Sebab Cinta Tak Harus Menangis

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, sebab hayati harus tetap berjalan!”sebuah SMS masuk ke hp ku, dari salah satu teman sekolahku. Kalian nan ia maksudkan ialah saya dan putriku. Sedang hal nan membanggakannya ialah bahwa kami —aku dan putriku— dapat mengikuti prosesi pemandian hingga pemakaman jenazah tanpa tetesan air mata.

Beberapa orang kerabat sempat melarangku buat ikut memikul jenazah ke pemakaman. Mereka risi saya tidak mampu menguasai diri. Tapi saya bersikeras. Kuyakinkan pada mereka bahwa saya baik-baik saja. Aku hanya meminta pada salah satu kakak ipar buat mengawalku, berjaga-jaga apabila ternyata keyakinanku keliru.

Juga ketika sampai di pemakaman, beberapa kerabat kembali melarangku turun ke liang lahat. Kekhawatiran nan sama, bahwa saya tidak akan mampu menahan diri saat jenazah diturunkan. Kembali kuyakinkan pada mereka, bahwa saya baik-baik saja dan dalam keadaan sadar, sesadar-sadarnya. Aku jamin tak akan ada air mata apalagi kelenger segala.

Aku sepakat dengan dua kakak iparku nan ikut turun ke liang lahat. Aku mengambil posisi di sebelah utara. Aku ingin membuka sendiri kain kafan nan menutupi paras almarhumah. Kuakui, bergetar juga hatiku saat itu. Ini ialah pengalaman pertamaku turun ke liang lahat, dan itu terjadi pada pemakaman istriku sendiri. Bismillahirrohmanirrohim, saya kuatkan hati buat tak menuruti perasaanku. Kupusatkan perhatian pada arahan nan diberikan ustadz nan memimpin acara pemakaman.

Perlahan kubuka tali pengikat kain kafan jenazah istriku. Ada rasa nan tidak dapat kugambarkan dengan kata-kata saat mulai membuka kain nan menutupi bagian wajahnya. Subhanallah! Allahu akbar! Seraut paras nan sangat tenang dan damai terlihat di sana. Bahkan, senyum di wajahnya ialah senyum nan pertama kali membuat saya jatuh cinta padanya.

Aku berikan kesempatan pada putriku nan berdiri di pinggir liang lahat buat melihat paras sang ibu terakhir kalinya. Ada mendung menggantung di kedua matanya, namun kupastikan tidak ada air mata nan menetes darinya. Meski fenomena ini begitu berat ia terima, namun ia dapat membuktikan bahwa ia dapat tegar dan tabah.

Kuhadapkan paras istriku ke arah kiblat, kupastikan wajahnya menyentuh dinding kubur nan basah. Kuganjal bagian belakang jenazahnya dengan bantal bulat nan terbuat dari tanah. Setelah jenazah berada pada posisi nan baik dan benar, barulah kutinggalkan jenazah istriku. “Selamat tinggal sayang, beristirahatlah dengan tenang. Semoga keikhlasanku, keridhoanku akan memudahkan langkahmu menghadap Sang Pemilik Cinta Sejati. Insya Allah, di dalam surga kelak kita kan bersama lagi. Amin.”

Hanya sampai di sinilah kewajiban fisik nan dapat kupenuhi pada orang nan sangat kami cintai dan sayangi. Proses selanjutnya kuserahkan pada mereka nan sudah biasa memakamkan. Satu persatu bambu dipasang di atas jenazah, memberikan ruang agar jenazah tidak tertimbun tanah secara langsung. Dalam hitungan menit, jenazah istriku tidak terlihat lagi. Itulah saat terakhir saya melihat jenazah istriku di global ini. Perlahan tanahpun dimasukan, menimbun bambu-bambu nan terpasang rapi. Terdiam, saya dan putriku menyaksikan cangkulan demi cangkulan tanah basah ini tanpa kata, dan juga tanpa air mata.

Usai pemakaman, sebagian besar pelayat langsung pulang ke rumah masing-masing. Tinggal beberapa nan sengaja menunggu kami kembali buat kemudian berpamitan. Berbagai dukungan dan nasihat datang dari keluarga, tetangga, kerabat dan juga sahabat nan menyempatkan diri, meninggalkan segala aktifitas rutin mereka buat memberikan penghormatan terakhir pada almarhumah. Mereka nan tidak sempat berpamitan langsung padaku, menitip salam pada bapak dan ibu. Ada juga nan berpamitan melalui telepon atau SMS. Salah satunya ialah teman sekelasku. Ketika ku telpon, terbata ia memohon maaf. Sengaja ia tidak menemuiku lagi sebab ia takut mengusik ketabahanku. Ia bangga sekaligus terharu melihat kesabaran, ketegaran dan ketabahanku, juga putriku. Jelas kudengar suara isak di seberang sana, sebelum ia berjanji akan datang beberapa hari lagi. Ia butuh waktu buat menata hati kembali.

Berbagai dukungan, ungkapan haru sekaligus bangga, senada dengan SMS temanku terus berdatangan sampai beberapa hari setelah pemakaman. Rata-rata, baik keluarga, tetangga ataupun kerabat ‘mengakui’ ketabahan dan ketegaran kami. Bahkan ada diantaranya nan berterus terang mengatakan ingin mencontoh ketabahan dan ketegaran kami kelak bila ada anggota keluarganya nan meninggal dunia. Namun ada juga beberapa orang nan agak ‘mempertanyakan’ ketabahan kami. Paling tak ada nan mengatakan demikian, “Waktu istrinya meninggal, si Fulan boro-boro memikul jenazah dan turun ke liang lahat, justru berkali-kali ia histeris dan jatuh pingsan. Mungkin sebab saking cintanya, sehingga Fulan tak dapat menerima kepergian sang istri nan tiba-tiba.”

Aku mencoba bersikap wajar dan berpikir positif terhadap apapun nan orang katakan. Aku tak merasa istimewa ketika beberapa orang mengaku bangga dan ingin mencontoh ketabahan kami. Memang sudah demikian mestinya keikhlasan dan keridhoan diwujudkan. Juga saya tak ingin berburuk sangka apabila ada nan memandang taraf kecintaan pada hysteria saat kehilangan. Mereka tentu tak bermaksud meragukan kesungguhan cinta serta besarnya rasa kehilangan, hanya saja mereka melihat sesuatu nan tidak biasa.

Menangis memang salah satu refleksi dari rasa kehilangan sekaligus kecintaan. Jangankan kita, seorang rosululloh pun menangis sedih saat putranya —Ibrahim— meninggal dunia. Setabah apapun nan orang lihat saat acara pemakaman, sebelumnya kami juga tidak kuasa menahan tangisan. Saat istri dalam keadaan kritis, dzikir dan doa kami berbaur dengan deraian air mata. Begitupun ketika sang dokter mengatakan bahwa nyawa istri tidak tertolong lagi, tangispun pecah. Juga ketika rombongan kami tiba di rumah, tangis kami luruh terbawa suasana. Bahkan saat membaca ayat-ayat kudus Al Quran di samping jenazah, beberapa kali saya tidak bisa meneruskan sebab panglihatan nan kabur dampak air mata nan menggenang.

Bila orang mengartikan tangisan sebagai aktualisasi diri rasa cinta, mereka tidaklah salah. Demikianlah adanya, meski juga tak selamanya. Dalam pandangan kami, terkadang sebaliknya. Cinta tidak harus menangis. Almarhumah tak membutuhkan tangisan kami, ratapan kami. Yang almarhumah harapkan ialah keikhlasan, keridhoan serta doa-doa dari kami.

Ada banyak hal nan dapat kami lakukan buat menunjukan rasa cinta kepada almarhumah. Menerima takdir ini dengan penuh keikhlasan, keridhoan. Mendoakan almarhuhan di setiap kesempatan. Menyelesaikan kewajiban serta menjaga dan menjalankan amanah nan almarhumah tinggalkan. Kami tidak ingin cinta —tangisan dan ratapan— kami justru membebani langkah-langkah almarhumah. Kami tak ingin termasuk orang nan menangis histeris, meratap di hari pertama, tapi sudah sama sekali lupa di hari kedua. Apalagi hari-hari berikutnya, terlupa mendoakan sebab sibuk berebut warisan. Na’uzubillah!

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy