Ruginya Jadi Orang Bodoh

Ruginya Jadi Orang Bodoh

Kebodohan itu memang merugikan. Kalau penyakit ini ada pada seseorang maka sengsaralah ia.

Jika kebodohan itu menyangkut perkara dunia, repotnya bukan main. Tapi kalau itu menyangkut agama, apalagi terkait perkara-perkara vital: aqidah dan tauhid, repotnya bukan main-main lagi.

Dikarenakan berbahayanya penyakit ini, nan menjadi korban bukan orang awam atau orang primitif saja, aktivis masjid nan memakan bangku sekolah pun dapat jadi korban penyakit ganas ini.

Siang itu cuaca terasa panas dan terik matahari terasa menyengat. Waktu menunjukkan hampir jam dua siang. Di sebuah angkot terlihat seorang siswa SMU berusaha menahan kantuk nan menyerangnya. Ia seperti kecapean. Sebenarnya aktivitasnya di hari itu tak sepadat biasanya.

Di hari-hari lain ia sering pulang lebih telat, karena harus mengikuti terlebih dahulu kegiatan Ekskul di sekolahnya, yaitu DKM (Dewan Kemakmuran Masjid). Namun tetap saja aktivitas belajar sejak pagi hingga pukul setengah dua siang, cukup menguras tenaga dan pikirannya. Karena dahsyatnya kantuk nan menyerang, ia pun terlelap juga akhirnya.

Tak dinyana, orang nan ada di sampingnya memperhatikan gerak-geriknya sejak ia baru duduk di angkot itu. Ketika terbangun, ia menoleh ke sampingnya, pandangannya berpapasan dengan pandangan orang itu.

Seorang pria nan berparas muka tak lembut, tapi tak juga menyeramkan. Kulitnya berminyak dan hitam tapi tak sehitam orang Afrika. Bagian depan kepalanya hanya sedikit ditumbuhi rambut, mungkin terjadi “erosi” padanya.

Pria itu melemparkan senyuman padanya, lalu berkata, “Ngantuk ya De? “ Ia menjawab sembari senyum, “ Eh, iya. “ . Komunikasi antara mereka berdua tak berlanjut.

Akhirnya angkot itu sampai di tujuan. Ia pun turun. Ketika kakinya baru saja melangkah beberapa meter, tiba-tiba ada orang nan memanggil, “De, sini dulu sebentar. “ Ia menengok. Tak dikira, ternyata nan memanggilnya ialah pria di angkot tadi itu. Ada urusan apa orang ini denganku? Pikirnya. Ia pun menghampirinya.

Pria itu jongkok, ingin mengajaknya bicara. Jongkok pulalah ia. Pria itu memulai pembicaraan, “Gini De, aku ngelihat kamu tuh melas sekali, makanya aku ingin bantu kamu. “ Melas? Memang ada apa denganku?

Muncul keheranan di pikirannya. Pria itu berkata, “Saya punya ramuan nan dapat untuk paras kamu jadi berwibawa dan dihormati orang-orang. “ Lho memang tampangku bloon apa, sampai harus jadi berwibawa? Apa saya kurang berwibawa? Apa ada orang nan melecehkanku sampai saya harus dihormati segala? Berbagai “protes” itu muncul di kepalanya.

Pria itu memberikan penjelasan, “ Tapi ramuan ini dari ilmu putih De, bukan ilmu hitam. “ Ilmu putih? Apa pula itu ilmu putih? Apa ada ilmu putih? Ia jadi “menginvestigasi” dirinya sendiri. Ia bingung tentang ilmu putih itu. Meski di sekolahnya bergabung dengan DKM, ia belum belajar banyak tentang agama, makanya pantas saja banyak perkara agama nan belum diketahuinya.

Apalagi nan menyangkut “ilmu putih” itu. Ia masih bertanya kepada dirinya sendiri, “Apa boleh itu ilmu putih? “ “Lantas apa bedanya ilmu putih dengan ilmu hitam? “ “Jangan-jangan penamaan ‘putih’ itu cuma kamuflase saja biar tak terbongkar hakikat sebenarnya. “

Di tengah pro-kontra tentang ilmu putih di pikirannya, pria itu mengeluarkan kertas alumunium nan biasa menjadi pembungkus rokok, lalu berkata, “Coba De, kamu ambil kerikil. “ Kerikil? Buat apa kerikil? Pikirnya.

Tak mau urusan jadi panjang, Ia pun memungut beberapa kerikil lalu menyerahkannya kepada pria itu. Pria itu membungkus kerikil-kerikil itu dengan kertas alumunium tadi lalu berkata, “Coba De kamu sentuh ini .“ Ia pun menyentuhnya.

Ternyata kertas itu terasa sangat panas seolah-olah akan terbakar. “Gimana? “ Pria itu bertanya. Ia menjawab, “ Kertasnya panas gini. “ Pria itu berkata, “Berarti ramuan ini memang cocok untuk kamu De. “ Hah..Ramuan itu cuma kerikil? Memang kerikil apa itu? Apa kerikil itu punya keistimewaan? Pertanyaan-pertanyaan itu mengaduk-aduk otaknya.

Pria itu berkata “Jadi gini De, kamu masukkan ramuan ini ke ember nan berisi air, terus kamu basuh paras kamu pake air itu beberapa kali sehari, nanti kamu dapat lihat hasilnya, paras kamu jadi berwibawa dan disukai orang-orang. “ Ia berpikir, “Apa iya, dengan seperti ini dapat menambah kewibawaan? Aneh.

Ini syirik! Tapi bagaimana mau dibilang syirik, tak pakai bacaan atau tulisan tertentu, lalu ia juga bilang itu ilmu putih, apa itu terlarang?“

Di tengah perdebatan nan berkecamuk di kepalanya, pria itu bertanya, “Ngomong-ngomong di sekolah ikut Ekskul apa De?” “DKM (Dewan Kemakmuran Mesjid)” Jawabnya. Pria itu seperti terkejut. Lalu bertanya “Aktif nggak selama ini?” Ia pun menjawab dengan “tawadlu”, “Oh, aku kurang aktif. “

Raut mukanya langsung berubah seperti menampakkan kelegaan. Ia jadi curiga, kenapa pria itu terkejut ketika mendengar kata DKM. Dan anehnya lagi ia seperti lega ketika tahu kalau dirinya tak aktif di Ekskulnya tersebut.

Ia berkata dalam hatinya, “ Apa saya bawa dulu saja ya, ramuan ini, terus nanti tanya ke teman-teman, siapa tahu mereka tahu hukumnya. “ Pria itu bertanya lagi, “Kamu bawa uang Dek? “ Uang? Apa ia minta imbalan dengan semua ini? Pikirnya. “Ya, bawa. Buat apa? “ Jawabnya.

Pria itu berkata, “Biar uang kamu kondusif disatukan aja sama ramuan ini. “ Aman? Apa uangku akan hilang? Pikirnya lagi. Ia terheran-heran. Tanpa berlama-lama Ia pun memberikan uang ribuan nan ada di kantong celananya.

Belum hilang keheranannya, pria itu bertanya lagi, “Cuma ini? Masih ada lagi nggak? “ Ia jadi makin heran, apa harus semua uangnya dikumpulkan. “Ada, tapi ini uang DKM. “ jawabnya. Pria itu berkata, “Nggak apa-apa disatukan aja, biar aman. “ Ia pun mengeluarkan uang nan tersisa sekitar 20 ribuan dari dompetnya, uang itu ialah uang kas mesjid sekolah, lalu menyerahkan itu kepadanya.

Pria itu langsung memasukkannya ke dalam kertas rokok tadi, lalu menggulungnya menjadi seperti korek barah gas kemudian menyerahkan itu kepadanya. Sejenak mereka berdua berbasa-basi. Lalu setelah itu keduanya pun berpisah. Pergi ke tujuan masing-masing.

Sambil melangkahkan kakinya menuju rumah, siswa itu berpikir, “Sebenarnya sahih tak sih ramuan tadi itu? Jadi penasaran. Ah, nanti di rumah langsung buka saja. “ Sesampainya di rumah, tak seperti biasanya, Ia tak langsung “menyerang” makanan nan ada di meja makan.

Ia malah langsung membuka bungkusan nan berisi “ramuan” itu. Diurailah dengan perlahan lipatan demi lipatan bungkusan itu. Dan ternyata. “….” Tercenganglah ia. Bungkusan itu tidak berisi! “Ramuan” dan uangnya raib! Ia tertipu!

Keesokan harinya di sekolah, ia menceritakan kejadian nan baru dialaminya kepada teman-temannya sesama aktivis masjid. Mereka pun langsung menyalahkannya, “Lha , antum lagian percaya aja kayak gitu.

Nggak ada itu ilmu putih. Walaupun nggak pake bacaan tertentu, nggak ada seperti itu dalam islam, itu syirik. “ Ia jadi tersadarkan. Katanya dalam hati, “Iya, ya sebenarnya dengar kata ilmu putih saja sudah ganjil, apalagi masak dengan ramuan eksklusif tiba-tiba orang jadi berwibawa, tidak masuk akal pula! “

Setelah belajar dan belajar, pahamlah ia, bahwa mengukur suatu perbuatan syirik apa bukan, tak cuma sebab ada bacaan atau tulisan “aneh” saja, tapi dapat lebih luas dari itu.

Para ulama telah menjelaskan dalam kitab-kitab nan membahas tentang tauhid, bahwa siapa nan mengambil atau meyakini sesuatu sebagai sebab, padahal syariat atau penelitian secara ilmiah tak menetapkan itu sebagai sebab, maka ia terjatuh dalam syirik ashgar.

Karena itu tidak ada dalam syariat islam nan menjelaskan bahwa kerikil-seperti “ramuan” pria tadi-sebagai karena penambah kewibawaan seseorang, dan tak pula penelitian ilmiah membuktikan bahwa kandungan kerikil dapat memberikan kewibawaan kepada seseorang. Maka itulah syirik, dosa terbesar dari dosa-dosa besar.

Cerita di atas memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya membekali diri dengan ilmu agama. Terutama menyangkut dasar-dasar agama, seperti tauhid dan aqidah.

Karena kalau seseorang bodoh dalam perkara duniawi saja dapat tertipu dunianya dan sengsara hidupnya, apalagi nan bodoh dalam perkara agama, dapat tertipu global dan akhiratnya serta lebih sengsara pula hidupnya.

Mudah-mudahan cerita di atas dapat dijadikan hikmah dan ‘ibrah bagi kita semua. Tapi, tahukah Anda, siapa siswa nan aku ceritakan di atas tadi? Itu aku sendiri! Alangkah bodohnya aku ketika itu!

Jakarta,24 Dzulhijjah 1431/30 November2010


Kejadian di atas terjadi lebih dari sepuluh tahun nan lalu. Karena terjadi sudah lama, ada beberapa bagian kejadian nan terlupakan. Makanya, dapat jadi dalam cerita nan ditulis di atas ada sedikit pengurangan atau penambahan dari kejadian sebenarnya, akan tetapi-insya Allah- tak terlalu berpengaruh atau mengubah fakta nan sebenarnya.
.

Oase iman

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy