Sistem Pendidikan Anak dan Interaksi Anak dengan Orangtua (1)

Sistem Pendidikan Anak dan Interaksi Anak dengan Orangtua (1)

وَلَقَدْ آَتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (12) وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15) يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (16) يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (17) وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (18) وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (19)

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, ‘Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa nan bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur buat dirinya sendiri; dan barangsiapa nan tak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.’” (12)

"Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) ialah benar-benar kezaliman nan besar (13)

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibuba panya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah nan bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun ,. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (14)

"Dan jika keduanya memaksamu buat mempersekutukan dengan Aku sesuatu nan tak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di global dengan baik, dan ikutilah jalan orang nan kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa nan telah kamu kerjakan(15)

(Lukman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, pasti Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui (16)

Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan nan baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan nan mungkar dan bersabarlah terhadap apa nan menimpa kamu. Sesungguhnya nan demikian itu termasuk hal-hal nan diwajibkan (oleh Allah) (17)

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tak menyukai orang-orang nan arogan lagi membanggakan diri (18) Dan sederhanalah kamu dalam berjalandan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai (19) (Luqman/31 : 12 – 19)

Ada disparitas riwayat tentang siapa sebenarnya Luqman nan dipilih al-Qur’an buat menyampaikan masalah tauhid dan akhirat melalui lisannya. Sebagian mengatakan bahwa ia ialah seorang Nabi, dan sebagian nan lain mengatakan bahwa ia hanyalah seorang hamba nan saleh. Mayoritas berpegang pada pendapat kedua.

Sebuah sumber mengatakan ia berdarah Habsyi, sumber lain mengatakan berdarah Naubi, dan sumber nan lain mengatakan bahwa dia ialah salah seorang qadhi di kalangan Bani Israil. Siapapun Luqman, al-Qur’an menetapkan bahwa dia ialah seorang laki-laki nan diberi hikmah (wisdom) oleh Allah. Hikmah nan di antara kandungan dan implikasinya ialah syukur kepada Allah: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, ‘Bersyukurlah kepada Allah!’” Ini ialah instruksi tersirat Qur’ani buat bersyukur kepada Allah dengan meneladani orang nan bijak dan terpilih buat menyampaikan kisah dan ucapannya. Selain instruksi nan bersifat tersirat ini, ada pula instruksi lain. Jadi, syukur kepada Allah itu merupakan tabungan dan kelak akan bermanfaat bagi orang nan melakukannya sendiri, sebab Allah Mahamandiri terhadap syukur. Allah terpuji dengan sendiri-Nya, meskipun tak satu makhluk-Nya nan memuji-Nya. “Dan barangsiapa nan bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur buat dirinya sendiri; dan barangsiapa nan tak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.’” Jadi, nan paling bodoh di antara orang-orang bodoh ialah orang nan menyalahi hikmah dan tak menyimpan bekal semacam ini buat dirinya.

Setelah itu dipaparkan masalah tauhid dalam bentuk nasihat dari Luqman al-Hakim kepada putranya.
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) ialah benar-benar kezhaliman nan besar.’” (13)

Sungguh, ini merupakan nasihat nan tak dicurigai memuat maksud nan tak baik, sebab seorang ayah tak menghendaki apapun bagi anaknya selain kebaikan; dan nan harus dilakukan ayah kepada anaknya ialah menasihati. Luqman al-Hakim melarang anaknya berbuat syirik, dan memberi alasan terhadap embargo ini bahwa syirik merupakan kezhaliman nan besar. Ia menegaskan hakikat ini dua kali. Pada satu saat dengan mendahulukan embargo dan merinci alasannya, dan pada saat nan lain dengan kata inna (sesungguhnya) dan la (benar-benar). Inilah hakikat nan disampaikan Muhammad saw kepada kaumnya, lalu mereka mendebatnya, meragukan tujuan di balik pemaparannya. Mereka takut jika tujuannya ialah buat merampas kekuasaan dari tangan mereka dan menjadi lebih terhormat daripada mereka!

Lalu, apa nan mereka katakan sedangkan Luqman al-Hakim menyampaikan nasihat itu dan memerintahkannya kepada anaknya? Bukankah nasihat ayah kepada anak itu higienis dari setiap keraguan dan jauh dari setiap persangkaan? Ketahuilah, ini ialah hakikat klasik nan meluncur dari lisan setiap orang nan diberi hikmah oleh Allah; tujuannya ialah kebaikan semata, tak lain. Inilah stimulasi psikologis nan dimaksud.

Di bawah naungan nasihat ayah kepada anaknya, al-Qur’an memaparkan interaksi antara orangtua dan anak dalam gaya bahasa nan lembut, dan melukiskan interaksi ini secara inspiratif, sarat emosi/perasaan dan kelembutan. Meskipun demikian, interaksi akidah harus dikedepankan daripada interaksi nan erat tersebut.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah nan bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu buat mempersekutukan dengan Aku sesuatu nan tak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di global dengan baik, dan ikutilah jalan orang nan kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa nan telah kamu kerjakan.” (14-15)

Nasihat kepada anak buat berbakti kepada orangtua sering diulang di dalam al-Qur’an al-Karim dan pesan-pesan Rasulullah saw. Sedangkan nasihat kepada orangtua buat berbuat baik kepada anak itu sangat sedikit. Sebagian besarnya dalam kasus mengubur anak hidup-hidup—dan itu ialah kasus spesifik pada kondisi tertentu. Yang demikian itu sebab fitrah semata telah menjamin orangtua buat mengayomi anaknya. Fitrah terdorong mengayomi generasi baru buat menjamin keberlangsungan kehidupan sebagaimana nan dikehendaki Allah.

Orangtua niscaya mau mengorbankan jiwa, raga, usia, dan segala miliknya nan berharga buat anaknya, tanpa berkeluh kesah, bahkan tanpa menyadari dan merasakan apa nan telah dikorbankannya! Bahkan dalam suasana nan semangat, gembir, dan senang, seolah-olah orangtua-lah nan mengambil kegunaan dari anak! Jadi, fitrah semata telah menjamin nasihat buat orangtua, tanpa memerlukan nasihat lain! Sedangkan anak membutuhkan nasihat nan berulang-ulang agar ia memperhatikan generasi nan telah berkorban, mendidik, mengayomi, dan telah sampai di senja kehidupannya, setelah ia mengorbankan usia, jiwa, dan raganya buat generasi nan futuristis kehidupan!

Seorang anak tak mampu dan tak sampai mengganti apa nan telah dikobarkan orangtua, meskipun ia menghibahkan usianya buat keduanya. Dan inilah citra nan inspiratif: “Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah nan bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. ” Citra ini memberi naungan tentang pengorbanan nan luar biasa. Sudah barang tentu ibu menanggung bagian nan lebih besar, dan berbuat baik kepada anaknya dalam emosi nan lebih besar, lebih dalam, lebih hangat, dan lebih lembut. Al-Hafizh Abu Bakar al-Bazzar dalam Musnad-nya meriwayatkan dengan sanadnya dari Buraid, dari ayahnya, bahwa ada seorang laki-laki thawaf sambil menggendong ibunya buat thawaf bersama.

Lalu ia bertanya kepada Nabi saw, “Apakah laki-laki itu telah membayar hak ibunya?” Beliau menjawab, “Tidak, meskipun buat satu keluhan nafas nan panjang.” Demikianlah, meskipun buat satu keluhan nafas nan panjang, baik saat kehamilan atau dalam persalinan. Ibu mengandungnya dalam keadaan nan bertambah-tambah

Peradaban

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy