Sekularisasi Biang Depresi

Sekularisasi Biang Depresi

Oleh : Ammylia Rostikasari

Innalillahi wa inna ilayhi rojiun, ungakapan seperti itulah nan hendak diluapkan saat jenazah Aisyah Fatimah, sang anak berusia 2,5 tahun terbujur kaku sebab nyawanya dihabisi oleh ibu kandungnya sendiri. Sungguh, sebuah kejadian nan tidak dinyana. Seorang ibu nan semestinya menjaga dan mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, justru jauh panggang dari api. Ibu DUF, tega melakukan tindak kriminal terhadap buah hatinya.

Yang menambah kemirisan lagi, DUF tak merasa menyesal terhadap hal keji nan telah dilakukannya. Bahkan Ia malah kecewa sebab hanya dapat mengirim satu anaknya saja ke surga (baca: dengan membunuhnya). Nauzubillah. DUF juga memberikan alasan bahwa Ia berbuat hal demikian agar anak-anaknya tak merasakan beban nan berat di kemudian hari. Sungguh, alasan nan jauh dari keyakinan nan sahih.

Sekularisasi Biang Depresi

Jika ditinjau lebih cermat, kasus pembunuhan terhadap anggota keluarga nan dilakukan DUF menambah panjang rentetan daftar kriminalitas di Indonesia, terutama kasus pembunuhan. Ada banyak alasan nan menghantarkan DUF dapat nekat berupaya terus-terusan menghabisi nyawa kedua anaknya.

Yang pertama, DUF disinyalir tega berbuat hal keji itu sebab terkait dengan utang-piutang berupa leasing (kredit sewa). Sistem leasing ini  merupakan sistem jual beli kredit dengan dual akad. Hal tersebut mengingat, jika si pembeli tak mampu membayar cicilan berapa kali, maka barang nan dibeli akan disita oleh pihak penjual. Selain itu, uang cicilan nan telah masuk akan dianggap hangus sebab terlambat dalam pembayaran, padahal di dalam Islam tak dibenarkan melakukan dua akad di dalam satu transaksi.

Yang kedua, diduga bahwa DUF menganut genre sesat. Genre nan mengajarkan dengan membunuh anak akan menjadikannya masuk surga dan senang di sana. Genre nan demikian merupakan genre nan ada buat mengotori ajaran Islam nan mulia. Sementara Islam mengharuskan kepada penganutnya buat memahami Islam secara holistik seperti nan terdapat dalam Q.S. Al-Baqoroh:208,, “Hai orang-orang nan beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah. Janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh nan konkret bagimu. Oleh karena itu, optimalkanlah proses berpikir saat hendak mengkaji Islam. Apakah ajarannya sinkron dengan apa nan diajarkan oleh Rasululloh atau tidak.

Yang ketiga, DUF disangka mengalami depresi sebab beban hayati keluarganya nan semakin berat dari hari ke hari. Ia risi jika anak-anaknya tetap hayati sementara kondisi keluarganya masih pada tingkat ekonomi nan pas-pasan. Hal tersebut juga merupakan akibat jelek dari sekularisasi atau pemisahan agama dari kehidupan. Di mana agama hanya diporsikan pada ibadah ritual saja. Kesenjangan sosial semakin terasa saat sekularisasi diberlakukan dalam semua bidang kehidupan. Pendidikan dan kesehatan mahal, nyawa manusia menjadi terobral, semuanya dibuat seperti barang dagangan bagi masyarakat. Tak heran jika masyarakat nan ringkih iman akan mengalami depresi sebab jeratan-jeratan paham ini dalam kehidupannya.

Kembali ke  Solusi Islam

Kasus tragis DUF ini ialah kasus nan menguatkan kebobrokan etos kapitalisme dengan asas sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan).  Etos nan membuat masyarakat semakin ringkih dari segi akidah Islam juga aturan-Nya. Walhasil, tindak kriminal akan semakin meningkat jumlahnya jika ini terus dipertahankan. Oleh karena itu, kembalilah kepada Islam nan kaffah. Ini sebab Islam hadir bukan sebagai agama, tetapi juga sebagai etos (way of life). Islam nan mencakup anggaran hablu minalloh, hablu minannas, wa hablu minafsi. Islam nan dianut oleh masyarakat dan diterapkan aturannya oleh negara nan satu. Insyaallah memaslahatkan umat dan menjauhkan dari kasus maksiat. Wallohu’alam bi showab.

 

Suara kita

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy