Penjualan Bayi Semakin Marak, Tanggung Jawab Siapa?

Penjualan Bayi Semakin Marak, Tanggung Jawab Siapa?

Meski belum menjadi seorang istri, apalagi seorang ibu, tapi bukan berarti kita tidak dapat memahami kasih ibu pada anaknya. Bahwa 9 bulan ibu mengandung, hari demi hari menanti kelahiran buah hati, menahan berat nan semakin bertambah serta melakukan perjuangan luar biasa saat melahirkan, semua bisa kita lihat. Bahwa “kasih ibu sepanjang masa” –pun rasanya belum tergantikan dengan istilah manapun.

Namun, belakangan ini, warta tentang penjualan bayi begitu marak muncul di berbagai media. MasyaAllah, sedih rasanya. Di satu sisi, semua fakta itu menimbulkan tanda tanya, apakah sahih ada orang tua, atau ibu nan tega menjual bayinya, darah dagingnya sendiri. Di sisi lain, tidak pula bisa ditampik bahwa ternyata ada alasan mencengangkan nan menyebabkan orang tua rela menjual bayinya. Yang pertama ialah himpitan ekonomi. Begitulah setidaknya pengakuan sebagian ibu nan menjual bayinya. Ya Allah, mungkin para ibu itu lupa, bahwa setiap makhluk Allah telah ada rizqinya masing-masing. Namun, selayaknya fakta ini menjadi cambuk nan menyadarkan para pemimpin negeri ini. Bahwa tekanan ekonomi memang begitu berat dirasa. Kemiskinan begitu dekat dengan masyarakat sementara tidak sedikit penguasa nan berlimpah harta. Akhirnya, saat biaya hayati begitu mahal, termasuk biaya persalinan, ibu-ibu itu lalu ‘mewajarkan’ pilihan buat menjual bayinya.

Lalu terlepas dari kasus kemiskinan, ada pula penjualan bayi nan merupakan hasil di luar nikah. Naudzubillah. Negeri ini memang negeri muslim terbesar, namun tidak bisa dipungkiri bahwa pergaulan bebas telah terjadi dimana-mana. Beginilah saat kebebasan menjadi standar. Setiap orang bebas melakukan perbuatan nan ia inginkan. Suburnya pornografi, prostitusi, ialah salah satu akibat saja. Namun, nan menjadi korban pada akhirnya ialah anak nan tidak berdosa. Pilihan mereka seakan hanya dua: diaborsi atau dijual saat telah lahir. MasyaAllah.

Akhirnya, apapun alasan nan dikemukakan, tetap saja, bayi bayi mungil yang lucu itu ialah manusia. Manusia nan tidak layak buat diperjual belikan layaknya barang. Maka, masihkah penguasa akan menutup mata dengan persoalan ini? Maka masihkah masyarakat akan abai dengan kondisi sekitar? Wallaahu a’lam bish showab [] arini azzaharah <ptnarini@gmail.com>

 

Biodata:

Suara kita

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy