Satu Inginmu

Satu Inginmu

Sore itu matahari bersinar cukup terik. Ba’da Ashar di sebuah kota kecil di sebuah ruangan rumah kami, mataku tidak lepas memandang laki-laki dengan rambut nan setengah memutih di kepalanya. Begitu khusyuk, begitu tenang dan dengan diamnya saya tahu ia sedang tak ingin diganggu ketenangannya. Tak lepas kutatap laki-laki itu, menunggu dia mengatakan sesuatu, atau bercerita apa saja tentang dunia. Tiba-tiba dia menatapku dan berkata, "Sayang…. mau bantu papa nak?" ooohh, akhirnya! dia bergeming dan berkata sesuatu kepadaku, "Ya papa…apa itu? Tapi yanti ndak mau kalo disuruh yg susah-susah!" seperti biasa saya selalu berusaha bersilat lidah pada lelaki itu. "Ndak… ndak susah kok sayang… yanti hanya menyimak papa membaca surat ini… nanti kalau ada nan salah… tolong papa dikoreksi…" seraya memberikan buku kecil tersampul rapi nan sedari tadi dibacanya kepadaku… "Apa ini pa? oooo… Al-Quran?" Dahiku mengerenyit seketika… hmm apa maksudnya ini? Tetapi, tatkala laki-laki itu mulai membaca Ta’awudz…. ahh… barulah saya mengerti… dia ingin bacaan Qur’annya disimak olehku…

Tak terasa satu jam berlalu sudah… lantunan ayat kudus itu dibacanya dengan tartil dan menawan… Subhanallah… alangkah pintarnya laki-laki ini pikirku… menghafal begitu banyak ayat nan tertulis di buku kecil ini hanya dengan sangat sedikit kesalahan… Lama saya terdiam membisu… sembari berfikir keras… bagaimana cara lelaki ini menghafalnya?

Tak lepas mataku memandang penuh tanya… "Pa… bagaimana cara papa menghafal ayat-ayat ini? mengapa papa menghafalnya? buat apa? dan kenapa papa mau bersusah susah menghafalnya?" kuserang lekaki itu dengan beribu tanya nan sedari tadi kutahan dengan segenap kesabaran… seperti biasa… lelaki itu hanya tersenyum bijak… tertunduk, diam sejenak… dan kemudian menatapku dengan pandangan yang lembut dan tajam… "Nak… ini ialah Al-Quran… di dalamnya ada kalam Allah, beribu ilmu dan hikmah… sejarah… anggaran hayati dan mukjizat hingga akhir dunia… Kakekmu ialah seorang penghafal Al Quran, begitu pula ayah kakekmu dan kakek dari kakekmu… dan papa ingin tradisi ini terus berlanjut pada keluarga kita… Maukah engkau… anak sholehah papa meneruskan tradisi ini?" sorot mata lembut itu dengan penuh harap menembus ke kedalaman hatiku… saya hanya diam membisu… menghafal Al Quran? Tanyaku dalam hati… "Karena Allah berjanji, barang siapa nan menghafalkan Al-Quran, maka dia pasti akan termasuk bagian dari keluarga Allah!" Papa kembali melanjutkan perkataannya dengan lembut tapi dalam. Aku hanya diam…. tak tahu harus berkata apa. "Yanti mau pa, tapi yanti ndak janji… soalnya begitu banyak nan harus dihafal… sepertinya mustahil buat menghafal seluruh isinya… jawabku dengan tatapan polos dan lugu… laki-laki itu tertawa tertahan… tersenyum begitu bahagia… hingga terlihat lesung pipinya nan dalam…

Waktu berjalan begitu cepat. Segala peristiwa terjadi silih berganti. Tetapi peristiwa hari itu tetap inheren dalam kenangan masa kecilku. Papa tak pernah memaksaku buat menghafalkan Al-Quran pun tak memasukkanku ke pesantren Al-Quran. Tapi hampir setiap hari saya melihat papa berinteraksi dengan Al-Quran. Dia begitu mencintai segala sesuatu nan berhubungan dengan Al-Quran. Hingga entah mengapa dan bermula dari mana, akhirnya 4 dari kami 7 bersaudara menjadi pengajar taman Al-Quran. Dan saya tahu, walaupun papa tak pernah mengatakan apapun, sorot mata senang selalu terpancar dari sejuk matanya, ketika saya mencium takzim punggung tangannya setiap magrib pamit buat pergi ke mesjid mengajar murid-muridku.

Beratnya deraan hayati dan masalah nan mengantam menguji keimanan, membuat papa teserang stroke and penyakit jantung. Penyakit nan menimpa dirinya tak membuat papa berhenti berinteraksi dengan Al-Quran. Bahkan dalam sakitnya, nan mengharuskan dirinya sholat sambil duduk, semakin menambah kuat interaksinya dengan Al-Quran. Dalam satu bulan dapat dipastikan papa dapat tiga kali menghatamkan Al-Quran. Selalu, setiap subuh hingga matahari sepenggalan, papa terlihat khusyuk di depan Al Quran besarnya, dilanjutkan dengan do’a nan teramat sangat panjang. Aku tak tahu, permintaan apa saja nan dipanjatkan papa kepada Allah sehingga begitu panjangnya. Dan selalu, bila saya merasa tak enak badan atau sedang mempunyai masalah berat, saya akan mendengarkan papa membaca Al-Quran, duduk disampingnya sampai saya tertidur lelap hingga kemudian terbangun dengan perasaan nan lebih sejuk dan tentram.

Kemudahan nan diberikan Allah kepada kami bersaudara dalam menempuh pendidikan, kurasa ialah karunia nan Allah berikan lewat do’a panjang papa nan tiada kenal lelah. Aku ingat, dihari ketika saya menjalani sidang sarjana, semenjak keberangkatanku ke kampus di pagi hari, hingga kemudian saya kembali lagi ke rumah ba’da dzuhur dengan membawa gelar sarjanaku, saya temui papa sedang berada di atas sajadahnya dengan Al-Qurannya. Beliau meneteskan air mata senang ketika kucium punggung tangannya dan kuberitakan saya lulus sidang sarjana dengan segala kemudahan nan diberikan oleh Allah. Satu pernyataan nan tak akan mungkin pernah saya lupakan adalah, ketika papa berkata, semenjak kepergianku ke kampus dia tak berhenti berdzikir dan ber do’a agar saya diberi kemudahan dalam berbicara seperti kemudahan nan diberikan Allah kepada Nabi Musa. Subhanallah!

Hari ini saya sedang berjuang keras menuntaskan termin terakhir dalam pendidikan tertinggiku. Salah satu janji kepada ayahanda tercinta nan harus saya tunaikan. Dan saya sangat pahami, perjalanan panjang hingga saya berada di termin ini semata ialah sebab karunia Allah dan do’a panjang papa selepas dia menghatamkan Al-Quran mulia. Masih ada janji nan harus kuperjuangkan buat ditunaikan. Dan saya sangat sadari, itu bukan pekerjaan sembarangan pun bukanlah pekerjaan nan ringan. Peristiwa ba’da ashar di kota kecil kelahiranku, ialah janji nan tak pernah saya ucapkan pada ayahanda. Tetapi bagiku, bila saya dapat mewujudkannya, ialah bukti baktiku kepada ayahanda nan telah mengajarkan dan mengenalkanku kepada kemuliaan dan estetika Al-Quran. Teman setia nan selalu ada dan selalu memberikan nasihat kepada kemenangan.

Hari ini genap 6 tahun papa memenuhi janjinya buat kembali kepada Dzat nan telah menciptakannya. Jum’at pagi yang syahdu…dari ventilasi apartemenku, kutatap salju nan turun satu persatu. Kutatap hamparan putih dihadapanku, seraya kukirim do’a selepas menuntaskan hafalan Quranku. Ya Allah, sejukkanlah alam barzah ayahandaku dengan dinginnya air salju. Jadikanlah kesabaran dan ketegarannya dalam mendidik kami putra putrinya sebagai amalan nan terbaik dan tiada terputus pahalanya di hadapan-Mu. Dan jadikan amalan Quran-nya sebagai teman setia dan pembelanya di alam sana. Amiin.

Samar tedengar merdu lantunan surat Al-Fath kesayangan ayahanda di telingaku… Inna fatahnaa laka fathammubiynaa… Surat nan selalu papa baca bila beliau didera sedih dan bahagia, surat nan selalu kubaca dengan segenap jiwa, bila rindu ini begitu mendera kepada ayahanda tercinta… Semoga engkau menemui kemenangan di alam sana papa… Tunggu ananda, semoga dapat mempersembahkan mahkota kemuliaan bagimu sebagai hadiah dari Rabb kita. Nantikan ananda, semoga kita bersua dalam majelis, dimana kita dapat bersama menuntaskan bacaan Al-Quran kita hingga mencapai loka tertingggi buat bertemu dengan Rabb kita. Amiin.

I’ll always love you papa… yesterday, now and forever!

Mainz, Germany. 29.01.10

Rindu nan sangat buat papa

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy