Penggabungan Aqiqah dengan Kurban

Penggabungan Aqiqah dengan Kurban

Assalamu’alaikum ustaz,  Saya ada 2 pertanyaan:

1. Pada ‘idul adha nan akan datang, aku akan melaksanakan aqikah anak aku (laki-laki) juga anak saudara aku (laki-laki), lalu jumlah kambingnya empat ekor, planning akan aku tambah tiga ekor kambing lagi utk kurban agar menjadi 7 ekor (setara dgn seekor sapi). Bagaimana hukumnya kalau aku gabungkan ‘aqikah ini dengan kurban, dan aku ganti 7 ekor kambing tadi menjadi seekor sapi?

2. Saya menyaksikan banyak masyarakat kita nan dalam aplikasi berkurban membentuk panitia, nah,, panitia itu mengambil daging kurban buat dimasak dan dimakan oleh semua panitia nan bekerja nan jumlahnya juga banyak. Kadang daging nan diambil mencapai 25kg lebih, setelah itu juga panitia mendapat jatah sendiri-sendiri dari daging mentah kurban. Bagaimana persoalan ini dalam hukum Islam.

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Abu Syarif nan dimuliakan Allah swt

Menggabungkan Aqiqah Anak-anak Dengan Sapi

Didalam permasalahan ini, seperti keinginan Anda buat menggabung kan aqiqah anak Anda dengan anak saudara laki-laki Anda dan menjadikannya satu ekor sapi maka para ulama berselisih pendapat didalam membolehkannya.

Diantara mereka ada nan melarangnya, yaitu dari kalangan para ulama Hambali sebagaimana tertera didalam kitab-kitab mereka. Al Mardawi didalam kitabnya “al Inshaf” mengataan bahwa sandainya seseorang beraqiqah dengan seekor onta atau sapi maka tidaklah diperbolehkan kecuali seluruhnya. Terdapat nash dari Ahmad bin Hambal bahwa dirinya melarang hal ini.

Sedangkan para ulama Syafi’i membolehkan bergabung dalam satu ekor onta atau sapi, demikian disebutkan Nawawi didalam kitab “Al Majmu’”

Jadi sebagai bentuk kehati-hatian didalam hal ini ialah meninggalkan penggabung tersebut sebab tak terdapat nash-nash nan menyebutkan penggabungan didalam permasalahan ini (aqiqah, pen). Dan sesungguhnya ibadah ditegakkan diatas tauqif, artinya berdiri diatas nash-nash nan terdapat didalam al Qur’an dan Sunnah.

Kemudian orang-orang nan membolehkan penggabung—kalangan Syafi’iyah—mengqiyaskan aqiqah dengan ibadah kurban dan daging sembelihan pada saat haji. (Fatawa Syabakah Islamiyah 2/1006)

Niat Menggabungkan Aqiqah dengan Kurban

Adapun tentang niat menggabungkan antara aqiqah dengan kurban didalam hari raya kurban maka terjadi perselisihan dikalangan ulama menjadi dua pendapat. Sebagian dari mereka ada nan membolehkan, yaitu madzhab Ahmad dan orang-orang nan sepakat dengannya.

Sementara sebagian lainnya melarangnya sebab tujuannya berbeda. Tujuan dari kurban ialah sebagai tebusan atas diri sedangkan tujuan dari aqiqah ialah tebusan atas anak sebab itu tak dapat keduanya digabungkan.

Tidak diragukan lagi bahwa mengambil pendapat ini (yang kedua) ialah lebih primer bagi orang nan memiliki kelapangan rezeki dan memiliki kemampuan buat melakukannya. Dan bagi orang nan tak memiliki kelapangan rezeki maka mengambil pendapat Imam Ahmad lebih utama. (www.islamweb.net)

Daging Untuk Panitia Qurban

DR. Wahbah mengatakan bahwa tak diperbolehkan memberikan kulit kurban atau sesuatu nan lainnya kepada orang nan menyembelihnya bagai sebuah bayaran atas sembelihannya, sebagaimana riwayat dari Ali berkata,”Rasulullah saw telah memerintahkanku buat mengurus tentang onta-onta (sembelihan) dan saya membagi-bagikan kulit dan dagingnya dan saya tidaklah memberikan kepada orang nan menyembelihnya sesuatu pun darinya (dari sembelihan itu, pen).” Dia mengatakan,”Kami memberikannya dari milik kami sendiri.” (Muttafa Alaihi)

Akan tetapi jika seorang penyembelih diberikan sesuatu dari daging sembelihannya itu dikarenakan kefakirannya atau atas dasar hadiah maka hal itu dibolehkan sebab orang itu berhak buat mengambilnya sebagaimana orang lain bahkan orang itu lebih primer sebab dia ialah orang nan terlibat secara langsung dan telah mengucurkan keringatnya buat itu (penyembelihan). (Al Fiqhul Islam wa Adillatuhu juz IV hal 2741)

Memang keberadaan panitia kurban sangat dibutuhkan buat kelancaran aplikasi ibadah kurban ini. Namun demikian tak diperbolehkan bagi panitia ini buat mengambil sebagian dari daging-daging sembelihan itu buat kemudian dimasak dan dimakan bersama-sama kecuali apabila mereka semua termasuk kedalam golongan orang-orang faqir atau setelah mendapatkan izin sebelumnya dari orang-orang nan berkurban sebagai suatu hadiah dari mereka.

Wallahu A’lam

-Ustadz Sigit Pranowo, Lc-

Bila ingin memiliki  karya beliau dari  kumpulan jawaban jawaban dari Ustadz Sigit Pranowo LC di Rubrik Ustadz Menjawab , silahkan kunjungi link ini :

Resensi Buku : Fiqh Pada masa ini nan membahas 100 Solusi Masalah Kehidupan…

Ustadz menjawab

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy