Sepercik Rindu buat Papa

Sepercik Rindu buat Papa

Lebaran sudah di depan mata. Terbayang sudah keindahannya. Sholat Ied berjamaah di lapangan dan berkumpul bersama seluruh keluarga ialah moment nan sangat dinantikan.

Kemarin aku pergi ke sebuah mall di Samarinda. Tak seperti hari – hari biasanya. Hari menjelang Lebaran memang selalu penuh sesak dengan manusia. Stand – stand baju, sepatu, sampai stand kue kering berlomba menawarkan ragam diskon buat menarik pembeli. Mungkin sebab terbiasa tinggal di kota kecil nan lowong seperti Sengata, rasanya aku tidak betah berlama – lama dalam suasana sesaknya.

Ketika aku terpaksa harus mengantri di kasir, tidak sengaja mata aku terpaku pada seorang bapak nan di kelilingi tiga orang anaknya. Di stand sepatu persis di seberang meja kasir tidak jauh dari loka aku berdiri. Tampak si anak merengek – rengek ingin di belikan sesuatu. Seorang menarik bajunya, seorang menarik – narik tangannya, bahkan anaknya nan paling kecil sudah menangis bahkan sampai duduk di lantai. Suara tangisnya nan nyaring, membuat beberapa pasang mata melotot tak suka. Sadar akan hal itu, segera di rengkuhnya si anak nan menangis di lantai lalu di dekapnya di gendongan. Si bapak nampak sabar menjelaskan kepada anak – anaknya, agar bisa lebih tenang. Mungkin isi kantongnya tidak mampu membayar semua permintaan sang anak.

Tiba – tiba aku teringat kenangan masa kanak – kanak dulu. Ketika, aku dan adik – adik nan selalu egois menuntut sesuatu di setiap Lebaran. Bahkan kadang di sertai dengan ancaman dan merajuk tidak mau ikut lebaran kalau sampai keinginan beli pakaian dan sepatu baru tak di turuti. Astaghfirullah…, ada rasa bersalah nan sangat menyeruak kalbu …

Saya mencoba merasakan apa nan berkecamuk dalam kepala dan hati si Bapak itu. Pastilah ada keinginan buat meluluskan keinginan sang anak. Membelikan apa nan mereka minta, walaupun harus menepiskan keinginannya sendiri.

Pastilah, perasaan itu pula nan di rasakan oleh papa. Beliau rela memakai pakaian koko nan itu – itu saja bila lebaran tiba. Hanya agar keinginan kami terbayarkan. Menenggelamkan keinginan hatinya hanya demi melihat senyum – senyum lebar kami saat memakai pakaian dan sepatu baru di hari Lebaran.

Lamunan aku terhenti ketika tiba giliran buat membayar di kasir. Saya lalu membereskan barang nan aku beli lalu bergegas meninggalkan mall nan penuh sesak tersebut.

Sepanjang perjalanan pulang, rekaman kejadian di mall tadi kembali berputar – putar di kepala. Membuat kerinduan pada papa kembali hadir dalam hati.. Dari beliaulah kami belajar, bagaimana cara mengelola diri dalam Ramadhan. Beliaulah nan membuka mata dan hati kami dengan kunci kesederhanaan. Sayang, tidak lama moment Ramadhan dan Lebaran nan kami lalui bersama. Beliau berpulang di saat kami menjelang dewasa dan mulai mengerti apa arti hari kemenangan sesungguhnya

Sekuntum doa aku bacakan buat papa. Ya Allah, ampunilah seluruh dosa – dosa papa. Gantikanlah setiap tetes keringatnya dalam mencari rezeki buat kami dengan butir – butir pahalaMu. Lapangkanlah kuburnya ya Rabb. Sayangilah papa, sebagaimana beliau selama ini menyayangi kami anak – anaknya. Rasa rindu nan membuncah membuat butiran airmata deras mengalir di pipi.

Lebaran sebentar lagi. Itu artinya rendezvous dengan Ramadhan penuh berkah tinggal dalam hitungan hari. Tak ada lagi tarawih bersama, tidak ada lagi serunya makan sahur dan tidak ada lagi nikmatnya berbuka puasa bersama.

Ya Rabb, Semoga sepercik rindu aku pada papa, sama seperti kerinduan hati buat bisa kembali lagi berjumpa dengan RamadhanMu nan latif dan bersiap diri menyambut hari Kemenangan …

I really miss u, papa …
Ujung Musholla, Oct’07

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy