Perlukah Kita Bermadzhab?

Perlukah Kita Bermadzhab?

Assallamualaikum wr. wb.

Ustadz nan dimulyakan oleh Allah SWT, langsung saja aku ingin bertanya, 1. Apakah setiap orang muslim harus mempunyai madzhab dan bagaimana jika kita tak bermadzhab?2. Perlukah kita membaca do’a qunut saat sholat subuh?3. Mohon bimbingannya buat do’a qunut.

Demikian pertanyaan kami atas perhatiannya kami ucapkan banyak-banyak terima kasih.

Wasallammuallaikum wr. wb.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Mazhab itu berarti jalan. Maksudnya jalan nan diambil oleh seseorang ketika mengambil konklusi hukum atas suatu dalil, baik dari Al-Quran atau pun dari Sunnah.

Perlu diketahui bahwa kebanyakan dalil Quran dan sunnah seringkali menyisakan ruang nan memungkinkan orang berbeda pendapat dalam menyimpulkan deduksi hukumnya. Ini ialah fakta nan tak terbantahkan, bahkan hal itu bukan hanya dialami oleh kita nan ama saja, tetapi juga terjadi di kalangan para shahabat nabi SAW.

Tidak sporadis para shahabat nabi berbeda pendapat dalam mengambil konklusi atas dalil nan sama. Apalagi setelah wafatnya Rasulullah SAW, para shahabat menyebar ke seluruh wilayah. Mereka menemukan begitu banyak kenyataan baru nan sebelumnya tak pernah mereka dapatkan di masa hayati bersama Rasulullah SAW.

Walhasil, meski pernah sama-sama hayati di bawah naungan tarbiyah nabi, namun tak ada agunan mereka selalu punya pandangan sama dalam segala hal.

Apalagi mengingat di masa masih hidupnya nabi SAW sekalipun, para shahabat pun ada di antara para sahabat yangyang primer (fadlil) dan ada di bawah itu (mafdlul) dalam hal berijtihad. Ada di antara mereka nan pakar fiqih tapi juga ada nan awam.

Tentunya semua akan melahirkan disparitas pandangan hukum. Namun demikian, disparitas itu tak berarti perpecahan, apalagi persengketaan. Sama sekali bukan. Sebab disparitas di kalangan para shahabat itu sangat manusiawi.

Ketika seseorang berpendapat, atau ketika seseorang mengikuti pendapat orang lain nan dianggapnya baik, dia sedang bermazhab. Bedanya dengan mereka nan dianggap bermazhab hanyalah pada sumber mazhabnya.

Mazhab nan ada dan kita kenal itu ialah 4 mazhab nan besar dan baku, teruji selama 13 abad lamanya di global ini. Sebenarnya bukan hanya 4 jumlahnya, tetapi lebih banyak lagi. Namun sejarah membuktikan bahwa keempat mazhab itulah nan benar-benar telah teruji di lapangan hingga kini.

Adapun orang nan merasa dirinya tak ingin terikat dengan salah satu dari keempat mazhab itu, tentu saja merupakan hak baginya buat bersikap demikian. Barangkali dirinya berpikir mampu buat mengambil konklusi hukum nan lebih baik dari nan telah dikemukakan oleh masing-masing dari keempat mazhab nan ada.

Akan tetapi kenyataannya, meski seseorang sudah merasa dapat berdikari dalam berijtihad, ujung-ujungnya tak akan keluar dari apa nan telah dikemukakan oleh masing-masing mazhab nan ada.

Jadi secara logika sederhana, kalau tak terlalu krusial dan memang bukan pakar di bidangnya, tak perlu capek-capek melakukan proses ijtihad sendiri nan tentu saja berat dan sangat menguras tenaga. Padahal fatwa nan sudah jadi pun tersedia, bahkan ditanggung berkualitas sebab mengingat kapasitas para mujtahidnya.

Apakah komitmen dengan satu madzhab eksklusif diharuskan? Pendapat sebagian ulama menegaskan bahwa komitmen dengan satu madzhab eksklusif dan imam eksklusif hukumnya harus. Sebabnya sebab ia konfiden bahwa pendapat itu sahih sehingga ia harus komitmen dengan keyakinannya.

Namun itu hanya pendapat sebagian kecil ulama. Adapun pendapat sebagian besar ulama justru mengatakan bahwa seseorang tak harus komitmen dengan satu imam eksklusif dalam semua masalah dan hukum. Tapi kalau dia mau, dirinya boleh bertaqlid dengan imam mujtahid eksklusif nan ia kehendaki.

Jika seseorang pernah berkomitmen dengan satu madzhab eksklusif seperti madzhab Abu Hanifah, Syafii atau nan lain, maka ia tak wajib monoton (berkelanjutan) mengikuti mereka dalam setiap masalah. Dia boleh berpindah dan memilih dari madzhab satu ke madzhab nan lain. Sebab ia hanya wajib mengikuti apa nan diwajibkan Allah dan Rasul-Nya. Sementara Allah dan Rasul-Nya tak mewajibkan seseorang buat mengikuti salah satu dari ulama, Allah hanya memerintahkan buat mengikuti mereka secara umum, tanpa mengkhususkan satu dari nan lain. Allah berfirman,

Dan Kami tak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki nan Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang nan mempunyai pengetahuan jika kamu tak mengetahui.(An-Nahl: 43)

Di samping itu pendapat nan menyatakan harus komitmen dengan satu madzhab akan menyebabkan kesulitan dan kerepotan, padahal madzhab-madzhab nan ada ialah nikmat dan rakmat bagi umat.

Adapun pertanyaan nomor dua, dapat Anda lihat di jawaban kami sebelumnya: Syariah Qunut Subuh Mana nan Benar?

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Umum

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy