Syahadah Cinta

Syahadah Cinta

Senja ini, di antara syahdu angin bahari nan bernyanyi. Seirama dengan tarian ombak nan menggulung-gulung memecah pantai. Menyusuri buti-butir pasir nan kemilau oleh mentari nan mengintip malu dibalik tirai senja. Diiringi panorama burung-burung nan meliuk-liuk latif di angkasa. Tenang, damai, mendengar alam bernyanyi layaknya vokal grup nan saling melengkapi. Subhanallah. Maha Kudus Allah nan menciptakan alam sedemikian latif ini. Dan saya seakan-akan mendengar mereka semua melantunkan Surat Ar-Rahman berbisik ditelingaku

“Maka nikmat Tuhan kamu nan manakah nan kamu dustakan? Tuhan nan memelihara kedua loka terbit matahari dan Tuhan nan memelihara kedua loka terbenamnya. Maka nikmat Tuhan kamu nan manakah nan kamu dustakan? Dia membiarkan dua lautan mengalir nan keduanya Kemudian bertemu, Antara keduanya ada batas nan tak dilampaui masing-masing. Maka nikmat Tuhan kamu nan manakah nan kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. Maka nikmat Tuhan kamu nan manakah nan kamu dustakan? Dan kepunyaanNya lah bahtera-bahtera nan Tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung. Maka nikmat Tuhan kamu nan manakah nan kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman [55] : 16-25)

Aku berdiri di tepian pantai. Mataku tajam menatap lautan nan membentang luas. Jiwaku jadi kerdil. Betapa kecilnya diri ini jika dibandingkan makhlukNya nan lain. Apa lagi jika dibanding dengan Dia nan menciptakan ini semua. Allahuakbar! Maha Besar Allah dengan semua ciptaanNya.

Kilau mentari nan menghiasi langit senja ini semakin latif dan semakin meninggalkan hari. Rasanya ingin berlama-lama di bibir pantai ini. Mentafakuri dan menikmati ciptaanNya nan sporadis sekali saya lihat kecuali ketika saya pulang ke Lampung.

“Gie…!!!” Teriak seseorang dari arah belakangku nan sangat saya kenal.

Endi namanya. Dia sahabat dekatku. Dia nan pertama kali mengajakku ke pantai ini ketika saya pulang setahun nan lalu.

“Ya…!”

“Sudah jam 5 lewat ¼, balik yu!”

Aku hanya tersenyum menatapnya. Dia datang menghampiriku dan merangkul pundakku dengan akrab.

“Sudahlah! Allah niscaya punya planning latif buatmu.”

“Aku percaya itu. Tapi…”

“Tapi apa? Aku nggak mengenal Gie sahabatku nan mudah lemah seperti ini. Aku kenal Gie seperti dia menatap setitik bahtera nan jauh di lautan luas sana.” Sambil tangannya menunjuk kearah bahtera di tengah lautan. “Gie nan fokus pada mimpi dan tujuan-tujuan besarnya. Kamu bukan Gie nan runtuh semangatnya hanya sebab satu benturan. Perkara jodoh, Allah berjanji akan memberikan nan baik untuk hamba-hambaNya nan baik. Jadi ikhtiarmu dalam mencari bidadarimu itu, hanyalah dengan terus berupaya memperbaiki diri kawan.” Jawabnya tegas berupaya mengingatkanku.

“Hemm… sahih Ndi. Mungkin memang belum saatnya saya buat menikah dalam waktu dekat ini.”

“Kamu harus tahu apa nan diinginkan bapak dan ibumu. Dia ingin anaknya dapat selesai S1-nya. Dapat mengejar mimpi dan cita-citanya. Betapa bangganya ibumu ketika ia cerita padaku, kalau anak pertamanya dapat melanjutkan sekolahnya di perguruan tinggi dengan biaya sendiri tanpa harus membebani orang tua. Pendidikan tinggi di kampung kita itu barang langka Gie. Ibu dan bapakmu bangga kamu dapat menjadi asa keluarga. Lihat adikmu nan masih sekolah. Kamu masih harus membantu biaya sekolahnya.” Cerita Endi padaku. Aku pun tidak sanggup menahan airmata mendengarnya.

Tiba-tiba teringat paras ibuku nan terlihat lelah membesarkan anaknya. Teringat setiap kali saya pulang ke rumah ia selalu mencium kening dan pipiku. Teringat paras bapak nan mulai menua dan berkurang produktifnya. Aku tidak sanggup lagi menahan tangisku disaksikan laut, mentari dan langit senja. Endi mendekapku kencang. Ia sangat tahu seperti apa perasaanku.

“Maaf sobat! Aku hanya ingin kamu menjadi setegar karang nan diterpa ombak. Aku ingin kamu seperti elang nan terbang di angkasa sana nan tidak pernah surut buat turun meski angin kencang menerpanya. Kamu pahlawan untuk keluargamu. Aku bangga punya sahabat sepertimu.” Lanjutnya membesarkan hatiku.

Aku sela air mataku, saya tatap matanya, lalu kukatakan, “aku juga bangga punya sahabat sepertimu, nan sangat peduli dan mengerti perasaan sahabatnya”. Jawabku sambil saya balas dekapannya.

“Kalau kamu dapat penuhi apa nan orangtuamu inginkan dan membuat mereka bangga, jangankan satu. Empat sekaliguspun mereka niscaya akan mengiyakan!”

“Ah.. dapat aja.” Sela ku. Aku hanya tersenyum. “Ibu sebenarnya sih mengizinkan saya menikah. Tapi ya itu tadi, betul katamu. Ibu risi kuliahku berhenti ditengah jalan. Dia ingin saya selesai kuliah dulu.”

“Tapi kamu belum sampai jauh dengan gadis itu kan?” Tanya Endi.

“Maksudmu?”

“Eee… ee.. Nggak pacaran kan?”

“Astagfirullah! Ya nggak Ndi! Kamu kayak baru kenal saya aja!” Tegasku sambil melotot.

“Maaf, maaf! Aku hanya risi aja! Tapi dia tahu perasaanmu?”

“Enggak!” jawabku sambil menggelengkan kepala. “Cuma kamu, Ibu dan Bapak nan tahu tentang perasaanku ini! Dan saya gak akan mengungkapkan perasaanku ini kecuali dengan wanita nan absah menjadi istriku.” Tegasku.

“Dia akhwat teman satu fakultas.” Lanjutku bercerita. “Setiap kali kuliah saya niscaya ketemu dia. Entah dia duduk di depan. Entah dia duduk di belakang. Itu nan menyiksa perasaanku. Aku coba fokus pada pelajaran. Tapi tetap saja saya gak dapat menghilangkan perasaan ini. Aku coba buat rajin puasa. Bahkan puasa daud. Bahkan saya sering bangun malam. Menangis. Mengadukan semuanya pada Allah. Tetapi belum tampak Allah memberikan jawabannya padaku. Aku semakin disiksa dengan perasaanku sebab setiap hari harus berjumpa dengan dia di kampus.”

“Ck.. ck.. ck..,” gerutu Endi sambil menggelengkan kepala. “Itu manusiawi Gie. Bukan hanya kamu. Pemuda di seluruh global juga pernah merasakan apa nan kamu rasakan. Allah sedang mengujimu. Apakah kamu sanggup menjaga kehormatan dan kesucian dirimu, sampai kamu sabar dan Allah memberikan pertolonganNya. Coba kamu sibukkan dirimu dengan hal-hal nan positif dan berusahalah pelan-pelan buat melupakannya.”

“Aku sudah coba dengan memadatkan agenda dakwahku di luar jam kerja dan jam kuliahku. Tapi kalau setiap kali kuliah ketemu dia gimana saya dapat melupakannya? Apa saya berhenti kuliah saja?”

“Gie…! Gie…! Baru saya bilang. Ingat ibumu nan sangat ingin kamu selesai S1. Coba setiap kali kamu ingat dia, hadirkan paras ibumu. Perasaan itu ialah fitrah manusia. Allah sedang mengujimu. Kalau kamu sabar buat tetap menjaga kesucian dirimu buat tak terjerumus kepada hal-hal nan Allah tak ridhai, Allah niscaya akan memberikan pertolonganNya padamu. Kamu ingat firman Allah di surat Al-Baqarah 153,

Hai orang-orang nan beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang nan sabar.

Astagfirullahaladzim, gumamku dalam hati. Ya Allah ampuni saya nan tak dapat sabar menghadapi ujianMu ini.

Aku peluk erat Endi, dan saya katakan lirih ditelinganya. “Benar Ndi! Terimakasih nasehatmu. Kamu selalu menguatkanku saat saya lemah.”

“Aku sahabatmu Gie. Aku dapat pahami itu.”

“Oya Gie,” endi melepaskan pelukannya. “kalau seandainya Ibu dan bapak merestuimu buat menikah. Apa gadis itu juga suka sama kamu? Dan apa dia mau sama kamu?”

Glek!

Aku terdiam beberapa detik.

“Iya juga. Apa dia mau sama saya ya?”

“Nah, kalau dia mau sama kamu, belum tentu juga siap buat nikah. Masalah lagi!”

Tambahnya lagi.

Aku diam terbengong. Sepertinya ada burung gagak nan menyambar kepalaku.

“Hehehe.. koq bengong! Nah itu artinya kamu gak usah terlalu dibawa perasaan. Kalau itu juga gak jelas! Ya sudah!

“Sebentar lagi magrib, ke masjid yuk!”

“Ayo” jawabku pendek.

Sepanjang perjalanan ke masjid saya coba merenungi kata-kata terakhirnya. Sahih juga, kenapa harus saya merasa tersiksa dengan perasaanku. Aku juga tak tahu apa akhwat itu bersedia menikah denganku.

***

Ba’da Magrib kami putuskan buat pulang. Kami membawa kendaraan motor dari rumah. Karena memang jeda pantai beberapa kilo dari rumah. Aku nan berada di depan membawa motornya dan Endi berada di belakang saya bonceng.

Setelah selesai shalat magrib dan sepanjang perjalanan saya merasakan sesuatu nan aneh. Seperti ada orang nan membuntuti kami setelah keluar dari masjid. Aku merasa seperti punya janji terhadap seseorang. Tetapi saya lupa janji apa itu.

“Gie, kapan balik lagi ke Tangerang?” tanya Endi coba memecahkan keheningan di perjalanan.

“Besok pagi. Insya Allah.”

“Berarti ini kebersamaan kita nan terakhir?” Mimiknya sedikit kecewa

“Insya Allah niscaya kita ketemu lagi.” Jawabku mencoba mengobati kecewanya.

“Ndi, kamu liat orang nan naik motor dibelakang kita nggak? Kayaknya buntutin kita dari tadi.”

“Yang mana? Nggak ada siapa-siapa koq!” Tegas Endi sambil memperhatikan kebelakang

“Liat di kaca spion. Pakaiannya serba hitam.”

Sssiiittt…

Aku hentikan kendaraan dan coba menoleh kebalakang. Dia, pria berpakaian hitam itu juga ikut berhenti dengan kendaraannya. Hatiku menjadi gelisah. Ada perasaan takut nan tiba-tiba menghantuiku begitu dahsyat.

“Gie, kamu lihat apa sih?”

“Lihat dibelakang kita. Kendaraan itu juga ikut berhenti. Sepertinya memang ada sesuatu nan ia inginkan dari kita.”

“Apa? Aku nggak lihat apa-apa Gie?”

Aku tak peduli apa tanggapan Endi. Tapi saya merasa sangat takut sekali. Aku tancap gas dengan kecepatan nan tinggi! Aku ucapkan kalimat tauhid sepanjang perjalanan.

“Laa ilaha ilallah… Laa ilaha ilallah”

“Gie.. Pelan-pelan!” Teriak Endi.

Aku tak peduli dengan teriakan Endi. Aku perhatikan kaca spion, sepertinya dia mengimbangi kecepatanku. Aku tambah kecepatanku. Dia semakin mendekat dibelakang. Aku semakin takut tak karuan. Aku ambil kanan mendahului beberapa kendaraan. Sesampai ditikungan, tiba-tiba muncul truk Fuso dari arah berlawanan. Dan saya tidak bisa menghindari truk-fuso itu dengan kecepatan kendaraanku nan tinggi.

Endi berteriak, “GIEE…! AWAS…!”

Dan… DAR…!

Kendaraan kami menabrak truk Fuso itu. Endi terlempar jauh, dan saya terjatuh masuk kedalam rongga di bawah rumah Fuso itu.

SSS…!

Tubuhku terasa panas seperti terbakar. Remuk seperti ada nan meremas.

“Gie… gie..” samar-samar terdengar suara Endi memanggilku

HE… AH…! HE… AH…! HE… AH…! Nafasku tersengal-sengal.

Tiba-tiba saya melihat sosok pria nan membuntuti kami tadi. Dia turun dari kendaraan dan berjalan kearahku. Semakin dekat. Semakin besar. Semakin seram. Aku tidak bisa melihat wajahnya secara jelas. Aku semakin takut. Aku tersadar ternyata dia ialah Izrail. Malaikat Maut. Dia mendekatiku dan menggapai tubuhku nan remuk.

Dan tiba-tiba, semuanya menjadi gelap!

Kisah ini hanya fiktif semoga ada hikmahnya.

Wallahu alam bi shawab.

Tangerang, 11 November 2010

Kisah

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy