Pembatalan Nazar

Pembatalan Nazar

Assalamualaikum

Ustadz, apa hukum pembatalan nazar bagi seseorang nan sudah mengucapkan nazar?

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Nazar itu ialah mewajibkan atas diri sendiri buat melakukan sesuatu perbuatan (ibadah) buat Allah nan asal hukumnya tak wajib. (Lihat Kasysyaf Al-Qanna‘ an Matni Iqna‘ 6: 273, As-Sharh As-Shaghir 2: 249, Mughni Al-Muhtaj 4: 354 dan lain-lain).

Sebagai contoh ialah bernazar buat puasa Senin Kamis selama setahun. Hukum asal puasa Senin Kamis itu sunnah, namun dengan bernazar buat melakukannya selama setahun, maka hukumnya untuk nan bernazar berubah menjadi wajib. Dasar hukum nazar ialah firman Allah SWT berikut ini:

Dan hendaklah mereka melaksanakan nazarnya. (QS Al-Hajj: 29)

Mereka menunaikan nazarnya dan takut atas hari nan azabnya merata di mana-mana. (QS Al-Insan: 7)

Bila sebuah nadzar telah terlanjur diniatkan, Anda harus melaksanakannya. Sebab nan namanya janji itu ialah janji. Dan janji Anda kepada Allah SWT itu wajib buat dijalani. Dan pada dasarnya janji itu memang wajib buat ditepati.

Namun bila seseorang telah terlanjur berjanji lalu dia merasa tak mampu, maka Allah SWT telah mengajarkan bagaimana seharusnya seseorang bertindak. Di dalam Al-Quran al-Kariem disebutkan bahwa orang itu harus menebus janjinya itu dengan membayar kaffarah (denda).

لاَ يُؤَاخِذُكُمُ اللّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَـكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ الأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُواْ أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Allah tak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu nan tak dimaksud, tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah nan kamu sengaja, maka kaffarat sumpah itu, adalah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan nan biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi baju kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tak sanggup melakukan nan demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu ialah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur. (QS Al-Maidah: 89)

Dari ayat ini saja sudah cukup jelas bahwa kaffarah itu dapat dilakukan dengan:

  • Memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan nan biasa kamu berikan kepada keluargamu
  • Memberi baju kepada mereka
  • Memerdekakan seorang budak
  • Barang siapa tak sanggup melakukan nan demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari.

Maka sebaiknya memang kita menghindarkan diri dari bernadzar nan sekiranya akan memberatkan kita. Nadzarkan hal-hal nan ringan dan sekiranya tak akan memberatkan anda.

Bahkan sebagian ulama tak menganjuran bernadzar, sebaliknya mereka menganjurkan buat bertawassul dengan amal baik. Ketika kita sedang mengalami masalah, maka kita berdoa kepada Allah SWT buat membebaskan diri kita dari masalah, dengan menyebutkan amal baik nan pernah kita kerjakan.

Dari situ maka memang sebaiknya kita punya deposit amal baik nan besar, agar sewaktu-waktu dapat digunakan. Ibarat uang, sebaiknya kita punya deposit sebagai persiapan nan dapat digunakan kapan saja sewaktu-waktu. Bila tak ada persiapan, maka Anda harus berhutang kesana kemari. Bernadzar itu sama dengan berhutang. Jangan berhutang tapi menabunglah, itu lebih baik.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Umum

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy