Sahabat, Bukan Aku Tidak Menyayangimu

Sahabat, Bukan Aku Tidak Menyayangimu

 

Oleh : Nunik Jatmike

“Maafkan, ini nan terakhir semoga semua akan lebih baik suatu saat nanti,” Kututup telepon dengan perasaan bersalah nan dalam. Karena pada hari ini saya telah membuat suatu dosa dengan menutup jalur komunikasi dengan seorang sahabat. Bukan sebab saya tak menyayanginya tapi sebab menjalani kehidupan sinkron dengan jalan nan dipilih masing-masing ialah nan terbaik.

Dia sahabatku, sampai kapanpun saya tak lupa akan itu, seorang sahabat nan mengingatkanku akan harta paling berharga nan kubawa yaitu Islamku. Seorang sahabat nan kerap menamparku dengan kata-kata sinis bahkan pedas ketika saya melakukan kesalahan. Teman nan mengatakan “Munafik!” saat saya tak konsisten terhadap kata-kataku bahkan “materialistis!” pun pernah terlontar dari dirinya.

Diskusi nan keras sering kali terjadi, tapi pada akhirnya akan berakhir dengan sebuah kata-kata bahwa sahabat ialah orang nan menampar kita ketika kita bersalah bukan sebab benci tapi sebab rasa saling menyayangi sebagai saudara.

Dalam perjalanan persahabatan sebuah pencerahan akan bukti diri diri akan menyeruak, bertarung dengan ego, dan bukti diri diri. Dan sebuah kegagalan telah tercatat, hamba nan lemah ini tak sanggup menjaga niat. Persahabatan itu berubah dan perubahan itu tak sanggup buat dimaklumi. Proses nan berlangsung sebagai wahana belajar telah menjadi sebuah kekaguman nan menyebabkan diri memaksa menjadi serupa dengan orang nan dikagumi. Keyakinan akan diri sendiri goyah sebab perasaan manusiawi. Dan sebuah perjalanan sampai pada keputusan, pergi atau menyesali diri.

Kesadaran bahwa dalam sebuah proses pencarian jati diri seharusnya dilakukan sebab Allah membuat diri nan lemah ini malu, betapa perasaan insani telah menyeruak mengalahkan hati nurani.

Kesadaran nan muncul saat perasaan tertekan itu hadir ialah suatu kemustahilan berusaha menjadi seseorang nan lain. Rasa malu nan dalam menyadari ketidak ikhlasan diri menyeruak dalam hati. Perasaan malu sebagai seorang hamba membuat sebuah keputusan harus diambil, semuanya harus berakhir. Maka sebuah permintaan maaf pun mungkin takkan pernah dapat menghapus dosa.

Sungguh sahabat, tak menyayangimu bukanlah alasan keputusan ini. Tapi pencerahan penuh bahwa seorang manusia harus menjadi dirinya dalam sebuah perjalanan membangun pondasi kehidupan membuat diri ini malu sebab tak sanggup buat menetapkan tekad. Tapi pencerahan bahwa kebersamaan ialah suatu jalan buat mengaburkan makna perjalanan mencari-Nya.

Percayalah sahabat, di manapun dirimu berada kau ialah sahabatku, sebab sahabat ada dalam perjalanan waktu dan mendoakanmu meski dari jauh.

nunik.jatmike@gmail.com

( semoga dilain waktu semua akan lebih baik )

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy