb.

Pak ustazd nan dirahmati Allah, aku ada pertanyaan berkaitan dengan pembagian harta warisan. Kasusnya sebagai berikut:

Si A (perempuan) meninggal dengan meninggalkan harta 100 juta. Pakar waris nan ada adalah: beberapa orang cucu (laki-laki dan perempuan) dari beberapa orang almarhum anaknya nan laki-laki dan perempuan dan seorang ponaan laki-laki dari anak almarhum saudaranya nan laki-laki. Pertanyaan: siapa sajakah nan berhak mendapat warisan dari si A tersebut? Apakah ponaannya dari alm. adiknya nan laki-laki juga mendapatkannya dari sudut hukum Islam, dan berapa bagian dari masing-masing mereka?Atas kesediaan & waktunya menjawab pertanyaan, aku ucapkan banyak terima kasih,

Wassalamu’alaikum wr.wb,Khoir

Assalamu ‘alaikum wwarahmatulahi wabarakatuh,

Yang berhak mendapatkan warisan dari data nan Anda sampaikan ialah cucu almarhumah. Dengan catatan bahwa data dari Anda itu valid tanpa ada pakar waris lainnya nan masih tercecer. Dengan demikian, kita menganggap bahwa almarhumah meninggal tanpa keberadaan keluarga lainnya nan masih hidup. Tidak ada suami, anak, ayah, kakek, nenek, ibu, saudara laki atau perempuan atau lainnya nan masih hayati ketika almarhumah wafat.

Cucu almarhum memang mendapat bagian. Namun dengan catatan bahwa nan menerima warisan hanyalah cucu dari jalur anak laki-laki saja. Sedangkan cucu dari jalur anak perempuan, memang tak termasuk di dalam daftar penerima warisan.

Cucu dari jalur anak laki-laki kemudian juga dibedakan jenis kelaminnya, antara nan berjenis kelamin laki-laki dan nan berjenis kelamin perempuan. Sebagaimana nan telah dijadikan dasar di dalam Al-Quran, nan perempuan akan mendapat 1/2 dari nan didapat oleh laki-laki.

Allah mensyari’atkan bagimu tentang anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan (QS. An-Nisa': 12)

Sedangkan keponakan laki-laki dari anak almarhum saudaranya nan laki-laki tak termasuk nan menerima wwarisan. Sebab almarhum punya cabang waris berupa cucu laki-laki. Kedudukan cucu laki-laki ini menghijab (menutup) kesempatan keponakan buat mendapatkan bagian warisan.

Kalau kita perhatikan daftar pakar waris nan ada, berarti almarhumah tak punya pakar waris secara fardh, nan ada hanya pakar waris secara ashabah, yaitu para cucu dari jalur anak laki-laki. Sehingga cara membaginya sederhana sekali. Seluruh harta itu dibagi menjadi 2/3 dan 1/3. Di mana semua cucu laki-laki dari jalur anak laki-laki mendapat 2/3 x total harta warisan. Sedangkan semua cucu wanita dari jalur anak laki-laki mendapatkan 1/3 x total harta warisan.

Adapun cucu dari jalur anak wanita tak bisa apa-apa, sebab bukan termasuk pakar waris. Sedangkan keponakan nan seharusnya berhak ternyata terhijab oleh adanya cucu laki-laki. Sehingga keponakan pun tak mendapat apa-apa alias nihil.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum wwarahmatulahi wabarakatuh, Ahmad Sarwat, Lc.

Mawaris

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy