Romantisme Jurnalis

Romantisme Jurnalis

"Jika seseorang bergaul dengan tukang minyak wangi, dia akan tertular wanginya."

Di zaman nan serbamahal dan labilnya situasi ekonomi seperti sekarang, masyarakat kita belum beranjak aspek dari kemiskinan dan pengangguran. Tak jarang, banyak orang nan putus asa, bahkan ada nan sampai bunuh diri sebab tidak tahan menanggung beban ekonomi. Yang ironis, gaya hayati hedonis dan konsumtif masih inheren di masyarakat. Katanya, hayati harus hemat, tapi malah belanja barang nan tidak urgen dibeli. Katanya, hayati jangan berfoya-foya, tapi justru doyan ke diskotek. Masya Allah. Masyarakat kita tengah menghadapi sindrom putus asa.

Salah seorang rekan wartawan, sebut saja Aga, pernah menuliskan kegelisahannya saat kali pertama bekerja sebagai jurnalis. Kebetulan, kami satu almamater di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya.

Dia mengisahkan betapa tak mudahnya menjadi seorang jurnalis. Kebanggaan berkalung kartu pers merupakan bagian dari romantisme wartawan. "Namun, fenomena memang terkadang tidak seindah harapan," ulasnya.

Saya tidak berhenti menyimak detail kisah nan dia paparkan sambil menikmati malam dan bergaul secangkir kopi. Penampilan pemuda asal Lamongan itu memang terkesan biasa saja, tidak ada nan istimewa. Namun, di balik itu dia menyimpan banyak amunisi potensi. Tak salah bila beberapa rekan wartawan seangkatannya menjuluki dia "Pak Lurah".

"Dunia wartawan seringkali menguji mental para pekerjanya. Belum lagi tekanan atas-bawah nan saling menimpali," paparnya. Jelas, lanjut dia, global wartawan tidak seromantis bayangan para mantan aktivis kampus seperti dirinya. Misalnya, membawa kamera atau menyodorkan perekam dan pertanyaan kritis kepada narasumber.

Suatu ketika, aku pernah mendapati Aga bermuram durja. Entah apakah dia tengah bingung menentukan tulisan buat esok harinya ataukah justru berkontemplasi mencari inspirasi. Barangkali, dua dugaan aku itu keliru.

Saat produktivitas kian menurun, malam dapat menjelma malaikat maut nan membuat seorang jurnalis menjadi gelisah luar biasa. Saat itu tekanan terasa amat berat. benar-benar malam nan jahanam. Wartawan nan tidak kuat "iman" dapat saja langsung ngacir tanpa say good bye.

Dalam hening, aku tidak menangkap suara derik jengkerik di kejauhan. Namun, desau napas malam nan resah seolah menyiratkan kegelisahan Aga. Saya berusaha peka dengan menjabat logika dan menalar dengan akal sehat.

Namun, jauhnya bintang di malam kelam tetap saja dapat dilihat. Ya, aku mulai merasakan bahwa bintang-gemintang mulai bersinar terang tidak kala Aga
dapat menguasai dirinya buat berani menyambut segala tantangan di depannya. Itu tampak dari ide-ide dan ulasannya ketika menyusun sebuah feature atau tulisan boks di surat kabar loka kami berpayung. Runut, kohern, dan mengalir apa adanya.

Kini rekan reporter seangkatan Aga hanya tinggal beberapa orang, mungkin sebab mereka sadar bahwa dekat barah itu panas. Mungkin juga itu disebabkan mereka enggan naik ke atas sebuah pohon sebab tahu bahwa semakin tinggi pohon kian kencang angin menerpa.

Seperti halnya aku belajar di kampus kehidupan dari seorang kuli pasar atau kuli bangunan, aku mencerna banyak asupan menu berbeda dari para kuli tinta. Global mereka ialah global realita penuh tantangan nan menguji mental dan adrenalin.
”Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah warta gembira kepada orang-orang nan sabar. (Yaitu) orang-orang nan apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ”Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”. Mereka itulah nan mendapatkan keberkatan secara paripurna dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang nan mendapat petunjuk ” (Al-Baqarah: 155-157).

Aga, seorang sahabat dan adik bagi saya, ibarat penjual minyak wangi di mata saya. Keteguhan dan semangatnya dalam menghadapi tantangan tidak ubahnya telah mencipratkan harumnya wewangian parfum tersebut lewat sikap pantang berputus asa. Meski sedikit, satu tetes sekalipun, aromanya tetap akan tercium.

prasetyo_pirates@yahoo.co.id

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy