Sedikit

Sedikit

Masih dari kultum bada’ sholat Dzuhur di masjid Asy-Syifa, hari berikutnya, dengan penceramah nan berbeda.

“Nabi Muhammad SAW ialah sebaik-baik suri tauladan bagi kita semua. Sebisa dan semaksimal mungkin, kita mencontoh tutur kata, konduite dan perbuatan beliau dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak mudah, namun juga bukan hal nan mustahil, karena nabi ialah manusia, kitapun manusia meskipun ada bedanya. Kita hanya perlu membuang ‘sedikit’ dari Norma kita agar sinkron dengan Norma nabi.” Untuk beberapa saat sang ustadz terdiam. Ia sengaja menggantung kalimatnya, memberi tekanan saat menyebut kata sedikit, buat menarik perhatian jamaah.

Strategi sang ustadz memang tepat. Sebagian besar jamaah menjadi penasaran, termasuk akupun demikian. Bagaimana dapat sang ustadz bilang sedikit, lha wong kenyataannya banyak Norma kita nan tak sinkron dengan sunnah nabi. Masih banyak sekali sunnah-sunnah nabi nan belum diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Sedikit nan aku maksudkan adalah…” sang ustadz melanjutkan ceramahnya setelah sukses mendapatkan perhatian jamaah nan mulai dihinggapi rasa kantuk.

“Pertama, beda kita dengan nabi ialah nabi sedikit tidur, sedangkan kita sedikit-sedikit tidur. Jika kita ingin mencontoh nabi, buanglah satu kata sedikit pada Norma kita, dari sedikit-sedikit tidur menjadi sedikit tidur.”

Aku bukanlah satu-satunya nan mendengarkan ceramah sang ustadz siang itu, tapi saya salah satu nan ‘tersindir’ dengan kalimatnya. Walau sang ustadz tak mengucapkan kalimat ini spesifik untukku, tapi terasa bahwa kalimat ini tepat jika dialamatkan kepadaku.

Banyak riwayat menyebutkan bahwa nabi Muhammad SAW nan sudah dijamin Allah masuk surga, senantiasa menghidupkan malam-malamnya dengan ber-tahajjud. Bahkan nabi tak berhenti sholat sampai kakinya bengkak-bengkak sebab terlalu lama berdiri. Siang dan malam nabi pergunakan waktunya buat beribadah dan berdakwah, hanya sedikit sekali waktu nan beliau gunakan buat tidur dan beristirahat.

Berbeda dengan saya nan menghabiskan sebagian besar umurku dengan santai dan tidur. Berdalih bahwa setiap anggota badan memiliki hak buat diistirahatkan, akhirnya dimanjakan dengan beristirahat, santai dan tidur melebihi kebutuhan. Sedikit-sedikit tidur. Siang tidur, malam apalagi. Astaghfirulloh!

Sesekali saya begadang, tapi bukan buat memperpanjang zikir atau mengikuti pengajian, melainkan nonton TV dan bersenang-senang. Dan ketika orang-orang bangun di sepertiga malam, akupun terkadang demikian. Tapi bangunku tidaklah selalu kemudian mengambil wudhu dan sholat tahajjud. Bangunku tengah malam terkadang sebab ingin ke kamar mandi buat berkemih atau sekedar mematikan alarm dan kembali tidur lagi. Astaghfirulloh!

“Kemudian nan kedua, beda kita dengan nabi ialah nabi sedikit makan, sedangkan kita sedikit-sedikit makan. Jika kita ingin mencontoh nabi, buanglah satu kata sedikit pada Norma kita, dari sedikit-sedikit makan menjadi sedikit makan.”

Kali ini saya merasa sang ustadz seperti mengenalku, tahu persis kebiasaanku. Ada banyak orang di dalam masjid siang itu, tapi rasanya kalimat itu sengaja ditujukan kepadaku.

Beberapa riwayat menyebutkan bahwa nabi dan keluarganya selalu hayati dalam kesederhanaan. Kesederhanaan nabi bukan menunjukan ketidakmampuan, tapi sebab akhiratlah nan diutamakan. Kalau mau, nabi tinggal berdoa dan Allah niscaya akan mengabulkan, memberikan harta nan berlimpah. Tapi nabi tidak melakukan itu, tak seperti kita nan selalu dan terlalu haus dan rakus dengan harta dan segala kenikmatan dunia. Meski seluruh air bahari diminum, tidak juga menghilangkan dahaga. Astaghfirulloh!

Ada satu hadist menyebutkan, “Kami, keluarga Muhammad SAW pernah selama satu bulan tak menyalakan barah (memasak), kami makan hanya kurma dan air." (HR. Bukhari, Muslim). Bahkan dalam riwayat lain menyebutkan, selain sering berpuasa nabi juga seringkali mengganjal perutnya dengan batu buat menahan lapar.

Hal ini berbeda dengan saya nan sedikit-sedikit makan. Sebelum sang ustadz naik ke mimbar, sempat terlintas dalam benakku buat memesan mie ayam dan es jeruk usai dari masjid nanti. Padahal lima jam sebelumnya, sebungkus nasi uduk lengkap dengan sayur bihun, telur dadar dan tempe goreng tandas saya habiskan. Juga segelas teh manis kuminum tanpa sisa. Dua jam berikutnya, sepotong brownies yang legit kembali mengisi perutku. Dan sekarang, sebelum rasa lapar itu benar-benar terasa, berbagai menu makanan dan minuman sudah mulai memenuhi pikiranku. Astaghfirulloh!

Bahkan, terkadang dengan alasan agar dapat khusyuk dalam sholat, saya memilih makan siang dulu baru kemudian sholat. Tapi kenyataanya, khusyuk tidak didapat, malah ngantuk nan menyergap. Juga, ketika sedang berpuasa, waktu masihlah pagi, baru duha, tapi saya sudah mulai sibuk memikirkan dan menyiapkan menu buat berbuka. Astaghfirulloh!

“Dan nan ketiga, beda kita dengan nabi ialah nabi sedikit marah, sedangkan kita sedikit-sedikit marah. Jika kita ingin mencontoh nabi, buanglah satu kata sedikit pada Norma kita, dari sedikit-sedikit marah menjadi sedikit marah.”

Aku meyakinkan diri, melirik ke orang di sekelilingku. Dan hasilnya, saya termasuk salah satu dari mereka nan mengakui bahwa seperti itulah keadaanku.

Nabi ialah contoh paripurna dalam hal mengendalikan diri. Beliau ialah suami nan lemah lembut, penuh afeksi dan perhatian kepada istri dan keluarga. Beliau ialah seorang suami, ayah dan sahabat nan sangat penyabar. Tidak marah nabi kecuali ketika anggaran Allah dilanggar. Itupun tak seperti marahnya kita nan terkadang brutal, membabi buta hanya buat alasan kecil saja.

Sedikit-sedikit marah, tidak sepenuhnya salah jika sang ustadz berkata demikian. Apapun dapat menjadi alasan dan penyebab kemarahan. Kurang ini marah, lebih itu marah. Begini marah, begitu marah. Di sini marah, di sana marah. Astaghfirulloh!

Di rumah, kuliner istri tidak sinkron selera, marah. Nilai ulangan anak rendah, marah. Anak tetangga berisik, marah. Begitupun di loka kerja. Bawahan salah, marah. Tugas terlambat dikumpulkan, marah. Rekan kerja ngajak bercanda, marah. Pokoknya hal-hal kecil nan wajar dan sebenarnya dapat diselesaikan dengan cara sederhana, dapat menyulut kemarahan. Marah tidak ubahnya seperti hobi, dan pemarah dijadikan profesi. Astaghfirulloh!

Hanya tiga nan disebutkan sang ustadz dalam ceramahnya, tapi ketiga-tiganya ada padaku. Astaghfirulloh!

Sebelum mengakhiri ceramahnya, sang ustadz kembali menegaskan. “Kita harus berusaha semaksimal mungkin meniru, mencontoh semua nan ada pada nabi. Mulailah berusaha buat menghapus satu kata sedikit pada Norma kita. Yang biasanya sedikit-sedikit tidur, sedikit-sedikit makan, dan sedikit-sedikit marah dihapus satu kata sedikitnya menjadi sedikit tidur, sedikit makan dan sedikit marah.”

Bagaimana dengan anda? Masihkah dua kata sedikit (sedikit-sedikit) inheren pada Norma Anda? Mari kita berusaha menghapusnya satu agar hayati kita selamat global hingga akhirat. Insya Allah.

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy