Rumah Di Pinggir Sungai

Rumah Di Pinggir Sungai

“Ayah, mengapa rumah kita di tepi sungai? Riskan jika banjir datang”.

“Benar anakku. Tapi lihatlah. Jernih sekali airnya. Kita bergantung hayati dari sungai ini. Dapur kita mengepul setiap hari sebab rizki dari Tuhan nan melimpah di airnya. Dengan mata kail dan jala kita menangkap ikan. Atau jika kita sedikit malas, kita cukup memasang bubu lalu ikan datang sendiri pada kita”.

”Tapi, sumber kehidupan bukan hanya dari sungai, bukan?”

”Benar sekali. Rezeki Tuhan seluas langit dan bumi”.

”Kalau begitu, mengapa kita tak tinggal di kota saja?”

”Apakah kamu mengira di kota tak akan banjir?”

”Apakah begitu?”

”Bahkan di kota, banjir dapat datang rutin setiap tahun anakku”.

”Ayah, jika memang ayah tak mau pindah rumah di pinggir sungai ini, bagaimana jika sungainya saja nan kita dipindahkan dari pandangan kita?”

”Caranya?”

”Kita bergerak menjauh dari tepiannya”.

”Tidak perlu anakku. Ayah punya cara nan lebih bijak menghadapi kekhawatiranmu atas banjir. Kita tak perlu pindah dari tepian sungai sebab kita bergantung hayati di sini. Bukan ayah tak ingin hayati di kota, tapi ayah tak punya keahlian buat menghadapi kerasnya kehidupan kota. Keahlian nan ayah miliki hanyalah menangkap ikan. Sungai ialah jiwa ayah. Jala dan kail ialah teknologi ayah. Kita juga tak perlu memindahkan sungai ini dari depan rumah kita sebab hal itu mustahil.”

”Lalu, apa nan ayah lakukan untukku supaya kelak saya dapat selamat dari banjir”.

”Yang niscaya bukan memindahkan sungai itu, namun, ayah akan mengajarmu mahir berenang”.

—–

Saya agak terkejut, seorang wali siswa bercerita terus terang telah menemukan VCD porno pada lipatan pakaian di kamar anaknya; siswa saya. Biasanya, hal-hal semacam itu diumpetin oleh orang tua dari pendengaran para guru atau wali kelas anaknya. Bahkan sebaliknya, dalam banyak kasus, ada sebagian orang tua nan terus berupaya membentuk gambaran bahwa anaknya baik dan penurut saat diperlukan kehadirannya di sekolah. Maaf, bahkan ada nan tak sungkan menyalahkan bahwa guru telah salah mengambil sikap atas anaknya. Konkret sekali bahwa sikap itu tak lebih hanyalah pembelaan atas pelanggaran disiplin nan dilakukan anak mereka di sekolah.

Memberlakukan anggaran nan ketat dan kaku oleh sekolah juga bukanlah cara nan tepat, tetapi terlalu longgar dan terlalu banyak toleransi juga dapat menjadi bumerang. Seringkali terjadi, siswa membawa Norma dari lingkungan keluarga dalam hubungan mereka di kelas atau di sekolah.

Di sinilah sering terjadi kesenjangan sikap antara guru dan orang tua nan menimbulkan mispersepsi. Saya bahkan pernah geleng-geleng kepala mendengar cerita teman aku di satu sekolah bergengsi, begitu protektifnya orang tua nan mengerti hukum, menakut-nakuti guru olahraga akan dilaporkan ke komisi HAM hanya sebab anaknya disuruh push up karena tak mengikuti anggaran saat olah raga. Menggelikan. Hal ini tentu tak boleh terus terjadi dalam konteks pendidikan nan menjadi tanggungjawab bersama.

Adalah hal nan sangat menggembirakan apabila pengalaman mendiskusikan soal anak didik dalam satu visi nan sama. Seperti nan aku jumpai pada sabtu kemarin. Bahkan aku sangat appreciate atas kejujuran orang tua itu soal VCD porno itu. Menurutnya, anaknya dalam masalah besar. Saya tegaskan, bahwa hal ini ialah masalah kita bersama. Hanya saja, orang tua dan guru nan paling resah jika persoalan ini dialami anak-anak kita.

Saya menganggap, bahwa setiap orang tua saat ini seperti mendiami rumah di pinggir sungai seperti illustrasi di awal tulisan ini. Rumah merupakan representasi dari nilai-nilai tertutup nan secara idiologis diturunkan kepada anggota keluarga dari generasi ke generasi. Rumah ialah media privat loka menanamkan nilai-nilai kebajikan berdasarkan keyakinan kepala keluarga kepada isteri dan anak-anaknya. Dari rumah inilah transformasi nilai-nilai itu dimulai dan akan membentuk karakter para penghuninya. Wajar jika kemudian rumah dianggap sebagai sekolah pertama bagi anak dan kedua orang tua ialah guru utamanya.

Sedangkan sungai ialah wilayah publik nan bebas nilai. Segala macam nilai atau idiologi hayati mengalir di situ, baik nan menguntungkan maupun nan bersifat ancaman. Teknologi informasi ialah salah satu nilai nan mengapung di sungai kehidupan nan dalam dan deras itu. Ia dapat menjadi ventilasi informasi nan mengantarkan pada kecerdasan. Tetapi juga dapat menjadi senjata perusak moral sebagaimana bala banjir nan merusak dan mengancam keselamatan hayati orang banyak.

Setiap orang tua atau guru hampir mustahil membendung laju teknologi. Rasanya tak mungkin membuat jurang pemisah nan memutus hubungan anak dengan berbagai kemajuan teknologi informasi di era modern ini. Sangat tak mungkin, sedangkan akses layanan internet dapat mereka peroleh di mana saja dan kapan saja. Bahkan di WC pun mereka dapat connecting dan mengubah status Facebook atau Twitternya dari Black Berry milik mereka. Mustahilnya memutus mereka dari fenomena ini, sama mustahilnya dengan usaha memindahkan sungai dari depan rumah hanya sebab takut akan bahaya banjir. Maka menanamkan nilai-nilai akhlak, memperkuat basis ibadah, mengajarkannya tanggungjawab pada diri sendiri dan kepada Allah serta kepatuhan pada agama dan keyakinan menjadi senjata nan dapat menyelamatkan mereka dari pengaruh jelek teknologi. Pendek kata, taqwa seperti kemahiran berenang di tengah arus budaya zaman nan makin menggila. Bagaimanapun saat bala banjir datang, semua orang dapat wafat tenggelam. Tetapi nan mahir berenang berpeluang lebih besar dapat menyelamatkan dirinya dari tenggelam.

Wajarlah, mengapa agama mengingatkan para orang tua dan murabbi agar sejak dini mengajarkan ibadah kepada generasi di bawahnya. Terutama salat, sebab ia benteng dari perbuatan keji dan munkar. Bahkan Rasul membolehkan ”pukulan” pendidikan jika dalam usia 10 tahun mereka enggan mendirikan salat.

Allahu a’lam.

Betapa indahnya rumah di tepi sungai. Seperti illustrasi cerdas Kanjeng Rasul dalam riwayat Imam al Bukhari:

Dari Abu Hurairah, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang dari kalian, lalu dia mandi lima kali setiap hari? Apakah kalian menganggap masih akan ada kotoran (daki) nan tersisa padanya?" Para sahabat menjawab, "Tidak akan ada nan tersisa sedikitpun kotoran padanya." Lalu beliau bersabda: "Seperti itu pula dengan shalat lima waktu, dengannya Allah akan menghapus semua kesalahan."

Depok, oktober 2010.

abdul_mutaqin@yahoo.com

Oase iman

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy