Siapa Wali Nikahmu?

Siapa Wali Nikahmu?

Pagi nan cerah, secerah senyum di paras kedua calon pengantin nan pagi itu akan segera dinikahkan. Tepat pukul sembilan, mempelai pria beserta rombongan tiba di kediaman mempelai wanita. Lima belas menit kemudian sang penghulupun datang. Pukul setengah sepuluh, dengan disaksikan puluhan tamu undangan, prosesi ijab qobul pun dimulai.

Diawali dengan pembacaan ayat-ayat kudus Al Qur’an, dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan keluarga kedua mempelai, acara pun berjalan lancar dan khidmat. Aku nan dipercaya shohibul hajat buat mengabadikan moment bersejarah itu sudah sejak awal berada di ruang primer berbekal sebuah kamera digital.

Pukul sepuluh acara sampai pada intinya. Sebelum menikahkan kedua calon pengantin, pak penghulu nan pagi itu hanya datang sendiri kembali memeriksa berkas-berkas nan dibawanya dari kantor KUA. Diperiksanya dengan teliti, dicocokkan data nan tertera dalam dokumen dengan pihak-pihak nan berkepentingan. Saat memeriksa data kedua calon pengantin, semua berjalan lancar. Tapi suasana mulai berubah ketika pak penghulu menanyakan keberadaan wali.

Ayah kandung mempelai wanita tak dapat hadir saat itu buat menjadi wali. Yang ada saat itu ialah ayah tiri dan kakak kandung laki-laki dari mempelai wanita. Sebagai gantinya, ayah kandung telah mengisi surat pernyataan nan sudah disediakan pihak KUA. Namun sayang, ada beberapa point krusial nan justru tak diisi. Dalam surat pernyataan tersebut tak disebutkan secara jelas siapa nan ditunjuk sebagai wali, apakah kakak kandung mempelai wanita ataukah ada pihak lainnya. Dan siapa nan menjadi saksi saat surat pernyataan tersebut dibuat juga tak dicantumkan apalagi ditandatangani.

Susana berubah menjadi tegang. Senyum nan sejak pagi menghias di paras kedua mempelai perlahan menghilang. Sang mempelai wanita tertunduk pucat, sementara mempelai pria resah. Pak penghulu tak mau menikahkan mereka sebab beranggapan bahwa ada syarat-syarat nan tidak terpenuhi.

Seorang pria tampil ke tengah, mendekati meja dimana penghulu sedang memeriksa berkas pernikahan. “Seminggu nan lalu aku sudah memastikan kepada asisten Bapak di kantor KUA, katanya semua persyaratan sudah lengkap. Mengapa sekarang dipermasalahkan?“ kata pria nan dipercaya pihak keluarga buat mengurus semua persyaratan pernikahan ke kantor KUA ini dengan nada meninggi.

Pria tersebut juga menyebut nama seorang wanita nan sepertinya bertugas memerika seluruh persyaratan kedua calon pengantin. Dari nada bicara dan raut muka sang pria, saya menangkap kesan bahwa pria ini mencurigai ada ‘kesengajaan’ dari pihak KUA, demi sebuah laba pribadi mereka. Beberapa tamupun sepertinya memiliki dugaan nan sama.

Suasana benar-benar tegang. Beberapa tamu nan semula duduk menyaksikan prosesi pernikahan dari jeda cukup jauh, mendekat ke ruang utama. Kedua belah pihak keluarga gelisah, terlebih kedua calon pengantin. Dengan tenang, pak penghulu memberikan klarifikasi mengapa saat itu beliau belum bersedia menikahkan.

“Mewakili asisten saya, aku mohon maaf atas permasalahan ini, aku berjanji akan menegurnya nanti. Sebenarnya aku tak ingin mempersulit pernikahan ini, sebab pada dasarnya persyaratan buat menikah itu mudah. Namun aku juga mohon agar hal nan mudah itu jangan dianggap sepele“ pak panghulu mencoba memberikan pengertian kepada kedua calon pengantin, pihak keluarga dan seluruh hadirin nan terlihat tegang sekali.

Dengan nada tenang dan berwibawa, selanjutnya pak penghulu menjelaskan dengan gamblang bahwa salah satu syarat pernikahan ialah harus adanya wali. Beliau menjelaskan siapa saja nan berhak menjadi wali, urutan-urutannya dan bagaimana tata caranya apabila sang wali berhalangan hadir dan memberikan kuasa ( mewakilkan ) baik kepada orang-orang nan termasuk dalam daftar wali ataupun kepada pihak lain diluar mereka nan termasuk dalam daftar wali.

Dan, mengantisipasi hal tersebut, pihak KUA sudah menyediakan sebuah formulir nan harus diisi. Form ini jelas bukan sekedar pelengkap administrasi belaka, tapi memiliki kekuatan hukum baik menurut agama maupun negara. Itulah makanya form ini harus diisi dengan jelas dan lengkap. Dan, bukan hendak berburuk sangka, tapi pak penghulu merasa harus tetap berhati-hati dan tak segera melanjutkan acara meskipun pihak keluarga mempelai wanita memberikan berbagai penjelasan.

Melihat suasana semakin tegang, dengan bijaksana pak penghulu kemudian menanyakan apakah saat itu ayah kandung mempelai wanita dapat dihubungi melalui telepon. Beruntung, hal itu dapat dilakukan. Melalui telepon, akhirnya pak penghulu berbicara langsung dengan sang ayah kandung mempelai wanita. Semua data kembali dicek melalui pembicaraan telepon, termasuk siapa nan akan ditunjuk sebagai wali menggantikannya. Suara telephone nan sengaja dikeraskan itu dapat didengar oleh seluruh hadirin nan datang pagi itu.

Singkatnya, ayah kandung kemudian memilih pak penghulu buat mewakilinya menjadi wali buat pernikahan putrinya. Dan semua masalahpun menjadi jelas dan selesai. Lima belas menit kemudian ijab qobulpun selesai dilaksanakan, kedua calon mempelai telah resmi menjadi pengantin. Perasaan lega terlihat jelas di raut paras kedua pengantin, keluarga dan seluruh tamu nan hadir.

Satu pelajaran berharga kudapat pagi itu. Bahwa terkadang kita salah ( kurang ) memahami tentang syarat-syarat sebuah pernikahan. Ada nan menganggap bahwa buat menikah harus mengurus persyaratan nan berat dan sulit sehingga mereka enggan buat mengurusnya dan lebih memilih menikah tanpa mencatatkan pernikahannya di kantor KUA.

Atau ada juga nan menganggap kemudahan persyaratan menikah itu sebagai hal sepele sehingga terkesan asal-asalan mengurusnya. Padahal nan sebaiknya ialah pernikahan itu syah menurut hukum agama juga hukum negara.

Apa nan dilakukan oleh penghulu nan tak mau terburu-buru menikahkan kedua calon mempelai menurutku ialah tindakan nan tepat dan bijak. Beliau sadar betul, bahwa setiap keputusan nan diambilnya akan diminta pertanggungjawabannya bukan saja pada hukum global tapi juga kepada Allah SWT kelak.

Sebagai perwakilan pihak pemerintah, ‘barangkali’ beliau dapat memaklumi ketidakpahaman masyarakat terhadap administrasi negara, tetapi sebagai muslim, jelas beliau tak mau sembrono menikahkan jika salah satu persyaratan tak terpenuhi.

Pengetahuan nan minim tentang hukum dan syarat-syarat sebuah pernikahan, kenyataannya masih kita jumpai di masyarakat. Pentingnya wali nikah terkadang kurang dipahami sehingga muncul asumsi bahwa wali hakim dianggap solusi nan cepat dan tepat.

Atau terkadang ada nan menunjuk wali secara asal, tak mengikuti anggaran agama nan sudah dengan jelas menyebutkan siapa saja nan berhak dan bagaimana urutan-urutannya, tak dapat dan tak boleh melewati strata wali sebelumnya tanpa ada izin dan persetujuan dari nan bersangkutan.

Mari, kita berhati-hati lagi mempersiapkan sebuah pernikahan, sebab sebuah pernikahan nan tak syah menurut agama, akan menjerumuskan pelakunya pada perbuatan zina. Nauzubillah!, semoga ini tak terjadi pada kita dan kelurga kita.

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy