Tentang Embargo Kencing Berdiri

Tentang Embargo Kencing Berdiri

Assalamualaikum wr. Wb.

Semoga ustadz selalu dalam lindungan Allah SWT.

Ada hal nan mengganjal di hati aku sebagai seorang muslim, yaitu:

1. Apakah ada hadist/ayat al-Qur’an tentang embargo kencing berdiri?

2. Apa batas diperbolehkannya kita kencing berdiri?

3. Apakah dosa bagi orang nan melakukannya?Bagaimana cara buat Menghapus dosa tersebut.

Atas jawaban ustadz aku ucapkan terima kasih.

Wassalamualaikum wr. Wb.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Para ulama sejak dahulu telah berbeda pendapat tentang hukum kencing sambil berdiri. Ada sebagian nan mengharamkannya, namun sebagian lainnya membolehkannya dengan beberapa syarat, misalnya tak terkena air kencing itu ke celana atau pakaian.

Di dalam kitab Zaadul Ma’ad karya Ibnul Qayyim jilid 1 halaman 43 disebutkan bahwa dalam kebanyakan kasus, Rasulullah SAW kencing sambil duduk dan tak berdiri. Namun ada kalannya beliau kencing sambil berdiri.

Dalilnya ialah hadits nan diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, di mana beliau berkata,

قالت عائشة رضي الله عنها:‏ من حدثكم أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يبول قائمًا فلا تصدقوه ، ما كان يبول إلا قاعدًا

"Siapa nan bilang bahwa Rasulullah SAW kencing sambil berdiri, jangan dibenarkan. Beliau tak pernah kencing sambil berdiri."

Namun di dalam hadits nan lain nan diriwayatkan oleh Huzaifah dan dishahihkan oleh Al-Imam Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah kencing sambil berdiri.

Demikian juga dengan kasus beberapa shahabat beliau nan diriwayatkan pernah kencing sambil berdiri. Di antaranya ialah Umar bin Al-Khattab ra nan diriwayatkan oleh Zaid, "Aku pernah melihat Umar kencing sambil berdiri." Riwayat ini dishahihkan oleh para ulama.

Sebagian ulama mengatakan bahwa adanya riwayat nan shahih tentang Rasulullah SAW pernah kencing berdiri menunjukkan bahwa kencing sambil berdiri bukan perbuatan haram. Sebagian lagi mengatakan bahwa saat itu beliau terpaksa melakukannya. Dan sebagian lagi mengatakan bahwa kencing sambil berdiri akan melancarkan air seni.

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata bahwa Norma orang arab apabila air seninya kurang lancar ialah dengan cara kencing sambil berdiri.

Lepas dari motivasinya, nan jelas ada riwayat nan shahih bahwa Rasulullah SAW pernah kencing sambil berdiri. Padahal ada riwayat dari Aisyah nan menolak kebenaran bahwa Rasulullah SAW pernah kencing sambil berdiri.

Dengan adanya dua dalil di atas nan saling berbeda, makathariqatul-jam’i nan dilakukan oleh para ulama ialah bahwa apa nan dikatakan Aisyah ra memang benar, namun hal itu sebatas apa nan beliau ketahui di dalam rumah. Tidak ada agunan bahwa di luar rumah, Rasulullah SAW tak kencing sambil berdiri.

Sehinggapara ulama tak mengharamkan kencing sambil berdiri, namun mereka hanya memakruhkannya. Di antara mereka nan tak mengharamkan kencing sambil berdiri ialah Ibnu Hajar Al-‘Asqallani dan Al-‘allamah Syeikh Nasiruddin Al-Albani rahimahullah.

Al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam kitabnya, Fathul Bari, mengatakan bahwa tak ada satu pun hadits tentang embargo kencing sambil berdiri nan berderajat shahih.
Sdangkan Al-‘allamah Syeikh Nasiruddin Al-Albani rahimahullah mengatakan bahwa hadits nan berbunyi, "Janganlah kencing sambil berdiri" ialah hadits nan dhaif. Sehingga tak ada embargo buat kencing sambil berdiri bila tak risi terkena najis.

Demikian semoga informasi ini dapat menambah khazanah ilmu kita bahwa masalah kencing sambil berdiri ini termasuk perkara nan diperdebatkan hukumnya oleh para ulama.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Thaharah

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy