Suami Dengan Tipikal Nabi

Suami Dengan Tipikal Nabi

Dalam ta’lim bulanan di mesjid pada suatu hari, Pak Ustadz membahas masalah kewajiban dan hak seorang istri dalam rumah tangga. Beliau menyinggung ketika bagaimana suatu saat Nabi nan mulia pulang ke rumah (Siti Khodijah) kemalaman, dan Beliau tak mengetuk pintu istri tercintanya, dengan alasan takut mengganggu.

Seketika aku langsung teringat, ketika suatu saat pasca melahirkan, aku baru tertidur hampir jam 11 malam. sementara suami belum pulang juga saat itu, sekitar jam 12 lewat bayi aku aha ehe minta mimi, aku lihat hp dengan tujuan hendak melihat jam, ternyata ada beberapa sms masuk nan isinya panjang lebar, ketika aku baca, diantaranya ;”….berarti nanti lagi, kita harus duplikat kunci, supaya kalau aa pulang malem, neng Geul ga usah bukain pintu,….sekarang sih ga apa aa tidur di luar, tapi barusan ada ronda lewat, takutnya kita disangka berantem……””

Membaca sms panjang, secara repleks, aku buka gordin buat mengintip…dan masya Allah, suamiku tengah meringkuk di pinggir motor, dengan beralas jas hujan kalau tak salah.

Saya bersyukur kepada Allah SWT dengan syukur nan tiada terhingga, ketika suatu saat mendengar seorang teman nan menceritakan suaminya tak mau makan jika ia (teman saya) tak memanaskan lauk pauknya terlebih dahulu, padahal suami teman aku itu pulang ke rumah lebih dahulu dari pada teman aku nan bekerja tersebut.

Saya bersyukur nan tiada terhingga, sebab suami tercinta selalu membantu urusan rumah tangga setiap harinya. Dalam aktifitas di pagi hari, sementara aku sibuk menyiapkan sarapan dan makan siang buat anak anak sambil menggendong bayi, suami aku turut serta terjun di dapur, bukan hanya sekedar berteriak; Bun, teh manis!!

Syukur nan tiada henti kepada Allah SWT nan telah memberikan suami nan akhlaq nya mendekati akhlaq nabi. Syukur tiada henti nan memberikan suami, nan didikannya hanya melalui insinuasi halus saja, tak melalui bentakan.Didikannya, hanya melalui kelemah lembutan, bukan kata kata kasar.

Pernah aku mendengar seorang umahat menceritakan suaminya nan berkomentar tentang dirinya, nan ”bagaimana penampilanku jika saya menggendong bayi dengan kain gendongan ya?”subhanallah, ternyata suami dendy seperti itu, ditengah kesibukan istrinya pun masih sempat berfikir seperti itu?

Saya selalu berfikir, berfikir, bahwa di global ini, hanya ada dua tipikal suami, sebagaimana halnya ada dua tipikal istri. Hanya pendapat lho. Ini bukan hasil riset nan kebenarannya absolut.

Tipikal suami nan pertama adalah, tipikal nabi, nan banyak toleransinya, sehingga tak banyak menuntut terhadap istrinya, nan menyanbung tali sendalnya sendiri, nan menambal bajunya sendiri, nan membantu istrinya di dapur, memotong motong daging buat istrinya.

Tipikal suami nan kedua ialah tipikal Ali bin Abi Tholib, seorang nan berani, tegas, andalan nabi dalam pertempuran, faqih dalam diennya sebab dididik nabi dari kecil.

Tipikal suami nan pertama ini selalu berjodoh dengan tipikal istri Siti Aisyah, nan ceria, berani, luas ilmunya, memberi pedagogi kepada para shahabiyah, akan tetapi pencemburu.

Suami bertipikal Sayyidina Ali, sangat sepadan dengan istri nan mempunyai tipikal Siti Fatimah, nan lemah lembut, lagi agung, sangat sabar, sebab selalu ditinggal Sayidina Ali berjihad, nan dengan sabar mengerjakan urusan rumah tangganya sendirian tanpa khodimat, nan suatu saat meminta kepada ayahandanya buat diberikan khodimat, namun bukan khodimat nan didapat, tetapi nasihat berharga, yaitu nasihat buat mengamalkan wirid nan dibacakan sebelum tidur.

Maha adil Allah nan memasang masangkan hambanya dengan benar, tiada salah, walaupun menikah dengan tiada proses pengenalan, penjajagan seperti keumuman orang banyak.

Maka, kepada teman temanku nan sedang menjalani proses penjajagan, atau ta’aruf, janganlah engkau mengulur ulur waktu menikah, jika engkau sudah ada calonnya, tsiqoh billah, sebab Allah tak akan salah dalam perencanaanya. Allah SWT lebih mengetahui kita, dari pada diri kita sendiri. Allah SWT lebih mengetahui nan terbaik buat kita, dari pada diri kita sendiri.

Dia memberikan dan memasangkan kita dengan orang nan sekufu dengan kita. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat An-Nuur ayat 26;

”Wanita-wanita nan keji ialah buat laki-laki nan keji, dan laki-laki nan keji ialah untuk wanita-wanita nan keji (pula), dan wanita-wanita nan baik ialah buat laki-laki nan baik dan laki-laki nan baik ialah buat wanita-wanita nan baik (pula)…..”

Maha Kudus Allah, nan kepada Nyalah hamba memohon ampun atas ketidak sempurnaan dalam darma kepada suami, semoga Ia senantiasa mendidik hamba setiap saat. (Yuyu Latifah)

Akhwat

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy