Taubat Pangkal Cerdas

Taubat Pangkal Cerdas

“Mengapa ketika aku sedang rajin-rajinnya shalat dan ikut pengajian, waktu belajar aku jadi habis, bahkan nilai-nilai kuliah jelek. Tapi ketika aku sporadis ngaji, malah semangat kuliah?”

Seorang anak muda bertanya pada Ustadz dalam acara halal bi halal sebuah ikatan keluarga mahasiswa muslim Indonesia di kota Frankfurt akhir pekan lalu.

Rekan mahasiswa di sebelahnya dengan semangat menimpali,“Wah betul. Dulu waktu aku sporadis shalat, malah ketemu seorang muslimah idaman. Gara-gara dia aku jadi rajin ke masjid. Tapi jadinya kurang waktu dan perhatian sama si doi. Sekarang interaksi kami malah memburuk bahkan terancam putus. Bagaimana ini?”

Bukannya menjawab, pak Ustadz malah balik bertanya,“Memangnya kita melakukan shalat supaya nilai kuliah kita bagus terus? Atau kita shalat supaya interaksi dengan calon isteri lancar terus?”

Semua nan hadir tercenung. Mencoba berpikir apa memang ada kaitannya antara rajin beribadah dengan tercapainya semua nan kita inginkan.

***

Ustadz lalu mengajak hadirin buat merenung. Di antara kita sering hanya memiliki fokus jangka pendek. Selepas SMA, ingin segera kuliah, jika perlu di luar negeri. Setelah lulus kuliah, ingin segera mendapat pekerjaan. Habis bisa kerja, ingin segera punya rumah plus kendaraan. Setelah memiliki rumah, ingin segera menikah. Setelah menikah, ingin segera memiliki anak. Setelah semua cita-cita kita terpenuhi, terus apalagi? Na und? So what? Bagaimana jika ada cita-cita nan masih tertinggal, keburu kita meninggal?

Pernahkah kita mencoba buat memiliki fokus jangka panjang, yaitu kehidupan setelah mati? Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ditanya oleh salah seorang sahabat, “man akyasunnas wa akramunnas (siapakah orang nan paling cerdas dan paling mulia)”, beliau menjawab, “aktsaruhum dzikran lil maut wa asyadduhum isti’dadan lahu” (yang paling banyak mengingat wafat dan paling dahsyat persiapannya buat menghadapi kematian itu).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga pernah bersabda: “Orang nan pandai itu ialah orang nan bisa menundukkan nafsunya dan berbuat buat kehidupan setelah mati. Sedangkan orang nan lemah ialah orang nan memperturutkan nafsunya dan mengharap dari Allah agar angan-angannya terwujud.” (HR Imam At-Tirmidzy, Imam Ahmad, Imam Al-Hakim dan Imam Ibnu Majah).

***

Kelihatan belum puas, anak muda tadi bertanya lagi, “Lalu apakah supaya cerdas lantas kita sehari-harinya harus shalat dan ngaji terus di masjid? Kalau kita kuliah atau bekerja, banyak godaan nan terkadang menjerumuskan.”

Pak Ustadz tersenyum bijak.“Ya tentu saja tak demikian. Kuliah atau bekerja jalan terus, dan diusahakan buat berhasil, tapi shalat, mengaji, dan dzikir juga jalan terus, bahkan justru lebih kenceng. Godaan-godaan dalam pekerjaan atau kuliah kita hindari dan kita bersihkan dengan istighfar dan taubat (kembali dari perbuatan maksiat menuju perbuatan taat).”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Setiap anak Adam niscaya berbuat salah dan sebaik-baik orang nan berbuat salah ialah nan bertaubat.”(HR Imam Ahmad). “Seandainya hamba-hamba Allah tak berbuat dosa, pasti Allah akan menciptakan makhluk nan berbuat dosa lalu mereka istighfar, kemudian Allah mengampuni dosa mereka. Dan Dia ialah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (HR Imam Hakim).

Tanpa menunggu ditanya, pak Ustadz pun melanjutkan,“Jadi kita perlu mengubah orientasi hayati kita. Tapi tak harus drastis, cukup sedikit demi sedikit, bertahap, nan krusial istiqomah (konsisten). Kalau dulu cuma shalat wajib, kini ditambah shalat sunnah. Jika dulu tak pernah datang ke pengajian, sekarang coba datang seminggu-dua minggu sekali. Kalau dulu hanya baca koran, sekarang mulai belajar Qur’an dan bahkan membacanya di rumah setiap hari. Jika dulu cuma mendoakan diri sendiri, sekarang mendoakan orang tua, muslimin dan muslimah, mukminin dan mukminah. Kalau dulu ingat Rasulullah hanya pada saat seremoni Maulid Nabi, kini rajin membaca shalawat sebelum berdoa. Jika dulu cuma puasa wajib di bulan Ramadan, sekarang ditambah puasa sunnah. Kalau dulu hanya memasukkan uang receh seratusan rupiah ke kencleng masjid, kini justru rajin berinfaq dan mulai membantu anak yatim buat dapat bersekolah…. Semua itu disertai dengan istighfar dan taubat, agar kita tak kembali ke masa lalu, masa jahiliyah.“

***

Saya dengar anak muda tadi berbisik pada rekan di sebelahnya, tapi kali ini tak bertanya,“Iya ya… Rasulullah dan para sahabat sendiri termasuk orang-orang nan berhasil hidupnya. Mereka berhasil berdagang, tapi lebih berhasil lagi kehidupan akhiratnya. Padahal sebelum masuk Islam, di antara para sahabat itu punya masa lalu nan kelam. Kunci suksesnya memang pada taubat. Rasulullah nan dijamin masuk surga pun, malah bertaubat seratus kali setiap hari (*).”

(*) Dari Agharr bin Yasar Al-Muzani, ia berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Wahai manusia! Bertaubatlah kalian kepada Allah dan mintalah ampun kepada-Nya, sebab sesungguhnya saya bertaubat kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali”. (HR. Imam Muslim)

Wallahu’alam bishshowab.

Frankfurt am Main, 9 November 2006

vitasarasi at yahoo dot com

Oase iman

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy