Shalat Tasbih Tidak Ada Dalil Shahihnya, Bid'ahkah?

Shalat Tasbih Tidak Ada Dalil Shahihnya, Bid'ahkah?

Assalamuallaikum Wr. Wb

Mengapa umat Islam masih saja melakukan berbagai macam bid’ah nan jelas-jelas dilarang Allah? Misalnya, masih saja ada kelompok nan melakukan ritual shalat tasbih, padahal hadits tentang shalat tasbih itu ialah hadits palsu. Bukankah hadits palsu itu haram dan tak dapat dijadikan dasar sebagai landasan sebuah ibadah?

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hadits nan Anda bilang palsu itu memang palsu menurut beberapa orang muhaddits Namun oleh beberapa muhadditsin lainnyadengan tegas menyatakan bahwa hadits itu tak palsu, bahkan shahih atau setidaknya hasan.

Maka dari sisi al-hukmu ‘alal hadits, hadits ini dikatakan palsu oleh sebagian orang dan tak palsu olehsebagian lainnya.

Lalu bagaimana hal itu dapat terjadi? Dan apakah dimungkinkan adanya disparitas pandangan dalam menilai suatu hadits? Bukankah baku ukuran keshahihan suatu hadits itu ialah sesuatu nan pasti?

Perbedaan Dalam Menilai Keshahihan Hadits Adalah Sebuah Kemestian

Bukan hanya para ulama fiqih saja nan ‘rajin’ berbeda pendapat, namun para ahli hadits, dari nan paling rendah sampai ke level nan tertinggi, juga berhak buat berbeda pendapat.

Bahkan jurang pemisah perbedan pendapat di antara mereka seringkali sangat besar dan menganga. Bayangkah, ada suatu hadits nan divonis palsu oleh seorang ahli hadits, namun oleh ahli hadits nan lain dinilai shahih.

Kok bisa?

Ya, memang bisa. Dan memang itulah global kritik hadits, selalu ada nan mengatakan shahih dan ada juga nan mengatakan tak shahih, bahkan palsu.

Semua itu ialah hal nan niscaya terjadi, dan salah satu contohnya ialah tentang kedudukan hadits shalat tasbih nan Anda tanyakan ini.

Matan Hadits Shalat Tasbih

Sebelumnya kita bicara tentang kedudukan hadits shalat tasbih, marilahkita mulai dari matan (isi) hadits nan dimaksud, nan terjemahannya sebagai berikut:

Dari Al-Abbas bin Abdilmuttalib rabahwa Rasulullah SAW bersabda kepadanya, "Hai pamanku, Al-Abbas, maukah Paman aku beri sesuatu? Maukahsaya beri suatu anugerahi? Maukah aku beri suatu hadiah? Maukah aku berbuat sesuatu? Ada 10 hal nan bila Paman lakukan maka Allah mengampuni dosa-dosa, baik nan dulu maupun nan sekarang, nan lama maupun nan baru, nan disengaja maupun nan tak disengaja, nan kecil maupun nan besar, nan sembunyi maupun nan terang-terangan?

Sepuluh hal itu ialah shalat empat rakaat, setiap rakaat membaca Al-Fatihah dan sebuah surah, bila telah selesai pada rakaat pertama dan masih berdiri, bacalah tasbih "Subhanallah walhambulillah wala ilaaha illallah wallahu akbar", sebanyak 15 kali. Kemudian ruku’lah dan bacalah tasbih tadi 10 kali, kemudian i’tidal dan bacalah tasbih tadi 10 kali, kemudian sujud dan bacalah tasbih tadi 10 kali, kemudian angkat kepala dari sujud dan bacalah tasbih tadi 10 kali, kemudian sujud lagi dan bacalah tasbih tadi 10 kali, kemudian angkat kepada dan bacalah tasbih tadi 10 kali.

Maka bacaan tasbih itu ada 75 buat tiap rakaat. Paman kerjakan 4 rakaat.

Apabila paman mampu maka kerjakan shalat itu sekail dalam sehari, bila tak mampu kerjakanlah setiap Jumat, bila tak mampu maka kerjakan tiap bulan, bila tak mampu maka kerjakan setahun sekali dan bila tak mampu juga maka kerjakan sekali dalam umur hidup." (HR Abu Daud dan Tirmizy)

Al-Hukmu ‘Alal Hadits

Sekarang kita bicara tentang kedudukan hadits atau sering diistilahkan dengan al-hukmu ‘alal hadits. Dalam hal ini kita punya dua kubu nan berbeda pendapat.

1. Pendapat Yang Mengatakan Palsu

Di antara para ulama nan mengatakan bahwa hadits tentang shalat tasbih ialah hadits palsu antara lain Al-Imam Ibnu Al-Jauzi, seorang pakar hadits nan hayati di abad ke-6 hijriyah (wafat tahun 597 H).

Beliau punya sebuah kitab spesifik nan berisi hadits palsu semuanya. Dari namanya saja, kita sudah tahu bahwa isinya memang hadits palsu. Judul kitabnya ialah Al-Maudhu’at. Dan hadits tentang shalat tasbih ternyata ada di dalam salah satu isinya.

Paling tak ada 3 jalur periwayatan hadits ini nan dituduhkan bermasalah, menurut Ibnul Jauzi.

1. Masalah di Jalur Pertama

Karena ada perawi nan mungkarul hadits bernama Shadaqah bin Yazid Al-Khurasani. Atau mu’dhal sebab sanadnya terputus dua orang, seperti nan dikatakan oleh Ibnu HIbban.

2. Masalah di Jalur Kedua

Karena ada perawi nan majhul atau tak diketahui identitasnya, yaitu Musa bin Abdil Aziz.

3. Masalah di Jalur Ketiga

KArena ada perawi nan dinilai tak halal buat meriwayatkan hadits nan bernama Musa bin Ubaidah. Yang menilai begitu di antaranya Imam Ahmad bin Hanbal.

Selain itu ada Al-Imam Asy-Syaukani (wafat tahun 1250 hijriyah), beliau termasuk nan mengatakan bahwa hadits ini ialah hadits palsu. Kita dapat baca keterangan beliau dalam kedua kitabnya, Al-Fawaid Al-Majmu’ah Fil Ahaditisl Maudhu’ah, dan kitab Tuhfatudz-dzakirin.

2. Pendapat Yang Mengatakan Shahih

Namun tuduhan di atas dijawab oleh para ahli hadits nan lain. Apa nan dikatakan sebagai hadits palsu oleh Ibnul Jauzi ternyata hanya riwayat nan melalui satu pangkal jalur yaitu Ad-Daruquthuny. Padahal selain jalur itu, masih banyak jalur lainnya nan tak ikut dibahas oleh beliau.

Maka para ahli hadits selain beliau ramai-ramai mengkritisi balik apa nan telah disimpulkan oleh Ibnul Jauzi secara terburu-buru itu. Bahkan beliau juga dituduh orang nan terlalu mudah menjatuhkan vonis kepalsuan atas suatu hadits (tasahhul).

1. Tuduhan bahwa Shadaqah bin Yazid Al-Khurasani sebagai mungkarul- hadis memang benar, namun ternyata salah alamat. Sebab nan meriwayatkan hadits ini ternyata orang lain nan namanya nyaris mirip, yaitu Shadaqah bin Abdullah Ad-Dimasyqi. Meski ada nan menilainya lemah (dhaih) namun dia bukan mungkarul hadits, sehingga tak dapat dinilai sebagai hadits palsu. Sebab beberapa pengkritik hadits mengatakan bahwa dia shahih.

Kalau Ma’qil bin Yazid Al-Kuhrasani memang mungkarul hadits, tetapi dia bukanlah orang nan meriwayatkan hadits ini.

2.Tuduhan bahwa Musa bin Abdul Aziz ialah orang nan majhul, menurut Az-Zarkasyi tak otomatis menjadikan hadits itu palsu. Boleh jadi Ibnul Jauzi memang tak mengetahui bukti diri orang itu. Padahal banyak ulama lain seperti Bisyr bin Hakam, Abdurrahman bin Bisyr, Ishaq bin Abu Israil, Zaid bin Al-Mubarak, nan mengenalnya sebagai orang tak ada masalah masalah (laa ba’sa bihi).

Imam Ibnu Hibban juga mengatakan bahwa Musa bin Abdul Aziz sebagai orang nan tsiqah (kredibel). Bahkan AL-Imam Al-Buhkari meriwayatkan hadits dari beliau juga dalam kitab Adabul Mufrad.

Jadi bukan lah Musa bin Abdil Aziz itu majhul, tetapi Ibnul Jauzi saja nan memang tak punya keterangan tentang perawi itu. Ketidak-tahuan dia atas orang itu tak dapat dijadikan vonis bahwa hadits itu palsu.

3. Tuduhan bahwa Musa bin Ubaidah ialah orang nan tak halal meriwayatkan hadits ialah sebatas tuduhan. Sebab Ibnul araq Al-Kannani menegaskan bahwa Musa bin Ubaidllah bukan pendusta, melainkan dia baru sekedar dituduh sebagai pendusta (muttaham bil kadzib).

Ibnu Saad justru menilai bahwa dia ialah perawi nan tsiqah (kredibel), bukan dhaif.

Selain kedua imam di atas, ternyata hadits tentang shalat tasbih ini malah dikatakan sebagai hadits shahih, bukan hadits palsu.

Yang menarik, justru nan mengatakan shahih bukan sembarang orang, sehingga sanggahan mereka atas tuduhan kepalsuan hadits sangat berarti.

Di antara mereka nan mengatakan bahwa hadits itu shaih adalah:

Al-Imam Bukhari rahimahulah.

Siapa nan tak kenal beliau? Beliau ialah penulis kitab tershahih kedua setelah Al-Quran Al-Kariem. Namun hadits ini memang tak terdapat di dalam kitab shahihnya itu, melainkan beliau tulis dalam kitab nan lain. Kitab itu ialah Qiraatul Ma’mum Khalfal Imam. Di sana beliau menyatakan bahwa hadits tentang shalat tasbih di atas ialah hadits nan shahih.

Al-‘Allamah Syeikh Nasiruddin Al-Albani

Beliau ialah ahli hadits dari negeri Suriah nan amat tersohor di seantero jagad. Beliau pun juga termasuk nan mengatakan bahwa hadits tentang shalat tasbih ini shahih.

Kita akan mendapatkan hadits ini dalam kitab karangan beliau, Shahih Sunan Abu Daud. Sebuah kitab hasil kritisi dan analisa beliau terhadap kitab susunan Abu Daud khususnya nan bersatatus shahih saja.

3. Kalangan Yang Berpendapat Ganda Atau Tawaqquf

Misalnya Al-Imam An-Nawawi punya dua evaluasi nan berbeda atas hadits nan sama. Demikian juga dengan AL-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqallani, pakar hadits nan telah membuat syarah dari kitab Shahih A-Bukhari.

Sedangkan yangtawaqquf atau tak memberikan komentar (abstein) antara lainAl-Imam Az-Dzahabi, sebagaimana nan kita baca dari kitab Tuhfatul Ahwadzi fi syarh jami’ At-Tirmizy jilid 2 halaman 488.

Kesimpulan

Dalam global ilmu hadits, disparitas pendapat dalam menilai kedudukan suatu riwayat memng sangat besar kemungkinannya. Ada nan telah divonis shahih atau dhaif oleh seorang ulama, belum tentu disepakati oleh ulama lainnya.

Sebaiknya kita lebih banyak mengkaji dan membaca literatur, khususnya dalam masalah hadits ini, sebab global ilmu hadits sangat luas dan beragam. Tidak lupa pula kita harus lebih banyak bertanya kepada para ulama nan pakar agar kita tak terlalu mudah mengeluarkan staemen nan nantinya akan kita sesali sendiri.

Wallahu a’lam bishshawab wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Hadits

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy