Sang Penjamin Rizki

Sang Penjamin Rizki

Ketika anak aku lahir, hampir semua tetangga, saudara, teman dan juga kenalan-kenalan dekat saya, menjenguk mengucapkan selamat. Saya cukup bergembira dengan antusiasme mereka. Begitulah suasana di kampung. Kegotong royongan, silaturrahmi antar tetangga, alhamdulillah masih tumbuh fertile tidak lapuk ditelan zaman

Mereka datang mendoakan kami sekeluarga. Memberikan untaian doa kepada buah hati saya. Dan tidak sporadis juga nan memberikan tips-tips kepada isteri aku agar cepat sehat setelah melahirkan dengan resep-resep tradisional. Ada juga beberapa tetangga nan datang membawa buah tangan. Bentuknya macam-macam. Ada nan berupa barang-barang jenis keperluan bayi, seperti popok, bedak, sabun dan baju-baju kecil nan lucu-lucu. Dan ada juga jenis-jenis makanan, dari jajan pasar, sayur mayur, minyak goreng sampai daging ayam. Saya berterima kasih sekali dengan mereka.

Namun ada seorang tetangga nan begitu datang dan melihat buah hati aku lahir, langsung berkata. ”Jabang bayi, kenapa kau lahir di zaman susah begini? Di saat barang-barang serba mahal? Kenapa kau lahir tak pada waktu bahan makanan sedang murah?”

Ada rasa geli, lucu, tapi juga menguras sedikit otak saya, ketika mendengar ucapan perempuan itu. Paling tak aku jadi bertanya dengan diri sendiri, kenapa ia mengucapkan hal seperti itu? Tidak ada kata lainkah nan lebih enak didengar selain kalimat itu?

Saya tak tahu alasannya, mengapa tetangga aku mengatakan hal seperti itu, tapi nan jelas, orang nan baru melahirkan itu banyak membutuhkan makanan bergizi, supaya bayi dan ibunya sehat. Sedangkan barang-barang jenis makanan nan bergizi nyaris semua mahal.

Akhirnya aku sedikit paham dengan kalimat dia. Dia tentu memandang latar belakang saya, nan usahanya sedang hancur terpengaruh gelombang reformasi. Perempuan itu tentu bukannya asal ngomong mengatakan hal seperti itu, sebab ia melihat sehari-hari keadaan ekonomi saya. Usaha kecil-kecilan nan sudah aku rintis cukup lama nyaris tidak dapat bangkit lagi. Sedang harga bahan-bahan makanan nan bergizi sudah melambung. Mungkin saja begitu. Sebab waktu itu harga beras nan masuk dalam daftar beras ‘enak’ terlalu mahal buat ukuran saya.

Saya memang susah. Saya tidak mengelak keadaan seperti itu. Seiring dengan lahirnya si buah hati, usaha aku makin sulit. Ini aku akui. Banyak rizki nan datang kepada saya, tapi bukan lewat keringat saya. Banyak teman-teman nan datang di hari-hari berikutnya membawa sesuatu nan sangat menolong keberadaan ekonomi saya.

Apapun bentuknya, dari siapapun datangnya, nan jelas itu rizki dari Allah buat kami, terutama si buah hati nan baru lahir. Karena kata Allah, tidak ada satupun mahluk nan dilahirkan ke global ini tanpa membawa rizki. Tentunya ini ialah keyakinan nan harus aku pegang sampai kapanpun, dalam kedaan ekonomi seperti apapun.

Dan tak ada suatu binatang melatapun dimuka bumi, melainkan Allah lah nan memberi rizkinya, dan Dia mengetahui loka berdiam binatang itu, dan loka penyimpanannya. Semua tertulis dalam kitab nan nyata. (QS Huud: 6)

Biar si perempuan tetangga aku sangat menghawatirkan rizki anak saya, tapi aku tidak. Biar reformasi tidak kan kunjung ada hasilnya, aku konfiden Allah tidak kan berhenti memberikan rizki kepada makhlukNya.

*** Purwokerto, Juni 06 <woyo_sus@yahoo.co.id>

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy