Perbaiki Diri, Ajak Orang Lain (2)

Perbaiki Diri, Ajak Orang Lain (2)

Perbaikilah dirimu dan ajak orang lain. Itulah pertama buat satu-satunya jalan dalam rangka membangun persatuan kaum muslimin, meninggikan mereka supaya mereka bisa menduduki loka nan wajar sebagaimana nan dikehendaki oleh Allah, sebagai golongan manusia nan memberi pedagogi kepada manusia serta menunjukkan mereka kepada siratul mustaqim.

"Kamu ialah umat nan terbaik nan dilahirkan buat manusia, menyeru kepada nan ma’ruf, dan mencegah dari nan mungkar dan beriman kepada Allah." Ali Imran: 110

"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat nan adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (pebuatan) kamu." Al-Baqarah: 143

Tujuan memperbaiki diri ialah buat mewujudkan pejuang dakwah nan sahih. Tujuan menyeru orang lain ialah buat memperbanyak golongan mukmin nan benar. Kemudian mereka akan mengikat janji buat bersaudara dan berkasih sayang buat menjadi satu dasar nan kokoh nan mempunyai iman nan teguh.

Di atasnyalah didirikan bangunan Islam nan menjulang tinggi nan merealisasikan kebenaran dan menghapuskan kebatilan, hingga muslimin menjadi pemimpin global dan beroleh senang di akhirat dan akhirnya janji Allah menjadi konkret di hadapan manusia.

"Dialah nan mengutuskan RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama nan hak agar dimenangkannya terhadap semua agama. Cukuplah Allah sebagai saksi." Al-Fath: 28

Kita telah membahas bagian pertama tentang memperbaiki diri dengan uraian serba ringkas serta beberapa penekanan. Sebelum aku membahas bagian kedua, yaitu mengajak orang lain kepada Allah, sebaiknya aku mengingatkan bahwa orang nan kita seru buat melalui jalan Allah, melalui jalan dakwah Islam, bahwa apa nan kita serukan kepadanya ialah semata-mata buat memperbaiki dirinya dan menyeru manusia kepada Allah. Ini merupakan perkara nan terpenting dalam urusan hayati mereka bahkan inilah perkara nan menentukan hayati mereka. Oleh sebab itu, siapa nan layak dalam perkara itu wajiblah ia memberi perhatian nan primer dan pertama kepada perkara itu.

Sesungguhnya kita menyeru dia dan manusia kepada satu perniagaan nan tak merugikan. Perniagaan nan melepaskan kita dari azab Allah. Dan ada padanya nikmat nan kekal, yaitu syurga dan tempat-tempat kediaman nan baik. Di samping itu ada padanya pertolongan dan pemberian kuasa dari Allah:

"Hai orang-orang nan beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan satu perniagaan nan bisa menyelamatkan kamu dari azab nan pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan rasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah nan lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui, pasti Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga nan mengalir di bawahnya sungai-sungai ‘Adn’. Itulah keberuntungan nan besar. Dan ada lagi kurnia nan lain nan kamu sukai yaitu pertolongan dari Allah dan kemenangan nan dekat waktunya. Dan sampaikanlah warta gembira kepada orang-orang nan beriman. " As-Saff: 9-13

Ini ialah satu urusan nan krusial dan besar. Sesungguhnya kita menyeru para aktivis dakwah supaya menyerahkan diri dan segala apa nan ada pada mereka buat perjuangan di jalan Allah. Kemudian, mereka juga mengajak nan lain buat menyerahkan dirinya dan segala apa nan ada padanya di jalan Allah.

Kita tak menyeru manusia supaya membeli saham di dalam satu rancangan perniagaan atau pertanian atau perusahaan buat melipatgandakan harta saudara nan hiperbola dari keperluan saudara. Tetapi kita menyeru saudara kepada satu perniagaan dengan Allah.

Dialah, Allah, nan membeli dari kita, diri kita dan harta kita dengan harga nan mahal. Ketahuilah bahwa harganya ialah syurga nan seluas langit dan bumi. Maka adakah lagi di sana satu perkara nan bisa menandingi perkara nan paling besar dan menentukan kesudahan kita?

Sekiranya para pengusaha dan pakar perniagaan global mengorbankan usaha mereka buat melariskan barang perniagaan mereka, memajukan rancangan mereka, menyebarkan iklan barang-barang mereka, mempamerkan dengan baik dan menarik hati manusia padanya dan menonjolkan laba nan diperolehi daripadanya. Alangkah baiknya kita mengorbankan segala usaha kita buat dakwah di jalan Allah, dakwah Islam nan memang lebih layak menerima layanan dari kita.

Kita tunjukkan dakwah itu kepada manusia dengan cara nan sebaik-baiknya. Kita kemukakan kepada mereka, menggembirakan hati mereka supaya mereka bisa menerima dengan bahagia dan puas hati. Kita mesti bersabar melakukannya. Alangkah besarnya laba nan akan pulang kepada pendukung dakwah nan menyeru manusia kepada Allah dan orang nan diseru apabila dia menyahut seruan pendukung dakwah Islam.

Urusan dakwah kepada Allah tak bisa disimpulkan dengan satu atau dua tajuk rencana, tetapi kita perlu merujuk kembali kepada buku-buku, risalah-risalah dan artikel-artikel nan ditulis di sekitar dakwah dan pendukung dakwah. Juga, tak boleh tidak, mesti melibatkan diri secara langsung dengannya dalam urusan dakwah nan membentuk da’i Ilallah nan membersihkan dan memberikannya pengalaman dan latihan. Memadailah di sini dengan menyebutkan beberapa pandangan dan ketenangan nan bisa dijadikan petunjuk. Semoga Allah memberkatinya.

Hendaklah diketahui bahwa para pendukung dakwah pada hari ini bukanlah para pendukung dakwah semalam sebab mereka pada hari ini ialah golongan nan terpelajar nan telah dipersiapkan, nan telah dilatih. Mereka terdiri dari golongan profesional (terutamanya di negara barat) di mana mereka mengkhususkan satu pasukan yeng terlatih bagi tiap-tiap fikrah buat menjelaskan perkara nan samar dan memunculkan perkara nan baik, dan mereka telah berupaya melakukan berbagai cara penyebaran dan jalan-jalan di’ayah dan propaganda serta mencari jalan nan paling hampir dan mudah dipercayai dan diterima pada jiwa manusia.

18.1 Kemuliaan dan Kepercayaan (Tsiqah)

Kemuliaan dan kebanggaan apa lagi nan saudara mau setelah saudara menjadi pendukung dakwah, penyeru kepada Allah, sebab sesungguhnya saudara menyeru kepada setinggi-tinggi cita-cita dan semulia-mulia tujuan. Sesungguhnya berdakwah kepada Allah itulah tugas Rasulullah s.a.w. kepada mereka semua. Tiap-tiap perkataan nan saudara serukan manusia kepada Allah, itulah sebaik-baik perkataan dan Allah telah menetapkan demikian dalam firmanNya:

"Siapakah nan lebih baik perkataannya daripada orang nan menyeru kepada Allah, mengerjakan nan saleh dan berkata. "Sesungguhnya saya termasuk orang-orang nan menyerah diri?" Fushilat: 33

"Dari kalangan orang-orang nan menyerah diri kepada Allah", adakah lagi di sana satu perkataan nan lebih mulia dari itu? Sesungguhnya kita menyeru manusia kepada kebenaran dan kebenaran inilah nan lebih patut diikuti. Apakah ada lagi selain kebenaran itu kecuali kesesatan.

Kita membawa mutiara dan cahaya supaya kita memandu manusia nan sesat di tengan-tengah kegelapan. Karena sesungguhnya kita berada di atas agama nan sahih nan diterima oleh Allah dan nan lain selainnya ialah batil. Al-Quran inilah kitab Allah nan tak mungkin dicampuri oleh kebatilan, apakah dari depan atau dari belakang.

Inilah kitab nan diturunkan dari Allah nan Maha Bijaksana lagi nan terpuji. Global pada hari ini sangat-sangat memerlukan agama ini buat menyelamatkan kecelakaan nan menimpanya. Marilah kita berdakwah, yakinlah, percayalah dan berpuas hatilah kepada kesempurnaan dan ketinggian apa nan kita serukan kepadanya.

18.2 Beberapa Perkara Yang Berhubungan dengan Pendukung Dakwah

Ad-da’i ilallah, pendukung dakwah mestilah tahu bahwa melaksanakan tugas dakwah kepada Allah ialah perkara nan wajib dan bukanlah perkara sukarela saja. Dia mesti berdakwah setiap masa, setiap loka dan dalam situasi dan kondisi apa pun walaupun di dalam penjara atau di bawah tekanan dan kesusahan. Sekalipun dia mengalami gangguan dan ujian, lantaran berdakwah kepada Allah, janganlah perkara tersebut menghalanginya dari meneruskan dakwahnya demi membawa kebaikan kepada manusia dengan kesabaran dan hanya mengharap pertolongan dan ganjaran dari Allah.

Allah berfirman:

"Siapakah nan lebih baik perkataannya daripada orang nan menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh dan berkata: "Sesungguhnya saya termasuk orang-orang nan menyerah diri?". Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara nan lebih baik, maka tiba-tiba orang nan di
antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman nan sangat setia. Sifat-sifat nan baik itu tak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang nan mempunyai keberuntungan nan besar". Fushilat: 33-35

Imam as-Syahid telah memberi wasiat dalam pengertian ini dengan berkata:

"Jadilah kamu di kalangan manusia seperti pohon buah. Mereka melemparnya dengan batu, tetapi dia membalas mereka dengan buah". Dan berkata lagi: "Wahai saudaraku sesungguhnya saudara hanyalah beramal buat dua tujuan: Supaya saudara berjaya dan menunaikan tugas nan wajib. Sekiranya tujuan pertama gagal, yaitu tak ada orang nan menyahut seruan saudara, janganlah pula saudara terlepas dari nan kedua, yaitu saudara memang harus menunaikan kewajiban".

Para pendukung dakwah nan menyeru manusia kepada Allah, mestilah menyeru manusia kepada Allah dari markas kekuatan dan kemuliaan, bukan dari markas kelemahan dan kehinaan. Dari kedudukan orang nan percaya, konfiden dan puas hati, bukan dari kedudukan orang nan ragu dan bimbang dan bukan dari kedudukan orang nan mempertahankan dan membela musuh-musuh Islam.

Para du’at kepada Allah mesti menjadi contoh teladan nan baik kepada apa nan diserukan dan benar-benar berjalan dengan apa nan diseru kepada manusia. Setiap nan diserukan itulah nan diperbuatnya, apa nan dikata itulah nan dilakukan, amalannya sinkron dengan kata-katanya. Supaya dia tak terjatuh kepada kemurkaan Allah.

"Hai orang-orang nan beriman, mengapakah kamu mengatakan apa nan tak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa nan tiada kamu kerjakan". As-Saff: 2-3

Pendukung dakwah nan menyeru manusia mestilah ikhlas sebab Allah di dalam dakwahnya. Tidak ada nan diharapkan daripadanya kecuali keredhaan Allah. Tidak mengharapkan pujian dan sanjungan dari manusia dan tak harus menunggu buat dikagumi ucapannya oleh manusia. Dia mesti berkata sahih dan bersifat sahih di dalam segala perkara supaya dia senantiasa dipercayai oleh manusia.

Ad-da’i kepada Allah mesti sabar, redha menanggung segala rintangan nan mengganggunya di tengah jalan. Ridha menanggung dan menerima segala penyiksaan, kritikan, ejekan dan berpalingnya manusia daripadanya. Dia mesti bersifat ramah pengasih, penyayang, lemah-lembut. Sebab nan demikian itu akan menyebabkan manusia sayang kepadanya dan menolongnya, tertarik hati kepadanya dan menggabungkan diri kepadanya dan benarlah Allah nan Maha" Agung:

"Maka disebabkan Rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu ". Ali lmran: 159

Sahibud-dakwah mestilah bersifat Hilm tatkala mengendalikan dirinya di waktu marah. Jangan mudah marah dan melatah, mestilah berlapang dada dan berjiwa besar kepada setiap nan bertanya, nan mengkritik atau nan memberi nasihat sekalipun bagaimana cara nasihat nan paling baik dan mesti bersedia menerima nasihat dalam bentuk apa pun.

Sahibud-dakwah, pendukung dakwah kepada Allah, mestilh menghafaz al-Quran dan hadis Rasulullah s.a.w. selagi dia mampu berbuat demikian. Sebab nan demikian itu menolongnya mengambil dalil dari al-Quran dan Hadis Rasulullah s.a.w. dalam setiap urusan dan pengertian nan datang kepadanya.

Dia mesti mengetahui sirah nan harum peninggalan Rasulullah s.a.w. buat memperoleh pengajaran, pendirian dan teladan. Sebab, ia bisa mempengaruhi dan memberi kesan di dalam jiwa. Dari sirah Rasulullah s.a.w. itu, sahibud dakwah nan menyeru manusia kepada Allah memperoleh uslub, cara dakwah dan cara harakah dalam berdakwah.

Dia patut menyediakan satu buku catatan ketika membaca kitab dan bersungguh-sungguh buat mencatat hal-hal krusial dan menarik dari bacaannya sebagai bekalan dalam jalan dakwah. Ini karena, terlalu bergantung kepada daya ingatan selalu mengkhianati tuannya. Jadi perlulah disediakan buku catatan atau buku peringatan.

Sahibud-dakwah perlu mengetahui berbagai urusan agamanya, sebab dia senantiasa terarah kepada berbagai persoalan dan tafsiran. Dia juga perlu mempunyai pemikiran Islam supaya dia memandang segala perkara dan peristiwa dengan pandangan Islam dan menghukum segala sesuatu menurut kaca mata Islam.

Sahibud-dakwah, mesti mengetahui bahwa di samping mempunyai kefahaman nan teliti dan halus terhadap Islam, dia juga perlu kepada keimanan nan mendalam serta interaksi dan kepercayaan terhadap Allah. Inilah sebaik-baik bekalan di atas jalan dakwah.

18.3 Di Sekitar Uslub Dakwah

Uslub atau cara berdakwah ialah sebagian dari dakwah. Tingginya tujuan dan cita-cita nan kita seru manusia kepadanya tidaklah mencukupi kalau dilaksanakan dengan cara nan salah dan tak proporsional. Ada kemungkinan uslub dan cara nan digunakan itu memburukkan suasana atau menyebabkan manusia lari dan menjauhkan diri dari dakwah kita dampak tak sinkron dengan masa dan tempat. Untuk itu Allah telah memberi arahan kepada kita dengan firmanNya:

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat nan baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara nan paling baik". An-Nahl: 125

"bil-hikmah ": dengan kebijaksanaan, dengan hujah-hujah nan kuat dan bukti nan konkrit. Menyuruh orang berbuat baik dan melarang mereka dari berbuat munkar dan dursila mestilah dengan cara nan baik, sikap nan baik, kata-kata nan lemah lembut. Bukan dengan kasar dan keras.

Sahibud-dakwah mesti berani mengatakan perkara nan sahih walaupun pahit, tetapi dengan cara nan menarik dan bahagia diterima oleh manusia. Di samping itu, dia tak boleh bermuka dua, tak boleh bersifat munafik walaupun dengan tujuan menarik hati manusia atau menggembirakan mereka dan menarik minat mereka kepadanya.

Dia harus tegas dan terus terang supaya manusia bisa mengenali kebenaran nan dibawanya. Karena sesungguhnya cara nan ambigi dan bersifat munafik, tak sinkron dengan keagungan, kebenaran dan dakwah Allah nan diserukannya. Dan Allah telah memberi amaran kepada Rasulullah s.a.w di dalam firmanNya:

"Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak pula kepadamu ".
Al-Qalam: 9

Mereka suka jika kamu tak tegas, supaya mereka tak tegas pula dengan kamu. Sahibud-dakwah perlu memahami jiwa manusia dan mengetahui anak kunci hati supaya dia mampu membuka pintu-pintu hati dan menyampaikan kepada manusia apa nan dikehendaki.

Jangan bertindak secara mendadak dengan membawa kepada mereka apa nan dibenci oleh jiwa mereka supaya mereka tak terperanjat. Sahibud-dakwah mesti mengetahui terlebih dahulu dari mana dan bagaimana cara buat memulakan setelah dikaji, ditapis dan disediakan segala apa nan diperlukan buat urusan dakwah.

Sahibud-dakwah mestilah menentukan topik nan hendak dibicarakan supaya para pendengarnya mendapat faedah nan konkret dan jelas daripadanya. la mesti memperbaiki sistematika dan susunan pemaparan terhadap pengertian dan tajuk nan dibicarakan dengan susunan nan bisa menyokong dakwahnya supaya mereka berpuas hati dan menerimanya.

Sahibud-dakwah mestilah mampu memadukan akal, perasaan dan hati manusia di dalam uslubnya. Jangan berbicara dengan akal semata-mata tetapi ketandusan perasaan dan tak pula semata-mata dengan perasaan dan hati saja tanpa kepuasan akal dan lojik. Isi perbicaraannya mestilah bisa diterima akal, menarik perasaan dan menawan hati sehingga akal, perasaan dan hati manusia berpuas hati dengannya.

Satu dari cara-cara nan berguna nan senantiasa mempunyai pengaruh nan paling berkesan dan baik ialah pembicaraan nan mampu memuaskan akidah manusia. la dimulai dengan memantapkan di hati manusia tentang kewujudan Allah, seterusnya menjelaskan hakikat selebaran kita dan tugas kita dalam hayati ini. la disudahi dengan mengukuhkan, menegaskan bahwa Islam ialah manhaj, cara hidup, satu pegangan hayati nan sejahtera dan lengkap dan berusaha buat memulakan kehidupan Islam dan menegakkan negara Islam (ad-daulah Islamiah) ini ialah satu tugas nan wajib kepada tiap-tiap muslim.

Sahibud-dakwah, nan menyeru manusia kepada Allah mestilah menyalakan asa dan cita-cita nan mulia di kalangan para pendengarnya. Dia mestilah menyakinkan mereka bahwa masa depan ialah buat kemenangan Islam dan abad ini ialah abad Islam, abad kemenangan Islam!

Dia perlu menghapuskan segala pengaruh dan kesan putus harapan dari jiwa mereka supaya mereka tak mudah beranjak dari prinsip Islam dan tak bersikap beku dan jumud di tengah jalan dan tak mau meneruskan perjalanan mereka di atas jalan dakwah.

Sekiranya sahibud-dakwah merasai dan melihat manusia berpaling daripadanya maka hendaklah dia mengoreksi kembali cara atau uslub dakwahnya sebab boleh jadi caranya tak tepat atau waktunya tak sesuai, atau suasananya tak sinkron menyebabkan berlaku perkara nan demikian.

Sahibud-dakwah mestilah berusaha bersungguh-sungguh supaya menggandingkan ilmu dengan amal supaya mereka mengamalkan ilmu nan telah diketahui, bukan hanya merupakan kepuasan ilmiah semata-mata.

Dia mesti mengawasi waktunya ketika berbicara supaya mereka tak jemu mendengarkan ucapan nan mungkin terlalu panjang atau kurang menarik perhatian para hadirin. Ini semua hanyalah bayangan mengenai cara menyeru manusia kepada Allah. la hanyalah sebagai contoh, bukan buat membatasi hikmah kebijaksanaan dan cara-cara sahibud-dakwah sebab di sana banyak lagi cara nan lain nan bisa dikelola oleh sahibud-dakwah. Wabillahhitaufik.

Manhaj dakwah

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy