Pengemis Tua Dan Zakat

Pengemis Tua Dan Zakat

Dalam sebuah perjalanan pulang, tapatnya di belakang stasiun Tambun aku melihat seorang kakek tengah berdiri di tengah terik panas. Kondisi fisik nan sudah tak lagi bugar, kulitnya nan keriput semakin legam karana sengatan matahari.

Jika diperhatikan sang kakek ini mempunyai kelainan pada salah satu panca inderanya. Saya melihat matanya selalu terpejam. Saya berasumsi bahwa sang kakek ini ialah tuna netra.

Sang kakek terus berdiri sembari menggenggam sebuah kaleng dan disodorkannya ke depan. Dengan mudah dapat ditebak apa nan sedang dilakukan oleh sang kakek itu nan tiada lain sedang meminta-minta belas kasih dari orang-orang nan lalu lalang. Asa sang kakek cukup sederhana yaitu mendapatkan sejumlah uang nan dimasukan ke dalam kaleng guna mencukupi kebutuhannya.

Sang kakek ternyata tak sendiri. Saya melihat seorang wanita nan juga sudah berumur senja sedang duduk menyandar pada sebuah lapak nan kosong. Letak lapak persis berada di belakang sang kakek berdiri. Tampak raut letih menghiasai paras sang nenek. Dengan duduk menyandar sambil menjulurkan kedua kakinya sang nenek seperti berharap agar letihnya dapat berkurang.

Kondisi sepasang sejoli nan sudah berusia senja itu cukup memperihatinkan. Sandang lusuh, fisik nan sudah tak bugar lagi membuat usia senjanya bak nestapa. Sungguh perjalanan di akhir waktu nan kurang bahagia.

Terpikir oleh aku kemanakah anak-anak dari kakek dan nenek itu? Begitu teganya kah mereka membiarkan orang tuanya mengais rezekinya sendiri ditengah kondisi fisik nan sudah tak bugar lagi? Atau mungkin kakek dan enenk itu tak mempunyai keturunan?

Entahlah, nan jelas ikut merasakan itu timbul dalam hatiku ini. Sungguh berbeda dengan sebagian orang nan sedang berada di usia senja dimana mereka sedang menikmati usia senjanya dengan nyaman. Ada nan menikmati afeksi dari anak-anaknya, ada nan menikmati penghasilan pensiunnya, ada juga nan sedang berbahagia dengan hasil usaha nan sudah dirintisnya ketika di usia muda.

Yang menjadi pertanyaan lagi dalam pikiran aku apakah kakek dan nenek itu masih menjalankan ibadah paling tak shalat nan 5 waktu? Sulit bagi aku buat meyakini bahwa mereka masih menjalankannya. Saya menyadari kehidupannya nan sulit sangat menyita waktu dan tenaga.

Mereka hanya berfikir bahwa hari ini aku harus makan dan buat mendapatkannya aku harus mengais rezeki dari pagi hingga petang. Padahal apa nan didapat dari hasil mengemis aku pikir tidaklah sebanding dengan tenaga nan dikeluarkannya. Istilahnya boro-boro buat shalat buat menghilangkan rasa lapar di perut saja mebutuhkan perjuangan nan berat. Namun semoga pikiran aku ini tidaklah tepat.

Seharusnya kakek dan nenek itu bisa menikmati usia senjanya itu dengan nyaman dan senang sama seperti orang-orang nan seusianya nan lain. Seharusnya pula pemerintah bertanggung jawab atas kehidupan mereka seperti nan termaktub dalam UUD 1945 bahwa fakir miskin itu dipelihara oleh negara. Namun pada kenyataanya tidaklah demikian.

Saya teringat satu hal nan sebenarnya dapat membantu orang-orang seperti kakek dan nenek itu. Zakat, ya, salah satu kewajiban nan terdapat dalam rukun Islam.

Dalam Islam ada perintah bahwa harta itu tak boleh berputar pada sekelompok orang. Islam mengajarkan bahwa harta itu haruslah mengalir pada semua kelompok terutama pada fakir dan miskin. Oleh sebab itu Islam memerintahkan kewajiban zakat bagi siapa saja orang Islam nan menjadi wajib zakat.

Berdasarkan hasil survey bahwa potensi zakat di Indonesia dapat mencapai 19 trilyun per tahunnya. Sungguh angka nan cukup tinggi dan dapat dipergunakan buat banyak hal nan bermanfaat jiak dapat dioptimalkan pengumpulannya.

Namun sayang pencerahan akan zakat belum terlalu besar. Besarnya potensi zakat belum diimbangi dengan taraf pencerahan umat Islam buat menjalankan kewajiban ini. Pada tahun 2008 zakat nan sukses dikumpulkan baru mencapai 900 milyar (www.antara.co.id/view/?i=1235991716&c=NAS&s=) sungguh angka nan masih nisbi kecil jika dibandingkan dengan potensinya.

Zakat sesungguhnya berguna buat menekan angka kemiskinan. Zakat sesungguhnya berguna buat menjembatani kesenjangan sosial nan ada. Seandainya potensi zakat itu tercapai maka kakek dan nenek itu tak perlu berdiri sepanjang hari melawan terik hanya buat mendapatkan beberapa koin uang receh.

Mengeluarkan 2.5% dari harta nan dimiliki tidaklah bergitu berarti sebab kita masih mempunyai 97.5% sisanya. Bahkan janji Allah SWT bahwa Dia akan melipat gandakan harta nan 2.5% itu. Selain sebagai pembersih harta Allah juga akan menghapus dosa-dosa kita. Artinya bukanlah suatu kerugian jika harus menunaikan zakat melainkan kita akan meraup laba nan berlimpah.

Tetapi memang karakter manusia itu cenderung pelit apabila mengenai materi. Kekhawatiran jatuh miskin menjadi halangan buat mengeluarkan sebagian rezekinya nan pada hakikatnya barasal dari Allah SWT.

Menjalankan perintah nan menjadi kewajiban memang tak mudah dan penuh godaan apalagi nan menyangkut materi keduniaan. Saya teringat dengan sebuah sajak WS Rendra nan cukup menggugah hati.

Renungan Indah
W.S. Rendra

Seringkali saya berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini
hanyalah titipan

Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa saya tidak pernah bertanya : mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???

Dan kalau bukan milikku, apa nan harus kulakukan buat milik-Nya itu ???
Adakah saya memiliki hak atas sesuatu nan bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah

Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja buat melukiskan kalau itu ialah derita

Ketika saya berdoa, kuminta titipan nan cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua "derita" ialah hukum bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat global kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah kawan dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusan-Nya nan tidak sinkron keinginanku
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hayati dan matiku hanya buat beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bala dan keberuntungan sama saja"…..

Semoga pada Ramadhan kali ini menjadi syahrul Tarbiyah dimana Allah akan melapangkan hati ini buat bisa berbagi dengan sesama.

Perumpamaan (nafkah nan di keluarkan oleh) orang-orang nan menafkahkan hartanya di jalan Allah. Adalah serupa dengan sebutir benih nan menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir, seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siap nan Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:261)

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy