Revitalisasi Peran Pemuda dan Kepemimpinan Dalam Negara

Revitalisasi Peran Pemuda dan Kepemimpinan Dalam Negara

Pemuda

Pemuda hari ini ialah pemimpin masa depan. Ungkapan ini begitu masyhur dan telah menjadi nyata. Selain itu juga adanya sebuah pernyataan bahwa masa depan terletak di genggaman para pemuda. Artinya, baik buruknya suatu umat di masa datang di tentukan oleh baik buruknya pemuda di masa kini. Ungkapan tersebutlah nan menjadi barometer dan standarisasi dalam pembinaan dan mendidik generasi muda buat melanjutkan estafet perjuangan.

Pemuda merupakan pilar kebangkitan umat. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan misteri kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda ialah pengibar panji-panjinya.

Dengan demikian, maka sungguh banyak kewajiban pemuda, tanggung jawab, dan semakin berlipat, hak-hak umat nan harus ditunaikan oleh para pemuda. Pemuda dituntut buat berfikir panjang, banyak beramal, bijak dalam menentukan sikap, maju buat menjadi penyelamat dan hendaknya mampu menunaikan hak-hak umat dengan baik. Dengan kata lain, pemuda sesungguhnya dituntut buat mendidik dirinya menjadi pemuda nan memiliki jiwa-jiwa pemimpin.

Ada dua hal nan menonjol pada diri pemuda dalam sebuah gerakan. Pertama, kedudukannya sebagai basis operasional dan kedua, perannya dalam proses kaderisasi.

Kekuatan dan kesemangatan membuat pemuda menjadi sangat cocok bagi peran operasional nan membutuhkan energi besar. Sedangkan kepolosannya memudahkan para penggerak buat menanamkan nilai-nilai nan akan memotivasi aktivitas gerakan.
Potensi kepemudaan ini sangat dihargai disemua lini kehidupan terlebih menurut islam. Arahan bagi para pemuda buat menyalurkan potensinya kepada kebaikan nan sejati.

Kebaikan nan akan membuat mereka jaya di global dan juga di akhirat. Berhamba hanya kepada Allah, Berjuang hanya buat kejayaan Islam, bekerja keras hanya buat menegakkan kebenaran nan sejati. Inilah jalan hayati pemuda muslim nan berharga.

Pemimpin

Pemimpin dalam satu negara, ibarat kepala bagi tubuh. Inilah nan menentukan seluruh tujuan dan di loka ini pula loka berkumpulnya segala macam informasi. Pemimpin bertugas memikirkan, dan mengkaji setiap masalah nan dihadapi oleh apa nan telah ia pimpin. Pemimpin juga merupakan lambang kekuatan, persatuan, keutuhan dan disiplin shaff.

Seorang bijak pernah mengatakan :
Pemimpin nan baik ialah nan mampu membantu memecahkan kesulitan mereka nan dipimpin serta mempersiapkan calon atau kader pemimpin nan nanti akan menggantikannya.”

Disinilah pemimpin diharapkan mampu melakuakan perubahan baik bagi dirinya maupun orang lain dan nan dipimpinnya menuju kearah kebaikan.

Kepemimpinan Pemuda Pada Masa Kecemerlangan Islam dan Masa Abad ke 20
Berbagai fenomena menunjukkan bahwa sebagian besar peristiwa nan telah lalu banyak dipengaruhi oleh mereka nan tergolong pemuda. Hampir seluruh gerakan di dunia, sejak zaman purba hingga zaman satelit ini, pemuda memiliki peran nan cukup signifikan. Bahkan ketika Islam mencetuskan gerakan dakwahnya belasan abad nan silam. Kepemimpinan itu telah ada dari zaman Rasulullah SAW hingga kini.

Sebagai salah satu acuan pada zaman tabi’ut tabi’in. Umar bin Abdul Aziz ialah salah satu contoh sosok pemuda nan sukses dalam memimpin di masanya.

Telah diriwayatkan bahwa sosok Umar bin Abdul Aziz menghadirkan pribadi nan sungguh luarbiasa. Hal itu bisa terlihat dari kesucian jiwanya dan keagungan jejak hidupnya. Walaupun Umar bin Abdul Aziz tak hayati pada masa diturunkannya wahyu namun ia mencoba mamindahkan masa wahyu itu kepada masanya, yaitu masa-masa nan penuh dengan kegelapan, penindasan dan diwarnai oleh fanatisme nan membabi buta.

Pada masa itu, Umar bin Abdul Aziz mampu merubah tradisi Daulat Bani Umayyah nan rendah nan telah berlalu selama 60 tahun, menjadi masa pemerintahan nan indah, baik, adil, dan sejahtera nan mirip dengan masa Rasulullah SAW.

Dalam hal tersebut nan ia habiskan hanya memakan waktu dua tahun lima bulan dan beberapa hari saja. Keistimewaan dirinya inilah membuat Umar bin Abdul Aziz dan sejarah perjuangannya lebih mirip legenda daripada fakta.

Umar bin Abdul Aziz menerima kekuasaan sebagai khalifah dikala ia masih muda. Saat itu usianya belum mencapai 35 tahun. Suasana nan ditemui Umar bin Abdul Aziz diawal kekhalifahannya telah memaksanya buat menumpahkan perhatiannya nan lebih besar terhadap hak-hak manusia.

Sedangkan di awal abad ke-20 nan lalu, di negeri Mesir muncul seorang tokoh muda nan sangat terkenal sampai sekarang. Beliau ialah Hasan Al Banna. Hasan Al Banna tak saja menjadi sosok pemimpin bagi para pengikutnya saat itu, namun ia ialah sosok pemimpin nan muncul dan tampil dalam situasi dan kondisi nan tak mendukung, iklim nan tak pas. Bahkan ia muncul di zaman kegelapan nan sangat pekat, di tengah-tengah masyarakat nan terkena kelumpuhan berfikir, ruhani nan kosong, ‘athifah (empati, simpati, dan emosi) nan dingin, kemauan nan lemah, tekad nan lentur, semangat nan rapuh, badan nan loyo, kehidupan nan labil, akhlak nan rusak, ketundukan kepada kekuatan, dan keputusasaan buat melakukan perbaikan.

Kejeniusan Hasan Al Banna tampak jelas dalam kecintaannya kepada islam, Integritas kepemimpinannya sepenuhnya buat dakwah dengan segala bakat, potensi, dan tulisan-tulisannya. Hasan Al Banna memiliki pengaruh nan sangat besar di kalangan kader-kadernya terbukti gerakan dakwah nan dirintisnya hingga kini konsepnya merata hampir diseluruh dunia.

Beliau ialah pembangun generasi, murabbi rakyat dan pemilik madrasah ilmiyah fikriyah khuluqiyah. Hal ini telah mempengaruhi kecendrungan semua orang nan berkontak dengannya, baik dari kalangan pelajar atau aktivis, dalam cita rasa mereka, metodologi berfikir mereka, gaya klarifikasi mereka. Pengaruh ini masih bisa kita rasakan hingga kini.

Peran pemimpin-pemimpin tersebutlah nan layak direvitalisasi kembali dengan baik dan sahih khususnya bagi kaum muda, sebab merekalah nan akan menjadi teladan konkrit bagi masyarakat pada masa ini dalam mewujudkan manhaj al hayyah nan shahih.

Perubahan Sebagai Agenda Umat

Setiap manusia, setiap kita, dan setiap umat memiliki kesamaan buat meraih sebuah kemenangan. Dan kemenangan itulah merupakan suatu agenda besar nan dimiliki oleh umat.

Upaya dalam meraih kemenangan itu hendaknya dilakukan dengan terus menerus dan tak boleh berhenti meski telah memperolehnya. Dalam meraih sebuah kemenangan tersebut hendaknya setiap orang melakukan perubahan. Perubahan nan dikehendaki, bukan sekedar merubah nama atau bentuk lahir suatu masyarakat, namun merubah suatu realita baru termasuk di dalamnya prinsip-prinsip ber-aqidah, pemikiran, moral, hukum, budaya, nan mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia. Perubahan nan kita cita-citakan dan idamkan bersama haruslah diraih secara bersama-sama dan dengan semangat nan sama pula. Hal ini bisa tercermin melalui masyarakat substantif..

Kekuatan dan Peran Pemuda Terhadap Perubahan

Perubahan nan diinginkan bersama ialah perubahan nan komprehensif dan substantif, meliputi seluruh bidang kehidupan dan sisi normatif bagi seluruh umat. Bukan sekedar perubahan nan sifatnya parsial dan hanya menjadi solusi sesaat, nan pada akhirnya akan kembali melahirkan masalah-masalah baru. Untuk itulah sangat dibutuhkannya peran pemuda nan bersungguh-sungguh dalam melakukan perubahan.

Ada kontribusi lain nan dapat diberikan kepada Islam dan umat ini, yaitu tenaga dan amal konkret nan dilakukan oleh para pemuda. Seorang mukmin dalam perspektif Al Qur’an digambarkan sebagai manusia nan dinamis, progresif dan produktif. Dia senantiasa memiliki daya juang dan daya dobrak dalam menebarkan nilai-nilai kebenaran nan telah diyakininya. Begitu juga memiliki prinsip istiqomah dalam amanah nan telah dipikulnya. Bekerja ialah budayanya, berkorban ialah nalurinya dan fitrahnya ialah keberanian.

Selalu tegar dan tak pernah gentar dalam menebarkan nilai kebenaran dan kebaikan.
Beramal dan bergerak juga merupakan indikator kebaikan hayati bagi seorang pemuda islam. Karena semua nan bergerak dan beramal akan mendatangkan kemashlahatan dan kebaikan.

Sungguh fitrah ini dapat berhasil apabila ada umat yangkuat, keikhlasan nan penuh di jalannya, hamasah nan membara dan adanya persiapan nan melahirkan tadhhiat (pengorbanan) dan amal buat merealisasikannya. Dan hampir-hampir empat pilar ini (iman, ikhlas, hamasah dan amal) merupakan ciri bagi para pemuda. Karena dasar keimanan ialah hati nan cerdas, dasar keikhlasan ialah nurani nan suci, dasar hamasah ialah syu’ur nan kuat dan dasar amal ialah ‘azm menggelora.”( Hasan Al Banna)

Oleh karenanya, seorang pemuda tak boleh berpangku tangan tanpa ada partisipasi dalam mewujudkan agenda perubahan umat. Tuntutan bagi para pemuda buat bergerak dikarenakan bahwa pemuda ialah sosok nan memiliki jiwa intelektualitas. Sebagai entitas masyarakat, pemuda juga berusaha kritis terhadap kondisi masyarakatnya dan berusaha mengungkapkan empiris dan fakta-fakta nan terjadi di masyarakat, dan menyampaikan langsung kepada para penguasa dan mampu mengambil kebijakan. Pada akhirnya pemuda menjadi tumpuan bagi rakyat buat terus menyuarakan perubahan.

Harapan, Peluang dan Tantangan Kepemimpinan Pemuda

Sebuah proses perubahan sangat dipengaruhi oleh pemimpin. Terlebih lagi dalam struktur dan budaya sosial nan paternalistik. Untuk bisa mewujudkan masyarakat nan beradab, bangsa ini harus memiliki pemimpin nan amanah, mau bekerja keras, dan mampu mengarahkan serta menggerakkan massanya buat bersama berjuang mencapai cita-cita perjuangannya. Hal inilah nan menjadi asa bagi seluruh masyarakat dan para pemuda.

Kalau dilihat di negara Indonesia, para foundhing fathers telah menetapkan, bahwa perubahan nan harus terjadi ialah terwujudnya kemerdekaan, kebersamaan, ketuhanan nan Maha Esa, krmanusiaan nan adil dan beradab, persatuan Indonesia, kedaulatan rakyat, dan nan terakhir ialah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sebagaimana termaktub dalam konstitusi negara kita. Sebuah cita-cita besar dari sebuah perubahan.

Berbagai rezim telah dilalui, namun perubahan nan diinginkan oleh seluruh umat khususnya rakyat Indonesia belum bisa diwujudkan. Keinginan mendapatkan perubahan tetap terus bersemayam di dalam dada rakyat Indonesia hingga kini. Mereka masih terus menuntut, bergerak, berjuang dan melawan hingga tercapainya perubahan menuju kehidupan nan lebih baik bagi rakyat Indonesia.

Hal itulah nan menjadi salah satu tantangan bagi para pemuda sebagai pemimpin masa depan. Adapun hal lain nan menjadi tantangan bagi para pemuda dalam melakukan perubahan ialah terkotorinya kepribadian Islam oleh beberapa golongan nan melumpuhkan sendi kekuatannya.

Kepemimpinan buat saat ini masih menjadi sebuah masalah nan harus terus diasah dan ditingkatkan kualitasnya. Apalagi itu akan menjadi sangat urgen ketika kita mengharapkan kokohnya kepemimpinan nan dapat menampilkan moral dan akhlaq Islami. Kepemimpinan masih menjadi masalah penting nan kemudian mengakibatkan negeri ini mengalami krisis multidimensi nan parah. Wallahu a’lam

Penulis ialah ketua Kompetensi KAMMI Pusat
dapat dihubungi melalui e-mail: ipallawa@yahoo.com

Suara kita

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy