Sebuah Kisah Dari Kampung Jilbab

Sebuah Kisah Dari Kampung Jilbab

Pada tahun 2000 saya punya tetangga baru. Orangnya bergaya terbuka, maksudku dalam hal berpakaian. Celana nan dikenankannya setinggi lututnya, dan bajunya pun “you can see”. Orangya memang putih dan semampai. Ketika dia masuk keperkampungan jilbab, dia merasakan dirinya sangat langka. Sebut aja namanya Anne ( nama samaran ).

“Sekarang kamu berjilbab. Kalau boleh tahu apa penyebabnya?” Iseng saya bertanya pada Anne setelah sama-sama pulang dari belajar ngaji.

“Khan kamu tahu, dulunya auratku terbuka. Tapi setelah saya mejadi warga kampung ini, saya seperti minder sendiri.” Dia senyum-senyum sambil mensejajari langkahku nan terbilang cepat. Waktu menunjukkan jam 6 sore, saya harus tiba di rumah sebelum Magrib tiba.

Anne rajin mengikuti pengkajian rutin di kampung itu. Ketika kami belajar ngaji buat memperbaiki tajwid kami, maka dia pun tak ingin ketinggalan. Subhanallah! Dari seorang wanita nan tak begitu paham ber-islam, akhirnya bersungguh-sungguh buat memperbaiki diri.

Anne termasuk beruntung, sebab dapat menggapai hidayah Allah S.W.T. Sebaliknya, ada seorang wanita, nan telah bergabung beberapa tahun pada pengkajian rutin, tetap saja tak mampu menutup auratnya secara penuh. Bila berada di teras depan rumahnya, jilbabnya terlupakan.

Faktor teman memang mempengaruhi Anne, tapi tak dengan nan lainnya. Ada beberapa warga di kampung hijab seperti tidak tersentuh oleh hidayah. Mereka hanya menutup aurat bila menghadiri ta’lim ataupun undangan. Selain itu? Tentu saja seperti kebanyakan wanita dalam berpakaian.

Ketika aku pulang dari menghadiri Ta’lim di siang hari, aku melihat Asni ( nama samaran ) duduk di teras depan rumahnya .Terlintas dalam benak :”Mengapa wanita nan satu ini belum istiqomah.” Saya hanya mampu mendo’akan, semoga pengkajian rutin nan diikutinya tetap dia lakoni. Hanya itu nan bisa aku lakukan.

Asni secara pelan tapi pasti, mulai meninggalkan jilbab. Silaturahim ke tetangga dekatnya mulai dia lakukan tanpa jilbab.Hasilnya? Dia mengundurkan diri dari global pengkajian dengan banyak dalih. Wallahu’alam, bila Allah tak memberikan petunjuk kepada seseorang, maka kita pun tidak kan mampu mengubahnya. Walau pun kita ingin.

Teringat tentang wejangan seorang ustadz :”Langkah syaitan itu sedikit, tapi pasti. Artinya dia menggoda manusia mulai dari nan paling ringan. Hingga manusia nan di godanya tak merasa telah melakukan suatu kemungkaran. Pelan tapi pasti, menandakan usaha syaitan bersifat iqtiqomah hingga tujuannya berhasil”.

Dua wanita nan sama tinggal di kampung “jilbab”, ternyata tak sama dalam menyikapi lingkungannya. Teringat aku akan tulisan Imam Al-Gazali di bukunya Ihya Ulumuddin bahwa : “Hati manusia itu bagaikan cermin. Hidayah Allah S.W.T di umpamakan cahaya. Maka, bila cermin itu kotor, walhasil cahaya seterang apapun tak akan mampu menembus cermin itu.”

Ternyata Hidayah Allah selalu bersinar sepanjang masa, tapi buat menemukannya diperlukan suatu keadaan nan harus kita miliki. Seperti nan telah di andaikan oleh Imam Al-Gazali, hati kita haruslah higienis sebagaimana cermin nan telah dibersihkan. Untuk mencapai itu memang diperlukan kemauan dan pencerahan nan kuat.
Karena kita tahu hati ini akan selalu kotor, apalagi di jaman sekarang nan merupakan jaman serba boleh. Setiap orang bisa mengekspresikan dirinya dalam berbusana. Bisa kita lihat juga pada tayangan televisi nan seharusnya terlarang, buat ditayangkan di negeri berpenduduk mayoritas muslim ini.

Maka benarlah, bila Allah S.W.T telah berfirman : “Sungguh beruntunglah orang nan membersihkan jiwa.” Saya lupa ayatnya, tapi firman ini membuat aku sadar, dan memberikan suatu makna pada diri, bahwa hati ini memerlukan suatu pembersihan nan berkelanjutan, agar hidayah Allah mudah kita genggam. Amin.

Halimah Taslima

Forum Lingkar Pena ( FLP) Cab. Sengata

halimahtaslima@gmail.com

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy