Potret Buram Keluarga dalam Kapitalisme

Potret Buram Keluarga dalam Kapitalisme

Keluarga nan senang merupakan dambaan setiap orang. Keluarga dambaan digambarkan kebanyakan orang ialah keluarga nan sukses, jauh dari pertengkaran dan jauh dari perceraian, ekonomi keluarga nan tercukupi, pendidikan anak terpenuhi, keinginan anak istri terealisasi.

Untuk memenuhi itu semua tidak sporadis sang ayah bekerja keras banting tulang buat memenuhi kebutuhan dan keinginan keluarga, jika dirasa masih kurang sang ibu pun terkadang ikut terjun ke global kerja dan sang anak nan masih kecil pun dipercayakan kepada para pengasuh, sementara anak nan sudah besar dibiarkan bebas berekspresi sesuka hati buat mengembangkan potensi.

Orang tua beranggapan keluarganya berhasil apabila anak-anaknya berhasil pula, baik itu berhasil dalam pendidikan, berhasil dalam jenjang karir, dll. Untuk mewujudkan kesuksesan seorang anak, orang tua tak segan-segan menyekolahkan anak-anaknya di sekolah favorit dengan biaya nan sangat mahal hingga ke jenjang universitas.

Anak-anak pun dibiarkan bebas berekspresi selama itu bermanfaat bagi kehidupannya seperti mengikuti berbagai kesibukan aktivitas misalnya les-les nan mampu mengembangkan talenta dan potensi (mulai dari les mata pelajaran sampai les-les keterampilan menyanyi, menari, piano, berenang, dll) nan terkadang pendidikan-pendidikan formal dan non formal tersebut tak diimbangi dengan pendidikan agama nan kuat.

Teringat sebuah ungkapan dari seorang teman nan mengungkapkan, selama dia hayati kalau dijumlah-jumlah biaya nan dikeluarkan orang tuanya buat membiayai kesuksesan hidupnya dari segi pendidikan SD hingga kuliah sangatlah besar dan penuh dengan perjuangan.

Jangankan dari SD hingga kuliah, waktu kuliah saja orang tuanya setiap bulan mengirimkan biaya kosan, biaya hayati dan biaya kuliah membutuhkan uang nan sangat mahal. Dia menyimpulkan setelah lulus kuliah nanti harus mendapatkan pekerjaan nan setimpal gajinya dengan biaya nan sudah orang tuanya keluarkan.

Sampai ada ungkapan ‘apa gunanya sekolah tinggi-tinggi kalau tak balik modal, kalau tak bisa pekerjaan dengan gaji besar berarti tak meraih berhasil dalam hayati dan telah gagal membanggakan serta membahagiakan keluarga’.

Sungguh miris memang hayati di zaman serba kapitalistik ini, semuanya diukur dengan materi bernama ‘uang’. Kesuksesan dan kebahagiaan keluarga diukur dengan uang. Pemikiran kebanyakan orang nan hayati dimasa sekarang sudah sangat kental dipengaruhi arah pandang kapitalis.

Segala sesuatu dalam global kapitalis ini hanya dipandang dengan materi, maka tidak heran kadang orang melakukan berbagai cara buat mendapatkan materi tanpa memandang lagi halal dan haram.

Lalu apakan setelah terpenuhinya materi sebuah keluarga akan bahagia? Ternyata faktanya tidak! Banyak kasus di dalam keluarga kaya anak kurang mendapatkan perhatian dan afeksi sebab orang tuanya sibuk mencari materi dengan dalih buat membahagiakan keluarga.

Karena kurang afeksi dari orang tuanya nan sibuk sang anak pun mencari pelampiasan afeksi kepada teman-temannya. Tak sporadis mereka melampiaskan kebutuhan kasih sayangnya kepada versus jenis nan ujung-ujungnya sang anak terjerumus kedalam pergaulan bebas.

Tak jauh kondisi orang tuapun sama gentingnya terkadang suami istri nan sibuk dengan pekerjaan masing-masing niscaya tak akan terhindar dari nan namanya pertengkaran sebab sang istri atau suami merasa kurang diperhatikan.

Ternyata melihat citra kasus diatas kebahagiaan itu tak bisa diukur dengan materi. Lantas kebahagiaan nan didambakan itu seperti apa? Kebahagiaan bisa tergambarkan dari keluarga nan samara ideologis (sakinah, mawadah warohmah dan ideologis) nan akan muncul di dalamnya ketenangan dan ketentraman.

Keluarga samara ideologis hanya bisa diraih ketika keluarga tersebut berjalan dalam anggaran Allah. Masing-masing anggota keluarga melaksanakan setiap kewajiban-kewajibannya selalu berdasarkan anggaran Allah sebab tujuan hakiki sebuah keluarga ialah selamat global akhirat.

Masing-masing anggota keluarga selalu mengingatkan anggota lainnya agar tetap berada di jalan nan benar. Karena pada dasarnya setiap anggota keluarga harus saling menjaga agar terhindar dari barah neraka seperti dalam firman Allah dalam QS. At-Tahrim (66): 6, “Hai orang-orang nan beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari barah neraka nan bahan bakarnya ialah manusia dan bebatuan; penjaganya malaikat-malaikat nan kasar dan keras, mereka tak mendurhakai Allah dan selalu mengerjakan apa nan diperintahkan-Nya.”

Setiap anggota keluarga harus bisa memelihara dirinya dan anggota nan lainnya dari barah neraka. Suami wajib memberikan pendidikan kepada istri nya , istrinya nan berperan sebagai seorang ibu wajib mendidik anaknya agar berjalan dalam kehidupan Islam nan mengimplementasikan seluruh anggaran Islam nan telah diperintahkan Allah aset krusial buat meraih berhasil keluarga.

Perlakukan dan persiapkan mereka agar mampu menjadi pemimpin umat dan bangsa; perlakukan dan bekali mereka agar mampu menjadi penyelamat orang tua dan keluarganya dari neraka.

Pandangan keluarga senang nan didambakan dalam Islam sungguh jauh berbeda dengan pandangan kapitalis. Islam memandang keluarga akan senang jika seluruh anggota keluarganya berjalan sinkron anggaran Islam nan penuh kasih sayang.

Sedangkan kapitalis memandang keluarga senang nan diidamkan ialah keluarga nan kehidupannnya bergelimang materi. Pandangan ala kapitalis ini pada kenyataannya tak akan menimbulkan kebahagiaan dan ketenangan melihat banyaknya fakta keluarga nan hancur sebab mengutamakan materi.

Dalam Islam materi hanya dijadikan sebagai wasilah bukan tujuan primer dalam hidup. Tujuan primer dalam hayati ialah meraih Ridho Allah, begitupun dalam berkeluarga Ridho Allah harus menjadi tujuan primer sebab itulah kebahagiaan nan hakiki dalam hayati dan berkeluarga, bukan materi.

Jadi buat mencapai atau mewujudkan keluarga senang nan didambakan cukup tinggalkan pemikiran kapitalis nan memiliki kerusakan nan sistemik dan jadikan anggaran Islam sebagai jalan menuju keluarga nan didambakan. Tentunya anggaran Islam nan sempurna ini hanya bisa terterap dalam bingkai Daulah Khilafah.Marilah bersegera mewujudkannya. (Erma Rachmawati)

Akhwat

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy