Tatacara Penguburan Hasil Amputasi

Tatacara Penguburan Hasil Amputasi

bagaimana tatacara penguburan hasil amputasi terhadap salah satu anggota badan dampak tindakan medik tertentu. Apakah sama seperti tatacara penguburan jenasah nan meliputi dimandikan, disholatkan dst. Bgmn pandangan islam terhadap jenasah nan dikuburkan dengan anggota badan nan tak lengkap, sebab tindakan amputasi tersebut

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Yuddhi nan dimuliakan Allah swt

Islam menganjurkan agar menguburkan setiap bagian tubuh nan terpotong atau terpisah sebagai penghormatan terhadap jasad seorang mukmin, sebagaimana firman Allah swt :

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ

Artinya : “Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan.” (QS. Al Isra : 70)

Didalam tafsir al Qurthubi, al Hakim at Tirmidzi didalam kitab “Nawadir al Ushul” bahwa beliau saw bersabda,”Potonglah kuku-kuku kalian dan kuburkanlah potongan-potongan kuku kalian, bersihkan sela-sela jari kalian, bersihkan gusi kalian dari makanan dan gosoklah gigi kalian. Janganlah kalian mendekatiku dengan mulut nan bau.”

Didalam penjelasannya tentang penguburan potongan-potongan kuku itu, dia mengatakan bahwa jasad seorang mukmin memiliki kehormatan maka apa saja nan terlepas darinya ia harus tetap dijaga kehormatannya dan sebaiknya ia dikuburkan sebagaimana apabila orang itu meninggal dunia. Dan apabila sebagiannya telah wafat maka ia pun juga harus dihormati dengan dikuburkan agar tak tercerai berai dan janganlah dibuang ke barah atau ke loka sampah. (al Jami’ Li Ahkamil Qur’an juz II hal 102)

Al Imam an Nawawi mengatakan bahwa dianjurkan setiap potongan rambut, kuku-kuku agar ditimbun didalam tanah sebagaimana hal ini dinukil dari Ibnu Umar serta kesepakatan para sahabat kami (madzhab Syafi’i). (al Majmu’ 289)

Ibnu Qudamah mengatakan bahwa dianjurkan mengubur potongan-potongan kuku atau rambut nan rontok sebagaimana diriwayatkan al Khalalah dengan sanadnya dari Miil binti Misyrah al Asy’ariyah berkata,”Aku menyaksikan ayahku memotong kukunya lalu menguburnnya dan dia mengatakan,”Aku menyaksikan Rasulullah saw melakukan hal ini.” Dari Ibnu Juraih dari Nabi saw bersabda,”Dia tertegun dengan penguburan darah.”

Muhanna berkata,”Aku bertanya kepada Ahmad tentang seorang laki-laki nan memotong rambut dan kuku-kukunya apakah ia harus menguburnya atau membuangnya ?” Ahmad menjawab,”Hendaklah dia menguburnya.” Aku bertanya,”Apakah ada warta tentang itu nan sampai kepadamu?” Ahmad menjawab,”Dahulu Ibnu Umar menguburnya.”

Telah diriwayatkan kepada kami dari Nabi saw bahwa beliau saw memerintahkan buat menguburkan (potongan) rambut dan kuku dan bersabda,”Agar tak dijadikan permainan oleh manusia-manusia tukang sihir.” (al Mughni Juz I hal 146)

Dari sini para ulama mengqiyaskan penimbunan bagian-bagian tubuh lainnya nan terpotong, terputus (amputasi) atau terlepas dari tubuhnya dengan penimbunan potongan rambut atau kuku.
Lalu apakah potongan-potongan tubuh nan diamputasi atau terlepas itu harus dperlakukan sebagaimana tubuh manusia nan meninggal yaitu dimandikan dan dishalatkan sebelum dikuburkan ?

Dalam peramasalahan ini, Imam Nawawi mengatakan bahwa al Mutawalli telah menukil adanya kesepakatan bahwa ia tak perlu dimandikan dan tak juga dishalatkan. Dia mengatakan,”Tidak ada disparitas (dikalangan para ulama) bahwa tangan nan terpotong dikarenakan mencuri atau qishash tidaklah perlu dimandikan dan tak juga dishalatkan akan tetapi cukup dibungkus dengan sehelai kain lalu dikuburkan. Demikian pula terhadap kuku-kuku nan dipotong dan rambut-rambut nan dicukur dari seorang manusia nan masih hayati maka tak perlu dishalatkan akan tetapi dianjurkan buat dikuburkan.”

Dia juga mengatakan,”Penguburan tidaklah dikhususkan buat bagian tubuh dari orang nan sudah diketahui kematiannya akan tetapi juga dari orang nan masih hidup, seperti : satu bagian tubuh tertentu, rambut, kuku ataupun nan lainnya maka dianjurkan buat dikuburkan. Dalam hal ini termask juga ‘alaqoh (segumpal darah) atau mudhghoh (segumpal daging) nan keluar dari rahim wanita nan hamil (keguguran) atau darah nan keluar sebab adanya pendarahan dari tubuh manusia hendaklah dikuburkan.” (al Majmu’ juz V hal 254)

Wallahu A’lam

Ustadz menjawab

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy