SMS Dari Umar Bin Khattab

SMS Dari Umar Bin Khattab

SMS dari isterinya pagi itu membuatnya gundah, kecewa dan marah. Meskipun singkat, tetapi kekuatan kalimatnya melahirkan makna menggunung. Isinya menusuk ke jantung dan pilihan katanya tajam. Hatinya membatin. Sebuah ”sarapan pagi” nan lain dari biasanya.

Tak ada teh hangat atau susu dan roti. Tak ada salam dan kecupan sayang sebelum berangkat. Dan tidak ada senyuman mengiringi embarkasi kerjanya. Sarapan pagi nan tanpa gizi fikirnya.

Bulan-bulan terakhir di akhir tahun 2009 dirasakannya sebagai masa nan penuh konflik batin. Intensitas beragamanya diakui hampir menyentuh titik terendah. Dalam sebulan, hampir ada satu atau dua shalat wajib nan bolong. Tahajjudnya menjadi begitu langka, kecuali Dhuha nan tetap rutin didirikan. Disadarinya belakangan bahwa ia begitu lalai merajut tali kasih dengan Rabbnya. Batinnya merasakan kehampaan dan hilang kelezatan dalam beribadah.

Kebugaran fisiknya juga sering kacau. Dalam sebulan satu atau dua kali harus ke dokter. Begitu juga dengan buah hatinya. Hingga dirasakan ongkos berobat menjadi tak karuan dan di luar perkiraan.

Ada sesuatu nan hilang dari harapannya. Asa nan dibangun sejak sebelum berumah tangga. Ada banyak sisi-sisi kelemahan dirinya nan belum bisa terisi oleh kehadiran isteri dan anak-anaknya. Sehingga ia sering bertanya, bagaimana memulai membangun asa itu lagi?

Meskipun begitu, selalu saja hatinya menyalahkan dirinya sendiri. Bukan isteri dan bukan pula anak-anaknya. Sebuah pencerahan nan menurutnya lebih bijak, bahwa menyalahkan orang lain hanya akan semakin membuat mata tertutup atas kelemahan diri sendiri.

Tapi SMS itu seperti petir nan menyambar daun telinganya. Kesadarannya dibangunkan terlalu keras sehingga telinganya pekak dan hatinya terperanjat. Sejujurnya diakui bahwa pesan itu tak seluruhnya salah. Tetapi, hatinya membatin apakah wanita nan dinikahi sepuluh tahun lalu itu sudah begitu sempurnanya mendampingi dirinya? Ada titik bening di sudut matanya mengulangi SMS itu dibaca.

Mulailah hatinya terpancing. Diambilnya pensil dan kertas kosong. Dituangkannya kejelekkan isterinya selama ini. Dari nan terkecil dan sepele hingga nan menurutnya keterlaluan. Sejak mula dia hayati bersama sampai hari saat SMS itu diterimanya. Ia ingin membalas dengan sesuatu nan setimpal, bahwa ia tak sendirian. Bahwa ia juga pantas menyalahkan hal jelek isterinya.

Tapi sisi lain dari hatinya bicara. Apa pantas menimpali kekacauan dengan kekacauan?

Ia menangis bisu dalam do’a batinnya, ” Ya Rabb, … ampun sejadi-jadinya atas nama kasih-Mu. Beri hamba kekuatan buat menelan pahitnya cobaan ini. Dampingi hamba dalam kesulitan menginjak duri nan berserak di atas jalan rumah tanggaku. Antarkan hamba ke pintu tujuan perkawinan seperti syariatmu….”.

Marah, kecewa dan putus asanya mencair. Kisah Umar bin Khattab nan pernah dibacanya memadamkan “api” nan menggelegak dalam hatinya. Bahkan sesungguhnya ia malu tanpa residu andaikan ia bisa berjumpa muka dengan sahabat Rasulullsh nan terkenal sangat tegas itu.

Dikisahkan bahwa seorang dari pedalaman Arab datang ingin menghadap Umar bin Khattab. Orang itu berharap Umar akan memberikan nasehat dan jalan keluar atas persoalan rumah tangga nan tengah dihadapinya. Ia membawa segudang pengaduan atas konduite isterinya.

Berharap pula Umar sebagai khalifah mau memberi pelajaran kepada isterinya nan dinilainya sudah sangat keterlaluan. Sebagai suami ia merasa sudah tak punya harga diri. Selalu saja menjadi objek omelan dan tajamnya lidah sang isteri.

Hingga sampai di muka pintu rumah khalifah Umar, pria itu ragu berdiri di depan pintu menunggu Umar keluar karena ia mendengar istri Umar bersuara keras pada suaminya dan membantahnya sedangkan Umar diam tak membalas ucapan istrinya.

Pria itu lalu berbalik hendak pergi, sambil berkata, “Jika begini keadaan Umar dengan sifat keras dan tegasnya dan ia seorang amirul mukminin, maka bagaimana dengan keadaanku ?”.

Umar keluar dan ia melihat orang itu hendak berbalik dan pergi dari pintu rumahnya seraya memanggil pria itu dan berkata, “Apa keperluanmu wahai pria?”

“Wahai Amirul Mukminin, semula saya datang hendak mengadukan kejelekan akhlak istriku dan sikapnya nan membantahku. Lalu saya mendengar istrimu berbuat demikian, maka saya pun kembali sambil berkata, “Jika demikian keadaan amirul mukminin bersama istrinya, maka bagaimana dengan keadaanku ?”

Mendengar keluhan pria itu atas dirinya dan apa nan dialaminya sendiri, Umar berkata, “Wahai saudaraku. Sesungguhnya saya bersabar atas sikapnya itu sebab hak-haknya padaku.

Dia nan memasakkan makananku, nan membuatkan rotiku, nan mencucikan pakaianku, nan menyusui anak-anaku dan hatiku tenang dengannya dari perkara nan haram. Karena itu saya bersabar atas sikapnya”.

Jawaban Umar membuat pria tercenung kemudian berkata : “Wahai Amirul Mukminin, demikian pula istriku”.

”Karena itu, Bersabarlah atas sikapnya wahai saudaraku …”

Gagahnya Umar tiada nan menyangkal, demikian pula ketegasannya dalam bersikap. Tapi kisah sikap Umar terhadap wanita isteri nan dibacanya membuatnya seperti laki-laki nan belum mengenal pasangan hayati bahkan dirinya sendiri.

Kini malunya bertambah besar. Bahkan mungkin ia tidak punya ”muka” lagi apabila SMS itu diforward kepada sahabat Nabi itu. Kesadarannya kembali ke titik normal. Bahkan SMS itu bukan lagi dianggapnya sebagai duri dalam afeksi dalam rumah tangganya.

Hatinya girang dan berujar ” Terima kasih wahai Umar”.

Wahai suami nan penyayang..

Ketahuilah, tinggalnya seorang istri di rumah tak memberikan kesempatan buat beristirahat dan menikmati ketenangan, sebab di sisinya ada anak-anak nan harus diasuhnya dan dididiknya agar mereka tumbuh dengan baik. Semua itu membutuhkan kesungguhan diri, hati dan jasmani darinya nan lebih besar dari kesungguhan nan harus Anda curahkan di kantormu atau di ladang kerjamu. Andai Anda bergantian tugas dengannya, Anda tak akan mampu mengembannya walau hanya sesaat di siang hari.

Jakarta, Januari 2009

abdul_mutaqin@yahoo.com

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy