Tata Cara Khutbah pada Shalat Jumat

Tata Cara Khutbah pada Shalat Jumat

Assalamu alaikum wr. wb.

Mohon dijelaskan tata anggaran dan rukun khutbah Jumat. Sebab banyak di antara kami nan jadi pengurus masjid di kantor, terkadang atas satu karena dan lainnya, khatib tak datang. Dalam kondisi itu terpaksa kami nan harus maju. Bukannya kami tak mau, tapi kadang masih sedikit ada keraguan dalam hati, karena syahdan ada rukun dan tata anggaran nan mengatur tentang khutbah Jumat itu.

Karena itu sekali lagi mohon permintaan kami dikabulkan, demi sahnya shalat Jumat di kantor kami.

Wassalamu’alaikum,

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Khutbah Jumat itu memang memerlukan rukun nan harus terpenuhi, agar dapat absah secara aturan. Bilamana salah satu rukun itu tak terpenuhi, memang akan membuat khtbah itu rusak, alias tak sah.

Yang paling pokok buat diketahui bahwa khutbah Jumat itu terdiri dari dua bagian. Yaitu khutbah pertama dan khutbah kedua, di mana keduanya dipisahkan dengan duduk di antara dua khurbah.

Selain itu nan juga perlu diperhatikan ialah bahwa khutbah Jumat itu dilakukan sebelum shalat Jumat. Berbeda dengan khurtbah Idul fitri atau Idul Adha nan justru dilantunkan setelah selesai shalat Id.

Adapun rukun khutbah Jumat, para ulama mencoba mengumpulkannya dari berbagai dalil, lalu didapat paling tak ada lima perkara.

1. Rukun Pertama: Hamdalah

Khutbah jumat itu wajib dimulai dengan hamdalah. Yaitu lafaz nan memuji Allah SWT. Misalnya lafaz alhamdulillah, atau innalhamda lillah, atau ahmadullah. Pendeknya, minimal ada kata alhamd dan lafaz Allah, baik di khutbah pertama atau khutbah kedua.

2. Rukun Kedua: Shalawat kepada Nabi SAW

Shalawat kepada nabi Muhammad SAW harus dilafadzkan dengan jelas, paling tak ada kata shalawat. Misalnya ushalli ‘ala Muhammad, atau as-shalatu ‘ala Muhammad, atau ana mushallai ala Muhammad.

Namun nama Muhammad SAW boleh saja diucapkan dengan lafadz Ahmad, sebab Ahmad ialah nama beliau juga sebagaimana tertera dalam Al-Quran.

3. Rukun Ketiga: Washiyat buat Taqwa

Yang dimaksud dengan washiyat ini ialah perintah atau ajakan atau anjuran buat bertakwa atau takut kepada Allah SWT. Dan menurut Az-Zayadi, washiyat ini ialah perintah buat mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sedangkan menurut Ibnu Hajar, cuukup dengan ajakan buat mengerjakan perintah Allah. Sedangkan menurut Ar-Ramli, washiyat itu harus berbentuk seruan kepada ketaatan kepada Allah.

Lafadznya sendiri dapat lebih bebas. Misalnya dalam bentuk kalimat: takutlah kalian kepada Allah. Atau kalimat: marilah kita bertaqwa dan menjadi hamba nan taat.

Ketiga rukun di atas harus terdapat dalam kedua khutbah Jumat itu.

4. Rukun Keempat: Membaca ayat Al-Quran pada salah satunya

Minimal satu kalimat dari ayat Al-Quran nan mengandung makna lengkap. Bukan sekedar potongan nan belum lengkap pengertiannya. Maka tak dikatakan sebagai pembacaan Al-Quran bila sekedar mengucapkan lafadz: (ثم نظر) tsumma nazhar.

Tentang tema ayatnya bebas saja, tak ada ketentuan harus ayat tentang perintah atau embargo atau hukum. Boleh juga ayat Quran tentang kisah umat terdahulu dan lainnya.

5. Rukun Kelima: Doa buat umat Islam di khutbah kedua

Pada bagian akhir, khatib harus mengucapkan lafaz nan doa nan intinya meminta kepada Allah kebaikan buat umat Islam. Misalnya kalimat: Allahummaghfir lil muslimin wal muslimat (Ya Allah, ampunilah orang-orang muslim laki dan wanita). Atau kalimat Allahumma ajirna minannar (Ya Allah, selamatkan kami dari barah neraka).

Wallahu a’lam bishshawab wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Shalat

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy