Sambut Ramadhan di Zaman Edan

Sambut Ramadhan di Zaman Edan

Memang susah jadi manusia saat ini. Karena sekarang ini katanya zaman edan, kalo nggak ikut edan nggak keduman. Makanya banyak anggota dewan nan makan dana siluman. Bahkan ketika ada anggota dewan nan terkenal ‘putih’ diingatkan agar jangan ikut-ikutan, tapi katanya dana itu sayang jika tak dimanfaatkan, buat kapital bergerak dalam perjuangan. Maka sudah dike manakankah sosok iman, nan seharusnya Qur’an dan Sunnah jadi pedoman, nan bukan hanya semangat dan latif saat diucapkan, dalam kajian – kajian rutin pekanan.

Katanya zaman kiwari, kalo nggak jual diri nggak makan nasi. Makanya sekarang banyak anak – anak gadis jual diri. Isteri – isteri buka ‘lapak’ dengan alasan bantu suami. Bahkan ada nan lebih parah sang ibu kandung jadi mucikari. Karena langganannya ialah para anggota Dewan nan baik hati. Dengan alasan membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan di negeri ini. Apakah mereka sudah tak punya harga diri, umbar aurat hanya demi sesuap nasi, seolah sudah tak ada jalan keluar lagi, seolah jika tak melakukan itu mereka akan mati. Bukankah rezeki sudah ditetapkan oleh Sang Robbul Izzati. Tinggal bagaimana langkah kita buat menjemput rezeki. InsyaAllah rezeki nan halal itu telah menanti.

Katanya zaman gila, kalo nggak gila nggak bahagia. Makanya keluarlah prinsip jika ada kesempatan kita sikat saja. Halal haram sudah dilupa. Uang korupsi dibilang buat bisnis jualan permata. Yang krusial rumah megah ada dua, mobil mewah ada lima serta banyak tanam kapital dalam reksadana. Lupakah mereka bahwa global ini hanya sementara, global nan sifatnya fana, hanya menunggu saat berakhirnya. Bukankah kabar gembira telah datang kepada mereka, akan adanya syurga nan siapapun akan kekal didalamnya. Maka mengapa mereka tak tergoda buat masuk kedalamnya.

Katanya zaman gendeng, kalo nggak sableng nggak dianggap gayeng. Makanya ada motto untuk apa hayati dibikin puyeng. Buat apa harus terikat dengan anggaran agama buat hayati nan nggak langgeng. Ngegele di kamar kost dan pergaulan bebas barulah greng. Apakah mereka tak mudeng? Bahwa perbuatan mereka hanya memuaskan para pemilik kapital nan berotak gendeng.

Katanya zaman mbeling, kalo nggak clubbing nggak dianggap orang penting. Makanya banyak orang nan hobi minum topi miring. Ada ayah nan menggauli anaknya sampai bunting. Berbuat amanah bukan lagi hal nan penting. Akibatnya banyak Aturan Negara dan Aturan Daerah nan digunting. Yang krusial keluarga dan rekan kerja puas main banking, tidak peduli banyak rakyat nan bunuh diri sebab pusing. Lupakah mereka dengan hari nan genting. Di Yaumul Hisab kala amal mereka ditimbang ternyata banyak nan garing, dengan hadiah azab neraka nan mendengarnya saja bikin bulu kuduk merinding.

Katanya zaman sedeng, kalo nggak sedeng nggak digandeng. Makanya banyak pemimpin nan tutup mata kala banyak pengusaha membangun bedeng. Bedeng buat jual miras dan lokalisasi berbuat sedeng. Karena merekalah nan mensuplai dana kampanye Pilkada dan Pemilu buat para Kanjeng. Sehingga setelah terpilih seolah mata mereka tertutup hordeng. Harusnya mereka tahu bahwa jabatan sebenarnya bagaikan kaleng, nan ketika diinjak kaki pastilah gepeng. Maka ketika menjabat seharunya mereka menutup bedeng – bedeng, nan membuat masyarakat berbuat sedeng.

Katanya zaman kalabendu, orang nan berbuat lurus dianggap lucu. Makanya KKN ialah motto hidupku. Sekolah dan guru jualan buku, nan wajib dibeli oleh para wali murid nan pasrah wafat kutu, padahal mereka lagi pusing buat bayar SPP bulan lalu. Sedangkan mereka sudah digaji dari pajak rakyat jenis ini itu. Seharusnya mereka bahu membahu, buat menghilangkan kebodohan nan sudah membeku, nan dirintis oleh para penjajah sejak ratusan tahun lalu. Sehingga ketika ditanya oleh Allah Yang Maha Tahu, sudahkah menunaikan kewajiban atas jabatanmu itu. Maka senyum merekah akan hadir dari bibirmu, lantas berikan bukti jutaan anak didik nan sekarang tunduk menyembah kepada Allah Yang Satu.

Katanya zaman burik, jadi orang baik malah dihardik. Maka ketika nasehat diucapkan nan terjadi ialah polemik. Guru tidak mau mendengarkan kebenaran dari anak didik. Tetangga tidak mau diingatkan bahkan nan menasehati dibilang udik. Anak mengingatkan orang tua malah dibawaan badik. Bukankah Rosulullah datang buat meningkatkan akhlak manusia menjadi baik. Buahnya ialah interaksi antara sesama ialah ibarat kilauan pelangi nan menarik. Sehingga ketika nasehat datang seharusnya nan terucap ialah labbaik.

Saat berharap itu telah tiba
Dikala zaman sungguh susah ‘luar biasa’, nan dapat membuat banyak orang putus asa, maka sambutlah bahwa ramadhan itu telah tiba. Sebuah bulan nan sungguh mulia, namun dapat saja dinanti atau dibenci oleh para pecinta, tergantung dari sudut mana ia melihatnya.

Ada golongan para pecinta nan sangat bersuka cita dengan kedatangannya. Mereka menganggap saat berharap itu telah tiba. Berharap buat keadaan diri dan negara. Agar zaman edan ini segera sirna. Saat buat berharap keberkahanNya. Saat buat berharap rahmatNya. Saat buat berharap keampunanNya. Termasuk pula saat buat berharap masuk ke dalam JannahNya dan terhindar dari nerakaNya. Merekalah para pecinta syurga.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku ialah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang nan berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqoroh: 186).

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7)

Namun ada pula golongan para pecinta. Yang bermuram durja atas kedatangannya. Lapar dahaga dirasa begitu menyiksa. Sholat malam hanya bikin ngantuk saja. Dan bahkan beberapa profesi merasa kehilangan pemasukannya. Merekalah para pecinta dunia.

Maka sahabat. Termasuk golongan nan manakah diri kita ini. Maka masih ada waktu buat merenungkanya. Sehingga ketika Ramadhan itu tiba. Maka kita akan menjadi bagian golongan pecinta sinkron pilihan kita. Marhabban yaa Ramadhan…

Catatan:
keduman : kebagian
kiwari : saat ini
gendeng : gila
puyeng : pusing
ngegele : memakai narkoba
greng : enak sekali
mudeng : mengerti
sedeng : selingkuh
mbeling : nakal
clubbing : mengunjungi kelab malam
kalabendu : sengsara
burik : tak mulus
hordeng : gorden/tirai

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy