Sopir Bis (2)

Sopir Bis (2)

Salah seorang saudara aku nan sering ditemui di masjid juga ialah seorang sopir bis. Awalnya aku tak tahu jika dia ialah seorang sopir bis kota Oldenburg. Abdul Majid namanya. Pertama kali aku mengenalnya ialah ketika ia datang bersama Karim, saudara aku dari Aljazair. Karim ini ialah pemuda tampan dan pemalu nan senyumnya begitu menawan, amat harmonis dengan janggut lebat dan rapi nan menghiasi wajahnya. Saya tak tahu niscaya pekerjaan Karim, tetapi suatu saat ia pernah menceritakan bahwa ia juga bermain sepak bola di suatu klub kecil. Ketika pertama kali melihat Abdul Majid, aku melihat ada nan berbeda dari wajahnya. Wajahnya amat bercahaya. Senyumnya juga menawan. Ketika kami di masjid, nan paling sering dilakukan oleh Abdul Majid ialah mengambil mushaf Al Quran dan membacanya hingga terdengar oleh kami nan duduk di dekatnya, biasanya aku dan Karim.

Kadang Karim menjelaskan suatu ayat dan Abdul Majid ikut berkomentar mengenai ayat tersebut. Saya sendiri hanya sedikit memahami klarifikasi mereka sebab mereka berbicara dalam bahasa arab. Karim ini bagi aku ialah salah satu jamaah nan paling paham dalam hal agama dan hafalan serta bacaan Al Qurannya pun paling bagus, tetapi ia senantiasa menolak buat menjadi imam. Ia terlalu pemalu. Tetapi suatu saat ia tak bisa menolak buat mengimami shalat kami sebab seluruh jamaah bersepakat menyuruhnya menjadi imam.

Awalnya aku tak tahu nama Abdul Majid ini, kami hanya sesekali mengobrol di masjid. Suatu saat ketika aku sedang menunggu bis di ZOB[1], maka aku mendengar ada suara seseorang dari belakang aku tetapi tak begitu jelas bagi saya. Saya pun tak berpikir bahwa suara itu ditujukan buat saya. Tetapi kembali suara itu berulang dan kali ini jelas bagi saya, itu ialah ucapan salam. Maka aku pun kemudian menoleh ke belakang dan ternyata Abdul Majid di situ. Ia memakai seragam sopir bis berupa sweater lengan panjang rona biru dongker. Ia terlihat gagah dengan pakaiannya. Bersamanya ada tas nan memang khas tasnya para sopir bis. Saya pun kemudian menjawab salamnya dan sambil tersenyum meminta maaf sebab aku tak menyadari kalau ia lah nan memanggil saya. Di situlah kami berkenalan. Saya tanya namanya dan ia pun kemudian menanyakan nama saya. Seperti biasa, aku pun terpaksa harus mengatakan, "Suratul Kahf, surah achzehn im Koran[2]“ sebab ia tak mendapatkan jelas nama saya.

Dan subhanallah, Abdul Majid kemudian mengeluarkan dari saku kecil di dadanya sebuah mushaf Al Quran kecil dan mencari apa nan aku maksud. Barulah ia kemudian tersenyum memanggil aku dengan benar. Di situlah aku kemudian mendapatkan jawaban mengapa paras Abdul Majid begitu bercahaya ketika aku melihatnya.

Suatu hari ketika aku pulang dari asrama Anwar dan menunggu di halte asrama, maka bis nan berhenti ternyata diawaki oleh Abdul Majid. Ketika itu juga ada mahasiswi berjilbab nan naik duluan ke dalam bis, dan Abdul Majid pun kemudian mengucapkan salam pada wanita itu dan dibalas oleh wanita itu. Saya pun kemudian menjabat tangannya sambil membalas ucapan salamnya. Ia dengan senyum lebar menanyakan kabar saya.

Saya duduk tak jauh dari loka sopir tetapi tak berani mengajak sopir mengobrol sebab sebenarnya ada anggaran nan biasanya ditempel di bagian depan bis di dekat sopir nan memberitahukan buat tak berbicara dengan sopir selama dalam perjalanan. Ketika kemudian penumpang di dalam bis itu tinggal aku sendiri, maka Abdul Majid kemudian memanggil aku dan meminta aku buat duduk di kursi penumpang nan paling dekat dari dia. Kami pun kemudian mengobrol. Ia bertanya studi aku dan kondisi negara saya.

Ketika pada kali lain bis nan aku tumpangi melewati ZOB, aku melihat beberapa sopir bis sedang bercengkrama satu sama lain. Yang mencolok ialah Abdul Majid, sebab nan lainnya ialah orang Jerman. Tetapi sebenarnya bukan itu nan membuat Abdul Majid mencolok bagi saya, tetapi begitu jelas ia terlihat nan paling istimewa dalam kelompok sopir bis nan sedang bercengkrama itu. Entahlah, sikapnya, pembawaannya, senyumnya, atau mungkin cahaya wajahnya nan membuat hati aku kemudian membisikkan bahwa kalaulah di antara bebatuan ada mutiara, maka seorang muslimlah nan layak menjadi mutiara itu. Kalaulah di antara mutiara ada nan paling bercahaya, maka dari nan paling akrab dengan kitab-Nya lah terpancar cahaya itu.

Lain kota lain di desa. Penduduk desa memang ramah tetapi hal ini tak berlaku buat sopir bis, bila aku menilainya secara umum. Sampai saat ini hanya tiga sopir bis nan melewati desa aku nan bagi aku mereka termasuk ramah. Dua orang sopir bis pria dan nan satu ialah wanita, mungkin seorang ibu. Kebanyakan nan lainnya amat sulit buat berwajah agak cerah kepada penumpang nan naik. Saya tak tahu apa alasannya. Apa mungkin sebab rute mereka nan tak menarik, melewati desa dengan jeda tempuh nan cukup jauh. Ya, sepuluh menit perjalanan bis di kota berbeda dengan sepuluh menit perjalanan bis di desa. Yang berbeda ialah jeda nan ditempuh dari sepuluh menit itu.

Di kota tiap halte berjarak hanya ratusan meter, tetapi bila menuju desa, jeda antara loka pemberhentian nan satu dengan nan lain berjauhan. Kadang mereka pun membawa bisnya dengan kecepatan nan bagi aku agak tinggi bagi ukuran Jerman. Bila ada orang nan sudah tua dengan kereta bantunya hendak naik ke dalam bis, kebanyakan sopir bis ini hanya diam di kursinya dan menunggu orang tua itu naik sendiri. Pernah beberapa kali aku membantu orang tua nan kesulitan itu. Waktu itu aku hanya tak habis pikir.

Padahal aku duduk tak di dekat pintu naik bis nan dipergunakan oleh orang nan sudah tua, tetapi ada beberapa penumpang nan lebih dekat dengan pintu itu. Tetapi nan mereka lakukan ialah menoleh sebentar ke arah penumpang nan sudah tua itu dan kemudian memalingkan kembali pandangannya. Karena sempat beberapa kali aku menolong orang tua nan naik ke dalam bis, maka sopir bis nan biasanya berwajah kaku ketika aku naik ke dalam bis sedikit terlihat ramah bila aku menunjukkan tiket saya.

Saya merasa sudah dikenali oleh para sopir bis nan melewati desa saya. Pertama sebab aku jelas berbeda dari mereka. Kedua sebab hampir aku lah penumpang seorang nan naik dari halte bis di desa aku pada jam biasa aku menunggu bis, begitu pula bila sore atau malam hari aku kembali ke desa saya, hampir aku seorang lah nan turun di halte desa saya. Amat sporadis ada nan menemani aku naik dan turun di halte ini. Sampai saat ini ada seorang sopir bis nan jelas-jelas menyatakan ia mengenali saya.

Bila aku naik bis dan menunjukkan tiket, ia biasanya berkata, "Saya sudah tahu.“ Ini bukan berlaku pada aku saja, tetapi juga pada penumpang nan lain. Alasannya cuma satu, sebab biasanya penumpang bis nan melewati desa ini kebanyakan orangnya hanya nan itu-itu saja. Bahkan aku hafal di mana biasanya mereka naik bis. Ada seorang nenek nan tetap kuat berjalan tanpa alat bantu. Ada seorang nenek nan biasanya pergi dengan bis dengan dibantu kereta jalannya. Kereta jalan ini hanya kereta kecil beroda nan didorong sehingga tangan sang pemakai dapat bersandar pada pegangan kereta itu. Ini membantu orang tua nan sudah lemah tetap dapat berjalan.

Ada seorang bapak tua nan senantiasa memakai topi mirip topi koboi tetapi sayap topinya tak terlalu lebar. Ada pula bapak tua nan senantiasa pergi dengan anjingnya, dan nan paling bahagia berbicara dengan sopir dan penumpang nan lain sambil mengomentari konduite sang anjing. Ada pula seorang anak muda berkaca mata nan membawa tas layaknya seorang pelajar atau mahasiswa. Bila pulang dari institut biasanya aku dapati seorang ibu nan sering membawa belanjaan berupa mainan dan perlengkapan anak kecil. Dari usianya tak jelas bagi saya, apakah itu buat anaknya atau cucunya.

Pernah tiga kali bis ini tak melihat aku menunggu di halte desa saya. Saya sendiri heran, keberadaan aku begitu jelas di halte ini, bahkan bila aku melihat bis sudah kelihatan dari jauh, aku agak ke tengah halaman tanah halte ini agar mudah terlihat oleh sopir bis. Halte desa aku memang mengharuskan bis buat keluar dari jalan besar kemudian mengambil penumpang di halte dan kemudian masuk kembali ke jalan besar buat melanjutkan perjalanan. Ini berbeda dengan halte-halte lain nan hanya terletak di pinggir jalan, sehingga bis hanya tinggal menepi dan berhenti. Mungkin itulah penyebabnya mereka tak terlalu memperhatikan bila ada penumpang di halte aku ini.

Penduduk Flossdorf sendiri juga sporadis nan aku ketahui sehari-hari menggunakan bis. Mereka biasanya sudah punya kendaraaan sendiri. Nah lucunya ketika bis ini tak melihat saya, mereka kemudian menyadari keberadaan aku ketika sudah terlambat buat keluar dari jalan besar. Tetapi apa nan mereka lakukan? Mereka berhenti di tengah jalan, dan mengisyaratkan bahwa aku dapat berlari mengejar mereka dan kemudian naik. Ketika ini sudah dua kali terjadi, aku sempat berpikir bahwa cukuplah dua kali ini terjadi. Ternyata tetap terjadi nan ketiga kalinya. Dan untungnya, setiap aku mengalami kejadian ini, tak ada mobil nan berada di belakang bis, sehingga amanlah bagi sang bis buat berhenti mendadak di tengah jalan. Saudara aku Deden dari Bonn sempat tertawa ketika aku menceritakan ini.(Bersambung)

Catatan :

[1] Terminal bis

[2] Surat Al Kahfi, surat 18 dalam Al Quran

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy