Setelah Pecah Ketuban Apakah Masih Harus Shalat?

Setelah Pecah Ketuban Apakah Masih Harus Shalat?

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ustadz nan dirahmati Alloh swt, aku ingin menanyakan klarifikasi ustadz bahwa air ketuban bukan nifas. Yang ingin aku tanyakan, jika setelah pecah ketuban ternyata kita masih harus menunggu lama buat melahirkan, apakah harus shalat? Hal ini terjadi pada aku dan teman-teman saya.

Saat melahirkan, ada nan sakit luar biasa, padahal masuk waktu shalat, akhirnya tak shalat. Ada juga nan sudah pecah ketuban jam 6 pagi, baru melahirkan jam dua. Ada nan mulas luar biasa dari jam 9 pagi, sebab anak pertama, baru pecah ketuban jam 2, dan melahirkan jam 3. Ada juga nan sebab menderita asma, harus menggunakan masker oksigen selama proses melahirkan, nan juga melewati waktu shalat.

Apa nan harus dilakukan oleh ibu-ibu ini? Apakah shalat nan lewat diqadha setelah selesai nifas? Karena rasanya benar-benar mustahil buat melakukan shalat dalam kondisi-kondisi tersebut.

Terima kasih atas jawaban ustadz. Mohon maaf jika ada kesalahan.

Assaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Air ketuban nan pecah memang bukan termasuk ke dalam nifas. Maka hukumnya tak sama dengan hukum nifas, melainkan hukum nan lain, yaitu darah istihadhah.

Perlu diketahui bahwa hanya ada 3 jenis darah nan keluar dari kemaluan seorang wanita, yaitu darah haidh, darah nifas dan darah istihadhah.

Darah nifas dan darah haidh mengharamkan shalat dan puasa. Sedangkan darah istihadhah tak mengharamkan keduanya. Maka sebelum bayi dilahirkan, belum ada darah nifas. Kalau pun ada darah nan keluar lantaran air ketuban pecah duluan, maka hukumnya bukan darah nifas tapi darah istihadhah.

Dan darah istihadhah tak mengharamkan shalat dan puasa. Maka masih ada kewajiban bagi ibu-ibu buat melakukan shalat dan puasa, bila telah pecah air ketubannya, sementara proses persalinan belum terjadi.

Sedangkan alasan bahwa menjelang proses persalinan terlalu sulit buat dapat melaksanakan shalat, memang hal itu dapat dipahami. Tapi kita tak boleh menggeneralisir keadaan tiap orang. Ada wanita eksklusif nan masih kuat dan tak ada masalah bila shalat menjelang saat-saat persalinannya. Tetapi ada juga nan badannya terlalu lemah, seperti orang nan sakit.

Maka apa nan harus dilakukan pada saat seperti ini?

Jawabnya ialah bahwa pada dasarnya shalat masih wajib dikerjakan, tapi kalau sebab kondisi nan terlalu payah, maka niscaya di dalam syariah ada keringanan. Sebagaimana shalatnya orang nan sedang sakit, maka begitulah cara shalat wanita nan sedang dalam proses persalinan.

Kalau tak dapat berdiri, boleh duduk. Kalau tak dapat duduk, boleh sambil berbaring. Kalau tak dapat berbaring, boleh dengan isyarat saja. Pendek kata, selama kewajiban shalat masih ada, upayakanlah sebisa mungkin buat shalat, walau bagaimana pun keadaannya.

Sebagaimana kita ketahui juga, bahwa nifas itu ialah darah nan keluar sebab persalinan, bukan sebelum persalinan. Dan nifas itu dapat saja berlangsung hanya sekejap mata, tapi biasanya sampai 40 hari. Dan batas maksimalnya ialah 60 hari. Bila telah lewat 60 hari tapi masih saja ada darah nan mengalir keluar, maka darah itu sudah bukan darah nifas lagi, tapi darah istihadhah.

Maka bagi wanita nan telah mengalami nifas lebih dari 60 hari, maka dia sudah wajib shalat dan puasa sebagaimana umumnya orang lain.

Wallahu a’lam bishshawab. Wassaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Thaharah

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy