Suamiku Kekasih Hatiku

Suamiku Kekasih Hatiku


Oleh: Anna Nur F

(Ibu Rumah Tangga, Pemerhati Masalah Sosial)

Cinta ialah anugerah. Sebuah rahasia nan dapat datang amat tiba-tiba. Sebuah rasa ketertarikan terhadap versus jenis nan tak biasa, tanpa diduga, dan dapat hadir begitu saja. Seperti nan pernah saya alami. Belum pernah saya merasakan cinta seperti ini. Sebuah perasaan nan saya sendiri tidak tahu mengapa hinggap di hatiku. Suamiku memang pria sholeh, tampan, baik hati dan bagaikan seorang raja saat memuliakanku. Entah bagaimana cinta ini bermula. Yang niscaya saya mengenal kesholehannya tak secara langsung, melainkan melalui perantara. Dan saat nadzor saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Beberapa waktu kemudian ia Alloh takdirkan menjadi suamiku. Rendezvous keduaku dengannya terjadi saat ia telah menjadi suamiku. Semua proses amat mudah kami jalani. Begitu cepat semua terjadi dan bagaikan mimpi.

Sesungguhnya awalnya saya tidak mengenal suami sama sekali. Aku hanya tahu saya memilihnya sebab Alloh, yaitu sebab ada pada dirinya sikap dan konduite nan disukai Alloh. Itulah alasanku mengapa mau dan ikhlas menjadi istrinya. Diluar itu saya tidak tahu. Seperti saya tidak tahu jawaban atas sebuah pertanyaan, mengapa saya jatuh cinta padanya? Namun perlahan tapi niscaya saya mulai tahu setelah hayati bersamanya. Suamiku begitu memuliakanku, menyayangiku, memperhatikanku, memahamiku meski sesungguhnya ia pun tidak mengenalku sebelumnya. Dua pekan masa perkenalan tidak cukup buat saling mengenal lebih banyak. Dan setelah menjadi istri, saya benar-benar jatuh hati pada seorang pria nan telah menjadi suamiku. Cinta halal nan amat indah. Sensasinya bergetar bersama genre darahku. Cinta nan hari demi hari selalu membuat rindu. Suamiku ialah jawaban latif atas segala doaku selama ini. Fabbi ayyi allaa irobbikuma tukadzdzibaan.

Suami, seorang pria nan telah Alloh berikan kedudukan amat mulia dalam sebuah keluarga. Ia harus ditaati oleh istri, sehebat apapun jabatan istri di luar rumah. Seorang suami ialah qowwam nakhkoda maghligai rumah tangga. Bagaimana sebuah pernikahan dan rumah tangga dibentuk, semua amat tergantung desain seorang suami. Ia Alloh anugerahi kewenangan buat mengatur istri, sekaligus kewajiban berat mendidik, membina dan membimbing istri agar menjadi wanita sholehah. Satu lagi kehebatannya, anugerah Alloh nan sungguh tak tertandingi, ialah haknya buat ditaati istri dan mengubah “taqdir” seorang wanita nan telah menjadi istrinya. Dalam sekejap seorang wanita nan berstatus istri, dapat berubah menjadi janda atau sebaliknya melalui talaq dan rujuk.

Suamiku kekasih hatiku. Tak hiperbola kiranya dan wajib digenggam erat oleh seorang istri. Ketika seorang wanita telah berpredikat menjadi seorang istri, sudah seharusnya menempatkan lelaki nan telah menikahinya, sebagai satu-satunya pria dalam hatinya. Melupakan perjalanan masa lalu nan mungkin telah menghadirkan beberapa pria dalam hidup, sebelum akhirnya Alloh mempertemukan dengan orang nan tepat, nan bertitel suami.

Suami, hanya ia satu-satunya pria nan boleh dicintai istri. Hanya suami satu-satunya loka berlabuhnya cinta. Tutup rapat-rapat semua pintu buat cinta nan lain. Hanya dengan cinta, seorang istri akan ikhlas buat menaati suaminya. Akan ridho buat menjalankan seluruh kewajiban sebagai istri. Senantiasa memenuhi setiap hak suami dengan penuh ketulusan, dan menjadikan suami sebagai tempatnya mengabdi buat meraih syurgaNya.

Ketika seseorang telah menjadi suami, berarti ia ialah lelaki nan telah Alloh pilih buat istri cintai. Tak ada tawar menawar. Karena cinta nan akan membuat rela seorang istri menyerahkan diri sepenuhnya pada suami. Cintalah sumber kekuatan istri buat berbakti, melepas segala ego nan ada pada dirinya. Sebab cinta itu membahagiakan. Ingin orang nan dicintai selalu tersenyum, dan hatinya tentram. Cinta itu menenangkan hati, jauh dari menyebabkan orang nan dicintai gundah gulana dan merasa tak nyaman.

Cinta pada pria (suami) pilihan Alloh ialah ibadah, bernilai pahala. Akan semakin mengokohkan sakinah, menyuburkan mawaddah warohmah. Sebaliknya, mencintai pria nan bukan suaminya ialah terlarang, bukan pada tempatnya. Hanya akan semakin memudarkan ikatan diantara suami istri. Sungguh akan sangat tak elok, jika di hati seorang istri ada pria lain selain suaminya. Dan nan pasti, setan akan bahagia pekerjaannya mengendorkan bahkan memutus ikatan sepasang suami istri berhasil.

Cinta, menjadi senjata paling ampuh bagi setan buat menjerumuskan manusia ke lubang kehinaan. Makhluk terkutuk ini sangat lihai memainkan perasaan manusia. Terhadap sepasang anak manusia nan tak dalam ikatan nan halal, dihembuskannya cinta agar semakin menggebu. Tujuannya jelas, agar keduanya saling rindu, ingin selalu berdekatan dan memenuhi hasrat cinta dengan melakukan perbuatan terlarang. Sebaliknya terhadap sepasang suami istri, setan memainkan rasa cinta buat cemburu buta, berprasangka bahkan membenci hingga keduanya saling menjauh bahkan terpisah.

Perwujudan cinta sesungguhnya ada dalam ranah pilihan manusia. Konduite kita nan akan menunjukkan apakah cinta itu sebab Alloh semata atau hanya mengikuti hawa nafsu. Cinta ialah anugerah sekaligus ujiaan. Cinta sebab Alloh, tidak mungkin ditunjukkan dengan cara nan Alloh larang dan murkai. Cinta sebab Alloh, memastikan setiap langkah sinkron dengan tuntunanNya. Cinta sebab Alloh, tidak mungkin membiarkan hati berselingkuh sekalipun hanya dalam lintasan. Oleh sebab itu, cinta pada suami dan pada siapapun mereka nan memang tuntunan syara membolehkan buat dicintai, ialah harus sebab Alloh semata.

Cinta sebab Alloh itu tulus, tidak mengharapkan pamrih apapun. Menjadikan cinta pada suami sebagai satu-satunya cinta ialah sebuah keindahan, nan akan Alloh balas dengan berbagai kenikmatan global akhirat. Perselisihan nan terjadi diantara sepasang makhluknya dalam ikatan halal, akan semakin menguatkan cinta. Disparitas pendapat dalam sebuah mistaqon gholidhon, akan menambah kemesraan keduanya. Namun satu hal nan harus tetap dipegang oleh setiap anak manusia ialah menjadikan muara cinta hanya pada Alloh saja, tidak boleh cinta pada makhluk melebihi cinta pada Sang Pemberi Cinta.

Semoga suamiku kekasih hatiku, ialah ungkapan terdalam dari hati seorang istri, nan mengalir dalam ucapan, perasaan, pikiran dan tindakan nyata, bukan hanya sebuah kata tanpa makna. Suamiku kekasihku menjadi denyut dan nafas cinta dalam hayati seorang istri. Semoga cinta kita pada suami, sebagai satu-satunya cinta dalam hati akan membawa kita pada keridhaan suami, nan akan mengantarkan kita menuju syurgaNya. Aamiin.

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy